
Seorang wanita tengah terbaring lemah di sebuah ruangan dengan cahaya samar lampu dari jendela ruangan.
Tubuhnya ringkih dan tak berdaya akibat tekanan psikis yang ia terima.
Beberapa goresan luka memanjang di wajahnya nampak seperti mengerikan dan tak layak untuk di pandang.
Dita mengerjapkan matanya beberapa kali, matanya seketika memanas dan tak urung, air matanya luruh jua.
Siksaan macam apa ini?
Tidak ada rasa sakit yang demikian berarti dari tubuhnya, hanya perih yang menjalar di sisi pipi kirinya.
Dita membeku sesaat.
Luka? Di wajah?
Oh bagaimana mungkin?!?
Memejamkan kembali, meluruh kembali air mata itu. Bagaimana Dita bisa menjalani hari dengan wajah cacat?
Terlebih lagi, keluarga Adi Prama bahkan telah mencabut seluruh fasilitas yang selama ini ia nikmati.
Jangankan untuk Operasi plastik, untuk perawatan pun Dita tak yakin ia akan mampu menjalaninya.
Sejurus kemudian, mata Dita awas mengamati seluruh isi ruangan.
Gelap....
Hanya ada cahaya samar yang masuk melalui ventilasi jendela kaca berlapis besi.
Sungguh, Dita bahkan terasa seperti tahanan yang paling menyedihkan.
Tanpa keluarga, dan tanpa harta.
Tiba-tiba, batangan Gihana melintas di benaknya.
Nafas Dita tercekat saat itu juga.
Hana.....
Hana adalah satu-satunya keluarga yang ia punya saat ini. Namun, kara dengan suka rela telah menyerahkan Hana pada Daniel, pria yang telah menghancurkannya sembilan tahun silam.
Ini kah bentuk hukuman dari kara?
Bukankah kara berkata bahwa hal ini adalah bentuk dari cicilan air mata?
Itu pasti, akan ada banyak jejak penderitaan yang akan kembali Dita terima.
Mengerikan.....
Satu kata itu yang pantas di sematkan untuk Kara. Pria itu, dulu amat sangat Dita cintai.
Tapi kini, waktu seolah memperolok Dita atas kebodohannya karna telah berani mengusik kebahagiaan Kara.
Seharusnya, Dita menghentikan niatannya untuk memisahkan kara dari Hanum semenjak orang suruhannya kembali hanya kepala tanpa badan.
Tiba-tiba, pintu terbuka dari luar.
Seorang pengawal datang dengan raut wajah datar. Kedua tangannya membawa nampan berisikan sepiring nasi goreng tanpa ikan tanpa telur, beserta segelas air putih.
Sungguh, Dita merasa sangat menyedihkan saat ini.
"Bangun dan makan ini, nona".
Pengawal meletakkan nampan di atas meja kecil di sisi ranjang yang Dita tempati, sebelum kemudian berlalu pergi.
Dita diam, tak menanggapi, atau bahkan menyahuti.
Bagaimana ini? Haruskah Dita memakannya?
Namun, Dita tak ingin mati konyol karena tidak mendapat asupan makanan.
__ADS_1
Baiklah....
Kini, Dita harus mulai belajar menerima seburuk apapun keadaannya.
*****
"Ridha.....
Setelah ini, ikutlah papa ke ruang kerja papa.
ada beberapa hal yang ingin papa bicarakan berdua denganmu".
Radhi.....
Tiba-tiba muncul dan meminta Ridha untuk bicara.
Entah apa yang akan papanya bicarakan kali ini.
"Baiklah, pa. Sebentar, papa pergilah dulu, Ridha akan menyusul."
Radhi mengangguk dan tersenyum hangat, sebelum akhirnya pergi lebih dulu.
Dalam pikiran Radhi, ia perlu meluruskan sesuatu yang terlihat bengkok dari hidup putrinya. Sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab penuh atas putrinya, Radhi tak ingin putrinya salah langkah.
Setibanya di ruang kerja, Radhi mendudukkan dirinya pada kursi kebesarannya.
Menghela nafas. Sekali lagi, Radhi berpikir untuk menyusun kata-kata yang tepat untuk mengintrogasi putrinya.
Aridha.....
Anak itu adalah gadis yang pola pikir dan sikapnya sebelas dua belas dengan Kara.
Sensitif dan kewaspadaannya tinggi terhadap sekitar.
Berbeda dengan Luna, Ariana dan Arlan yang cenderung lebih suka kehidupan normal tanpa intrik dan kekuatan.
Pintu di ketuk pelan, dan Radhi memerintahkan Ridha masuk.
Wajah Ridha berbinar. Radhi tersenyum pada putrinya.
"Ayo duduk di sofa".
Radhi kemudian menuntun putrinya untuk duduk di sofa. Kemudian Meeka duduk bersebelahan dengan Radhi sedikit condong menghadap putrinya.
"Putri papa sudah besar rupanya.
Tumbuh cantik dan berwawasan luas.
Papa tanya, berapa usia Ridha sekarang?"
Tangan Radhi terulur mengusap pelan kepala putrinya. Senyum hangat yang selalu ia lemparkan pada anak-anaknya, kini terus terukur di bibirnya yang cukup sensual meski usianya tak lagi muda.
"Menuju dua puluh enam, tinggal menunggu beberapa bulan lagi".
"Apa di usia sebanyak itu, putri papa telah mengalami yang nama jatuh cinta?".
Deggg
Aridha sontak terkejut dengan pertanyaan papanya. Sungguh, ini di luar dugaannya.
"Ya. Pada sesosok pria yang mengagumkan".
Aridha menjawab dengan tegas dan mantap. Tak ada keraguan yang tersirat di matanya.
"Oh benarkah? Boleh papa tau siapa?".
Aridha mengernyitkan kening ketika papanya kembali melempar tanya.
"Apa papa memanggil Ridha kemari untuk membicarakan hal ini?".
"Ya. Tentu saja".
__ADS_1
Sejenak, Ridha menghirup nafas sedalam-dalamnya, kemudian melepasnya perlahan. Di perlukan kehati-hatian bagi Ridha untuk bicara dengan Radhi.
"Pada Alex Atmadja, pa."
Ridha menundukkan kepalanya. Ia was-was andai nanti papanya menentang perasaan yang ia miliki.
"Pria yang beberapa waktu belakangan selalu aku dekati, namun masih dalam skala normal dan aku tak melewati batasanku.
Alex.....
Pria itu yang mampu membuatku nyaman meski penolakannya terhadap kehadiranku seringkali aku terima darinya.".
Radhi tersenyum hangat sebelum kemudian, ia kembali melempar tanya.
"Apa yang putri papa sukai dari sosok Alex yang suka bermain wanita di masa lalu?".
Aridha mendongak, menatap papanya sekilas, kemudian melempar jauh pandangannya ke atas sana. Seperti tengah menerawang sesuatu.
"Dia pria yang mampu melakukan perubahan, pa. Tidakkah papa sadari itu?
Meski masa lalunya kelam untuk Masalah wanita, namun kini.....
Alex berubah lebih asik dan tak peduli pada wanita manapun.
Aku telah berulang kali mengunjunginya, namun seringkali ia abai terhadapku.
Bila ia masih bertahan dengan sikapnya yang buruk dalam memperlakukan wanita, tentu ia sudah pasti menyeret ku ke ranjang tanpa pikir panjang.
Tapi kali ini tidak, ia selalu menjaga diriku meski secara tak langsung".
"Lantas, bila kau di tolak, mengapa masih mendekatinya?"
"Karna aku mencintainya dan kami sama-sama tak terikat dengan siapapun dalam hubungan.
Aku tak berani berkata apapun perihal hal ini, karna aku tak memiliki hubungan yang lebih sekedar kawan bersama Alex".
Wajah Ridha mendadak mendung.
"Sayang, boleh papa memberi saran?"
Aridha mengangguk.
"Apa yang kau rasakan saat ini, dulu papa juga merasakannya. Tapi ingat, kau harus memikirkan Kemabli perasaanmu itu.
Papa tak mau putri papa jatuh cinta pada orang yang salah.
Bukan hanya perihal Alex sekarang miskin, berasal dari keluarga yang bobrok, ataupun reputasinya buruk di masa lalu tentang wanita.
Hanya saja......
Ini kedengarannya tak baik, sayang.
Cobalah mengalihkan hati, perasaan dan logikamu dari Alex.
Papa yakin, seiring berjalannya waktu, kau pasti bisa melabuhkan hatimu pada pria lain.
Atau........
Perlukah papa menjodohkanmu dengan putra dari kolega papa yang hidupnya lurus tanpa kebengkokan?".
Aridha menatap tak percaya pada papanya.
Maka...........
ππ»π»π»π
Yang mau cerita ini lanjut, kasi persembahan dulu lahπ
Berupa dukungan yang luar biasa contohnya.
Salam segalanya dari neng tia.β€οΈ
__ADS_1