
Langit malam nampak mendung malam ini. Desah angin yang berhembus perlahan, mengiringi rintik-rintik kecil riak air yang berjatuhan dari langit. Suhu bumi di ibukota nampak lebih sejuk dari biasanya.
Meski langit nampak mendung, Namun tidak dengan hati seorang gadis yang tengah duduk sendiri di sebuah taman kecil di halaman belakang. Senyum lembut tak pernah luntur dari bibirnya yang nampak sensual dengan level goda tingkat tinggi.
Aridha......
Nampak menikmati suasana malam syahdu ini.
Andai Alex ada di sisinya saat ini, mungkin kebahagiaannya akan terasa sempurna.
Sayangnya......
Radhi telah memenjarakannya di dalam rumah, hingga ia tak di perbolehkan kemana pun dan terpaksa mengurus pekerjaan kantornya di kamarnya saja.
Pikirannya tengah berkelana jauh memikirkan kejadian lima hari yang lalu, saat insiden kecil terjadi pada hari pernikahan Daniel dan Dita.
________
"Ya Tuhan astaga......
Om Alex dan Tante Ridha akan berciuman".
Suara Gihana membuat semua orang tercengang.
Alex memucat karna rasa takut dan segannya pada calon papa dan mama mertua. Aridha bangkit dari duduknya dan berusaha menjelaskan.
Sayangnya.........
Kode kedipan sebelah mata dari Kara membuat Aridha tak melanjutkan niatnya untuk memberikan penjelasan.
Dengan langkah ringan, Kara menghampiri adiknya. Memberi interupsi secara tersirat agar mengikuti langkah permainan kali ini.
Sayangnya, Alex tak mengerti dengan apa yang Kara maksudkan. Pria itu bahkan membeku di tempat dan karna mendapat tatapan tajam dari Jelita dan Radhi, sang calon mertua.
"Kau dan Alex..... Berciuman?".
Andai Kara bukanlah calon saudara ipar, mungkin Alex akan menyumpahi Kara dengan banyak kata-kata kasar saat ini juga.
Bagaimana mungkin pria seperti Kara peduli pada hal-hal sepele seperti semacam berciuman?
Anggukan samar dari kara dapat di lihat oleh Aridha saat itu. Maka, tanpa ragu, Aridha segera menjawab "Iya", dan mengangguk mantap.
Pendar mata Ridha nampak datar tanpa riak emosi apapun di dalam netra matanya.
Kara mengalihkan pandangannya pada Radhi yang berdiri tak jauh darinya, tepat bersisian dengan Jelita.
"Pa...."
Panggilan lirih itu Kara lontarkan pada sang papa.
"Kalau kalian sudah tak sabar untuk saling sentuh, mengapa kalian menunda waktu pernikahan yang papa tentukan saat itu?"
Suara Radhi terdengar dalam dan tegas. Alex bangkit berdiri dari tempat duduknya, wajahnya yang semula memucat, kini semakin nampak lucu di mata Ridha dan Kara.
"Sa... saya masih tak memiliki banyak uang untuk meminang putri anda, tu-tuan...
Sa....saya.... masih berusaha mengumpulkannya".
Bodoh.....
Itulah kata yang pantas Aridha sematkan pada calon suaminya ini. Bagaimana mungkin Alex tak mengikuti langkah permainannya? Sementara dirinya dan Kara telah menjalankan misinya kali ini?
"Bila masih tak siap karna faktor materi, mengapa kau melewati batasanmu?".
Tanya kembali terlontar dari Radhi.
Alex hanya menunduk tanpa menjawab.
Sedang Radhi, kini kembali menatap putrinya dengan sorot mata lembut.
__ADS_1
"Dan kau Ridha, mengapa melakukan hal itu?".
"Karna aku sudah dewasa... dan aku.... aku rasa aku memiliki cukup umur untuk melakukannya.
Jadi aku tak bisa bila tak menyentuh pria yang ku cintai? Mengapa, pa?
Apa aku terlihat tak normal karna melewati batas?
Bukankah normal bila lelaki dan wanita melakukannya?
Aku bukan lesbi dan Alex bukan gay".
Alex melotot ke arah Ridha yang memandangnya tanpa rasa berdosa.
"Baiklah."
Tatapan Radhi beralih pada Alma yang bergelayut manja di lengan Arlan yang nampak memperlihatkan wajah datarnya.
"Papa tau kau ahli dalam hal ini, Alma.
Cari wedding organizer yang handal dan professional, untuk membuatkan pesta pernikahan Alex dan adikmu, Ridha.
Secepatnya!!"
"Iya, pa" Jawab Alma seraya menahan tawa yang hendak meledak.
Titah Radhi tegas tanpa Sudi di bantah.
_______
Seperti orang gila, Aridha terkikik geli sendirian saat mengingat-ingat kejadian lima hari lalu.
Dirinya hingga tak sadar bahwa kini sebuah langkah ringan tanpa suara, tengah mendekatinya.
"Hei calon pengantin, kau sudah mulai gila, ya?"
Suara bariton Kara berhasil mengalihkan fokus Ridha kali ini. Kepala Ridha refleks berbalik dan menangkap siluet kakaknya tengah melangkah mendekatinya, mendudukkan tubuhnya di bangku memanjang di seberang Aridha.
Ungkap Ridha geli di sertai kekehan ringan. Saat ini, mereka tak tau saja bahwa Radhi tengah memperhatikan mereka.
Niatnya ingin mengekori putranya, namun langkahnya terhenti oleh instingnya, bahwa ia tak boleh terlibat lebih dulu dengan perbincangan kakak beradik ini.
Radhi tak ubahnya seperti penguntit yang sedang ada dalam persembunyian di balik pohon mangga.
"Dan si bodoh itu tak mengerti dengan kode yang ku berikan. Bayangan wajahnya yang pucat pasi itu, masih membekas dalam ingatanku".
Kara tertawa riang. Berbeda dengan Ridha yang mengerucutkan bibirnya sebal.
"Calon suamiku bukan orang bodoh. Titik!"
"Ya ya ya..... Orang yang sedang jatuh cinta terkadang memang tingkahnya menyerupai tingkah anak-anak kecil".
"Terserah padamu saja. Oh ya, mas.....?"
"Hm?".
"Terima kasih, karna kau telah membuat kebohongan sengaja untuk diriku saat itu. Andai kau tak melakukannya, papa tak akan mempercepat waktu pernikahanku dan mas Alex"
Aridha tersenyum puas penuh ketulusan.
Dulu.....
Aridha demikian membenci kakaknya karna kakaknya menentang hubungan romansa nya bersama Alex.
Namun kini......
Kebahagiaan tengah Ridha rasakan lantaran restu sang mama dan kakak lelakinya telah ia dapatkan.
"Ya, memang sepatutnya kau meminta maaf padaku".
__ADS_1
"Kau tau, mas? Mas Alex menggerutu dan marah padaku habis-habisan setelah kejadian itu. Saat di telepon, dia menumpahkan kekesalannya padaku.
Tetapi, saat aku menciumnya dari jarak jauh, dia bungkam dan tak melanjutkan prosesi marahnya itu".
"Oh, jadi.... ciumanmu kelemahan Alex ya?
Dasar kau tak tau malu".
"Biarkan saja. Aku tak peduli.
Kau saja bahkan sering berciuman dengan kak Hanum di sudut manapun rumah ini.
Bila aku tak tau malu, ingatlah bahwa kau pria yang cukup memalukan."
"Ya ya ya terserah kau saja".
Wajah Aridha berbinar penuh bahagia.
Kara bersyukur, kini.... pada akhirnya keceriaan dan kebahagiaan adik tersayangnya ini telah kembali.
Ucapan Radhi tempo hari memang benar.
Sesuatu yang dianggap tak baik olehnya dan sang mama, nyatanya anggapannya salah lantaran ia dan Jelita memandang Alex sebelah mata, hanya dari satu sudut pandang saja, dan tak melibatkan hati di dalamnya.
Aridha segera berhambur memeluk kakaknya. Ada rasa haru dan bahagia yang demikian membuat suasana sangat-sangat membaik saat ini.
"Oh, jadi kalian membohongi semua orang demi bisa mempercepat pernikahan dengan Alex?".
Baik Kara maupun Ridha sama-sama terkejut karena Radhi tetiba muncul dari arah pintu belakang rumah.
"Pa.... aku... aku...."
Aridha bangkit dari duduknya, menatap takut-takut pada sang ayah.
Dengan langkah pelan, Radhi menghampiri Aridha yang menunduk, meraih tubuh tinggi semampai Ridha yang seperti sang mama, membawanya ke dalam rengkuhan.
Memberikan kehangatan yang sejak Ridha kecil, selalu Radhi berikan.
"Papa menyayangimu, Ridha. Jangan ulangi lagi. Papa tak suka menerima kebohongan".
Dengan erat, Ridha balas memeluk sang papa.
"Ridha berjanji ini yang pertama dan terakhir Ridha melakukannya..... Andai tak terpaksa".
Radhi melepas pelukannya, menatap sang putri yang tersenyum jahil ke arahnya.
Dengan cepat, Kara menghampiri sang adik dan menggelitik pinggangnya. Sama seperti yang kara lakukan sejak kecil pada adik-adiknya. Di ikuti Radhi yang melakukan hal serupa. Hingga membuat Ridha geli dan kepayahan karna tawa.
Aksi canda mereka terhenti ketika suara dering ponsel Kara yang berbunyi nyaring.
Maka, Kara segera meraih ponselnya dan menerima panggilan. keningnya mengernyit ketika tak ada nama yang tertera di sana, hanya nomor asing yang ponselnya tampakkan.
"Halo....."
"Hai tuan Kara, Aku telah menahan orang kepercayaanmu, pemegang sebagian besar rahasia dan informasi mengenai perusahaanmu.
Seno.....
Berada dalam tawananku saat ini.
Bagaimana bila kita bertaruh demi kebebasan sekertarismu ini?".
Kara menegang.
ππ»π»π»π
Selamat pagi.....
semoga akhir pekan ini menjadi momen bahagia kalian bersama keluarga.
__ADS_1
Neng Tia β€οΈ kalian para readers setia yang udah dukung.
Selamat berakhir pekanπ