Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Obrolan dan makan siang


__ADS_3

Sudah sebulan berlalu semenjak malam yang Hanum lalui bersama Kara dalam pesta itu.


Kini, kara kembali bersikap biasa saja.


Seperti tak pernah ada yang terjadi antara dirinya dan Hanum.


Begitu pula dengan Hanum.


Kali ini Hanum larut bersyukur karna tak di keluarkan dari tempatnya bekerja karna telah lancang mengutarakan perasaan pada presiden direkturnya.


Namun, Siang ini, Seorang pengawal kepercayaan Radhi datang menyampaikan pesan untuk Hanum agar memenuhi undangan Radhi dan Jelita untuk makan siang.


"Selamat siang, nona".


Pengawal nampak menunduk dalam. Seorang pria berseragam uang nerusia berusia sekitar pertengahan empat puluhan, pengawal setia keluarga Radhi.


Hanum dan beberapa staf yang memenuhi kubilel-kubikel kerja para staf, melongo tak percaya Akan kehadiran sang pengawal.


"Aku?", tunjuk Hanum pada dirinya sendiri. Lantas ia melirik kanan dan kiri, meandakan gadis ini tengah di Landa kebingungan.


Kemudian, sang pengawal membimbing Hanum untuk menjauh dari sana.


"Tuan besar dan nyonya besar mengundang anda untuk makan siang di kediamannya. Berikut dengan beberapa hal yang perlu beliau-beliau utarakan pada anda.


Saya harap, anda memenuhi undangan tuan besar tanpa penolakan".


Ungkap sang pengawal ramah.


Hanum yang di perlakukan demikian hormat mendadak seperti kehilangan fokusnya.


Pun bukan pada sang pengawal, melainkan pada apa-apa yang hendak di bicarakan oleh Radhi.


Mungkinkah ini tentang Kara?


"Maksudnya, tuan besar itu..... Tuan komisaris dan istrinya?"


"Tentu. Dan tuan besar ingin anda hingga sore disana. Bahkan anda sudah di mintakan ijin pada atasan anda untuk masuk hingga sampai siang saja.".


Hanum tercengang beberapa saat hingga ia kembali bisa mengendalikan suasana.


"Em, baiklah, aku ikut saja".


Pengawal menunduk lega.


Hingga Sepasang netra mata milik Hanum, menangkap siluet sosok yang sebulan ini ia rindukan, namun Hanum hindari mati-matian.


Hanum membeku beberapa saat.


Jantungnya masih saja berdegup kencang tak beraturan.


"Apa yang kau lakukan disini?".


Tanya Kara dengan nada suara yang sangat dingin pada sang pengawal. Hanum sebisa mungkin menahan perasaannya. Ia lebih memilih bersikap biasa saja.


"Tuan besar memerintahkan saya untuk menyampaikan undangan makan siang kepada nona Hanum.......


Juga pada anda".


"Apa yang mereka rencanakan?"


"Saya tak mengetahui apapun, tuan muda.


Saya hanya menjalankan perintah".


"Baiklah, aku akan pulang."


Kara berlalu pergi meninggalkan Hanum yang membeku menatap punggungnya.


Sejujurnya, Kara menghindari Hanum sebulan ini, begitu pula dengan Hanum.


Ada perasaan yang mereka tekan hingga sedemikian rupa agar tak menimbulkan luka ke depannya nanti.

__ADS_1


Sejujurnya, kalau boleh diakui, baik Hanum maupun Kara sama-sama merasakan kerinduan yang membuncah.


Tentang Dita?


Tentu Kara masih saja melayangkan ucapan pedasnya setiap kali bertemu.


Hingga mereka sama-sama sampai di kediaman Radhi. Hanum terperangah menatap rumah megah bak istana milik Jelita dan Radhi.


Dan tentu Kara yang juga turun dari mobil nya sendiri menatap Hanum dengan sinis.


Kara berpikir bahwa Hanum sama dengan wanita-wanita lainnya.


Padahal, bila di teliti lebih dalam, justru sifat dan tingkah Hanum sangatlah bertolak belakang dengan wanita-wanita yang selama ini mendekati Kara.


"Se... selamat siang tuan.... nyonya".


Hanum datang dan menyapa Lita dan Radhi dengan canggung.


Jelita segera menghampiri wanita muda itu dengan menilai penampilan dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Kemudian menatap dalam netra mata Hanum, tanpa menjawab sapaan Hanum.


Tak lama kemudian, Jelita tersenyum dan memerintahkan Hanum untuk mengikutinya.


Jangan tanya bagaimana Hanum.


Ia sangat gugup luar biasa.


berbeda dengan Kara yang bersikap datar-datar saja.


"Selamat bergabung Hanum.


Jangan sungkan-sungkan.


Anggap lah saja makan di rumah sendiri.


Duduk dan makanlah. Setelah ini, Ada sesuatu dan beberapa hal yang perlu kita perbincangkan".


Hanum menjawab dengan gugup.


Pikirannya demikian tegang saat memperkirakan, hal papa yang membuat jelita memanggilnya hingga ke rumahnya.


"Selamat datang, Hanum".


Kali ini, Radhi bersuara.


"Ii iya terima kasih tuan.".


*********


Di sinilah mereka berada.


Di ruang kerja milik Radhi yang demikian luas, tapi dan bersih di lantai bawah.


Hanum sudah mulai bisa menyesuaikan diri. Tak segugup tadi.


Ia pun tak lagi menundukkan wajahnya.


Hanum merasa tak memiliki kesalahan, jadi untuk apa menunduk?


Apapun yang orang tua Kara katakan nanti, Hanum tak seharusnya takut.


Dalam kacamata penilaian Radhi dan Jelita, tentu sikap Hanum yang lebih tenang dan berani ini, menjadi nilai tersendiri.


Hanum.....


Ini lah sosok yang pantas mengimbangi sifat kara yang flamboyant.


Jujur saja, kebiasaan flamboyant kara, membuat kedua orang tuanya merasakan khawatir.


Itulah sebabnya mengapa Radhi mengorek segala informasi mengenai Hanum selama sebulan ini.

__ADS_1


"Kara, Hanum...... Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian".


Demikian lah Radhi mengawali percakapan kali ini.


Jelita yang duduk di sofa bersebelahan dengan suaminya, tersenyum penuh arti.


Entah rencana terselubung seperti apa yang mereka miliki. Kara mendadak was-was di buatnya.


"Aku melihat kau begitu tertarik pada putraku.


Dan aku melihat hal itu berdasarkan ketulusan yang juga menyala dalam netra matamu.


Maka aku, sebagai wali dari putraku yang angkuh ini, hendak melamarmu nanti kepada orang tuamu."


Radhi bicara tepat pada intinya tanpa basa-basi lagi.


Wajah Hanum mendadak pucat pasi. Keringat dingin mengalir di pelipis dan telapak tangannya yang mulai dingin.


Lidahnya terasa kelu meski hanya untuk berucap.


Berbeda dengan Kara yang sudah tegang serta wajahnya memerah menahan amarah.


Namun Kara sebisa mungkin untuk bisa mengendalikan diri agar tak emosi dan ikut bicara sebelum saat nya tiba.


"Sa.... saya....."


Hanum tak mampu menjawab. di liriknya Kara yang juga menatapnya dengan pandangan tajam, seakan mampu menebas leher dan kehidupan yang Hanum miliki.


Hanum tak takut. tidak.


Tentu Hanum merasa khawatir bila Kara menilainya sebagai wanita yang picik dalam mendapatkan Kara.


"Aku tak akan memaksamu untuk menjawab sekarang, Hanum.


Aku hanya ingin kau menyampaikan maksud kedatanganku nanti pada ibumu.


Bukankah ayahmu telah lama tiada?".


Hanum merasa tertekan saat Radhi kembali berkata.


Radhi telah tau segala sesuatu perihal dirinya.


Bukankah itu artinya............


Baiklah, Hanum harus bijak sekarang.


"Ta tapi maaf, tuan. Bukan maksud ku menolak. Tapi, Bukankah Tuan Kara tak memiliki perasaan apapun terhadapku?".


Kara seperti merasa tercubit hatinya saat mendengar kalimat Hanum.


Bukannya lega, Justru sisi hati Kara merasa tak nyaman mendengarnya. Pikiran Kara berjalan cepat.


Kara merasa tak salah lagi, pasti rasa ingin memiliki itu muncul secara alami dari dalam dirinya.


Maka, Dengan cepat tanpa menunda lagi, Kara mengungkapkan apa yang ia rasakan.


Dan rasa itu tak lebih dari rasa obsesi semat menurut Kara.


Kara yakin akan hal itu. Lagi pula, menikahi Hanum, bukankah itu artinya akan sangat menyenangkan dan melancarkan Kara untuk menyakiti perasaan Dita?


Radhi menatap lama putranya tanpa kata.


Ia yakin, bila putranya cukup cerdas mengambil keputusan.


"Siapa yang berkata bahwa aku tak menyukaimu? Dengar Hanum, Kau akan menikah denganku dan akan segera menjadi istriku.


Camkan itu baik-baik dan aku tak suka penolakan!!".


Radhi dan istrinya seakan merasa tak percaya mendengar pernyataan Kara yang di luar dugaan.


Bukannya menentang, Kara justru menerima hal itu.

__ADS_1


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2