
Di suasana pagi di kantor sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan, seorang pemuda gagah tengah berjalan anggun dengan mengenakan jasnya yang berwarna abu-abu tua. Lelaki itu menyusuri setiap ruangan yang sudah beberapa terisi oleh penghuninya.
Marcel Dinata.
Putra Inora dan Alex itu, bekerja di perusahaan Alex, ayah biologisnya. Meski berkali-kali ia mencari pekerjaan, tak juga mendapati pekerjaan yang ia inginkan. Alex selalu berkata, bahwa Marcel tak boleh menghindari apa pun yang hendak diberikan Alex.
Rasa bersalah akibat dosa di masa lalu, membuat Alex merasa bahwa apa pun yang ia berikan terhadap Marcel, masih belum cukup sebagai penebusan dosa.
Beruntung, Aridha, istri dari papanya Marcel itu tak memiliki sifat jahat dan tamak. Ridha selalu mengutamakan anak dalam segala hal. Baginya, putra Alex adalah putranya juga. Ridha sadar, ia tak bisa memberikan Alex keturunan laki-laki, lantaran ia tak akan bisa mengandung lagi usai mengalami kecelakaan.
"Marcel, jangan lupa untuk rapat dengan petinggi perusahaan pukul satu siang usai makan siang. Jangan terlambat makan siang agar rapatnya tak ditunda." Ucap Alex yang baru saja tiba, dan berpapasan dengan Marcel.
Lelaki berperawakan tinggi tegap dengan wajah rupawan bak malaikat itu, mengangguk pada Alex. Marcel termasuk lelaki yang selalu irit bicara dan irit senyum. Lelaki itu hanya akan mudah bicara dan tersenyum, pada keluarga terdekatnya saja. Bahkan hingga kini, Alex pun masih tak mendapat tempat sepenuhnya di hati Marcel.
"Baiklah." Jawab Marcel sambil berlalu begitu saja menuju ruangannya. Menduduki jabatan sebagai Executive Asst Manager, serta memiliki wajah yang pembawaannya tegas, membuat Marcel banyak dilirik para gadis yang bekerja disana.
"Maaf, tuan. Pagi ini mau aku buatkan teh, kopi, atau apa?" Tanya seorang gadis yang berprofesi sebagai office girl pada Marcel.
"Buatkan aku kopi pahit saja. Oh ya, beri sedikit gula, jika terlalu pahit, tambahkan saja sedikit lagi gulanya." Ucap Marcel yang mendudukkan tubuhnya pada kursi kebesarannya.
Office girl dengan nama Lusi pada id cardnya itu, hanya mencebikkan bibirnya beberapa kali. Sudah hal yang biasa, Marcel sering kali meminta minuman yang menurut Lusi, itu terlalu aneh. Tak jarang juga, bahasa Marcel terlalu bertele-tele.
"Apa perlu saya tambahkan bubuk kopi juga kalau kurang pahit, tuan?" Lusi dengan berani menatap Marcel.
Begitulah mereka selama beberapa bulan ini, di setiap pagi jam kerja, selalu sindir menyindir dan saling melempar kalimat kebencian.
__ADS_1
"Kau mau mati, ya?" Tanya Marcel dengan menatap tajam Lusi.
"Tidak. Tapi sepertinya tuan yang perlu saya buat mati karena banyak permintaan yang aneh-aneh." Lusi berlalu pergi begitu saja dari sana, meninggalkan Marcel yang tersenyum simpul menatap kepergian Lusi.
Dengan gerakan cepat, Lusi menyajikan kopi untuk Marcel di ruang office kitchen. Gadis itu sebal bukan main, karena Marcel yang suka minta yang aneh-aneh. Pernah saat Lusi pertama kali membuatkan Marcel kopi, Lusi sampai membuat empat kali kopi, karena rasanya tak seusai selera Marcel. Lusi mengutuk Marcel menjadi batu seketika.
Pintu ruangan Marcel diketuk dari luar oleh Lusi. Setelah mendengar perintah agar Lusi segera masuk, Lusi membuka pintu dan menyajikan kopi di meja sebelah Marcel.
"Silahkan, tuan." Ucap Lusi.
"Tunggu dulu, Lusi. Jangan kemana-mana. Biarkan aku menyicipi kopinya, sebelum kau berlalu pergi. Aku takut kau mencampurkan sesuatu pada minumanku." Tandas Marcel dengan tatapan tajamnya. Tentu saja Lusi semakin emosi dibuatnya.
"Campuran apa? Jangan bicara yang tidak-tidak, tuan Marcel yang terhormat. Aku tak mungkin mencampurkan zat sianida ke dalam kopimu." Sahut Lusi.
Seperti biasa, Marcel tak menanggapi. Diantara banyak office girl, Entah mengapa Marcel meminta pada divisi terkait, bahwa ia ingin dilayani Lusi setiap kebutuhannya di kantor. Agaknya, Lusi dipilih Marcel, hanya untuk membuat Lusi tersiksa. Marcel suka Lusi yang pemberani dan tak takut padanya. Hanya Lusi lah yang tak pernah mengeong manja iada Marcel, berbeda dengan gadis kebanyakan.
"Bukankah tuan minta kopi pahit, dengan sedikit gula. Jika terlalu pahit, aku harus menambahkan gula sedikit, dan jika terlalu manis, aku harus menambah bubuk kopi lagi. Maaf, tuan. Jangan salahkan aku, aku hanya menjalankan perintahmu." Jawab Lusi dengan suara santai. Wanita itu menatap Marcel dengan mata yang menyipit tajam.
"Astaga, kau menjalankan metode konyol itu? Aku menyarankanmu begitu, semata agar kau mencicipinya lebih dulu. Ini . . . terlalu kental." Ungkap Marcel. Lelaki itu menggeleng.
"Maaf, tuan. Otakku tak secerdas itu. Aku juga tak secantik karyawan lain. Aku tak berpikir hingga kesana." Apalah yang bisa Lusi lakukan selain merendah dan meminta maaf? "Aku meminta maaf. Aku akan membuatkan yang baru untukmu."
"Tidak perlu. Ini saja sudah lebih dari cukup. Kurasa ini sudah sangat nikmat." Tukas Marcel kemudian untuk menyenangkan hati Lusi. Sayangnya, Lusi terlanjur buruk pikirannya tentang Marcel.
"Jadi, kopi buruk rasa kau bilang nikmat? Kau menghinaku, ya?"
__ADS_1
"Jangan menghardikku, ingat, aku majikanmu disini, kau berani padaku, artinya kau siap kehilangan pekerjaanmu." Tukas Marcel kemudian. Ia sengaja menggertak Lusi, karena Lusi butuh uang besar saat ini, untuk biaya kontrakan rumahnya yang menunggak.
Lusi hanya diam tak menyahut. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya karena sadar, ia terlalu banyak bicara terhadap atasan yang menyebalkan itu.
"Aku menawarkan pekerjaan untukmu, kau butuh pekerjaan tambahan, tidak? Aku juga akan memberikan honor besar untuk pekerjaan ini. Bagaimana?" Ucap Marcel kemudian.
Lusi tampak terdiam di tempatnya, memikirkan banyak hal yang ia pertimbangkan. Selain ia butuh uang untuk membayar kontrakannya yang menunggak, Lusi juga butuh uang untuk membiayai sekolah adiknya yang masih kelas enam sekolah dasar.
Biaya kelulusan dan masuk ke sekolah menengah pertama, tentunya butuh uang tak sedikit bagi Lusi. Baiklah, Lusi agaknya sudah cukup waktu untuk berpikir dan menimbang segalanya.
"Baiklah, tuan. Aku akan menerimanya jika itu tak terlalu sulit bagiku, dan aku mampu melakukannya."
Marcel takjub dengan keberanian Lusi yang saat ini menatapnya. Agaknya, himpitan ekonomi yang membuat Lusi nyaris tercekik, membuat Lusi rela melakukan apa saja.
"Baiklah, temui aku di jam makan siang, nanti. Kita bicarakan semuanya dan aku harap, kau benar-benar pintar memanfaatkan situasi. Temui aku pukul dua belas siang di sini. Jangan lupa juga, pesankan aku makan siang di kantin saja, dan antar kemari." Tegas Marcel kemudian.
Tentu saja, Lusi masih dilanda penasaran dan enggan untuk meninggalkan ruangan, bila Marcel tak memberi tahu, pekerjaan apa kiranya yang hendak Lusi lakukan.
"Memangnya, pekerjaannya apa ya, tuan?" Tanya Lusi dengan penasaran.
"Nanti kau akan tahu. Sudahlah, jangan banyak bertanya, yang penting kau sanggupi saja. Ini tak berat. Tentu saja bayarannya lebih besar dari gajimu disini."
"Baik, tuan."
"Ya sudah, pergilah. Sampai jumpa nanti pukul dua belas siang."
__ADS_1
Lusi mengangguk, meninggalkan Marcel yang tersenyum-senyum sendirian. Sekelebat bayangan senyum, menari dalam kepalanya.
Untuk pertama kalinya, Marcel jatuh cinta setengah mati pada seseorang, seseorang yang Marcel minati dengan sangat tinggi. Sayangnya, gerak-gerik Marcel sudah terbaca oleh Alex. Beberapa hari terakhir, Marcel memang diawasi oleh Alex dan Aridha.