Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Lorong rindu


__ADS_3

"Papa".


Hanum menunjukkan binar mata yang murni.


Ada kebahagiaan tersendiri seketika, ketika Radhi melihat senyum cerah tercetak di wajah pucat Hanum, menantunya.


"Nak, bagaimana kabarmu?".


Radhi mendekat dan Hanum memeluk mertuanya sejenak. Ada rindu yang mengusik hatinya saat Radhi pergi dan beberapa hari tak mengunjunginya.


Usai melepas pelukannya, Radhi segera menatap lekat perut Hanum yang mulai terlihat sedikit berisi.


"Bagaiman kabar calon cucu papa, nak? Berapa usianya sekarang?"


Jemari Radhi terulur mengusap lembut perut menantunya penuh sayang.


"Dokter berkata baik, pa. Hanya saja, morning sickness nya setiap pagi dan malam tetap terjadi hingga saat ini. Usianya sudah hampir memasuki bulan ke empat".


"Oh, ya Tuhanku..... Jadi, berapa lama kau terpisah dari suamimu?"


"Satu setengah bulan".


Hanum menunduk dan murung. Kesedihan jelas terasa auranya.


Hanum.....


Wanita itu selalu menabung rindunya pada bejana cinta di hatinya.


Entah kapan tiba waktunya untuk bertemu? hingga bejana itu kini serasa penuh dan tak sanggup menampung rindu.


Setiap saat, Hanum menghabiskan waktunya dalam ruang rindu yang tak berkesudahan, dan mengeja sebuah rasa, pedihnya terpisah dari pria yang telah merenggut hatinya secara penuh.


"Satu bulan.....


Satu bulan lagi, tetap bertahanlah....


Suamimu tentu akan merasa sangat bahagia saat bertemu nanti, ketika kerinduannya tertampung penuh di hatinya.


Percayalah....


Satu bulan lagi masalah suamimu akan usai. Maka, saat itulah.....


Menantu kesayangan papa ini akan segera berjumpa kembali dengan putra papa yang bodoh itu".


Ucap Radhi lembut menenangkan.


"Jangan menyebut mas Kara bodoh lagi.


Dia suamiku, pa. Aku tak terima sekalipun papa dan mama yang menyebutnya bodoh.


Dia cintaku, dia segalanya untukku".


Balas Hanum dengan wajah cemberut.


Kedua tangannya Hanum lipat di dada. Wajah pucatnya, menunjukkan ketidak terima'an terhadap kata yang Radhi ucapkan.


Tiba-tiba, Radhi teringat akan ucapan dokter yang menangani keadaan Hanum ketika di pulau ini.


'Wanita hamil memanglah sangat sensitif, tuan.


Di saat nyonya Kara ini merasa terusik, tentu ia akan mudah marah....


Terlebih, suami tak ada di sampingnya. Tentu itu menjadi tekanan tersendiri baginya.


Dalam fase ini, peran suami sungguh sangat penting sebenarnya, untuk menunjang semangatnya agar tetap tumbuh setiap hari'


Ucapan dokter seketika kembali terngiang dalam benak Radhi.

__ADS_1


Dalam hal ini, tentu Radhi semakin merasa bersalah telah membuat menantunya tertekan hingga demikian dalam.


"Oh baiklah, suamimu yang tampan".


Wajah murung Hanum, kini mendadak cerah kembali. Melihat hal itu, tentu Radhi merasakan bahagia.


****


Hari berganti, waktu kian terasa kian bergulir cepat.


Namun tidak demikian dengan Kara, dirinya seolah merasakan waktu berputar dengan lambat saat ini. Ketiadaan istrinya meninggalkan jejak yang mendalam.


Ia semakin tepuruk dalam kehampaan.


Kepergian Hanum, sungguh sangat membuat Kara merasakan hari-hari nya kosong tanpa tujuan.


Setiap harinya, kara tak pernah absen mengunjungi Dita yang ia penjarakan di ruang khusus dengan penjagaan ketat para pengawal pilihan milik jelita.


Hari-hari Kara habiskan dengan memberi tekanan psikis pada Dita saat Hanum kembali membayangi pikiran Kara.


Dosakah Kara?


Tidak. Kara tak pernah merasa berdosa meski ia telah menyiksa Dita hingga sedemikian rupa.


Baginya, ia lebih menderita ketika Hanum pergi jauh darinya tanpa kabar.


Hari ini.......


Adalah bulan kedua Kara tanpa Hanum.


Kara semakin kejam saja pada siapapun yang memancing amarahnya.


Tidak peduli pelayan, pengawal, bawahannya di kantor, atau siapapun itu......


Seperti saat ini.....


Seno di buat meneguk salivanya sendiri dengan susah payah, ketika Seno di ajak Kara untuk mengunjungi Dita.


Kara yang biasanya memberi tekanan batin dan psikis saja saat mengunjungi Dita, kini Kara dengan tega menampar Dita beberapa kali hingga wajahnya lebam-lebam, nyaris tak bis di kenali.


Kemudian, Kara menyuruh dua pengawal yang terkenal kejam untuk meremukkan tulang kedua kaki Dita.


Tak peduli........


Kara tak peduli dengan ke-bringasannya meski Dita telah tak berdaya dalam kuasanya.


Bagi Kara, kerinduannya pada Hanum yang demikian besarlah yang membuat kara semakin memupuk kebenciannya pada Dita.


"Patahkan, kalau perlu remukkan sekalian agar ia tak bisa lagi berjalan.


Setelah wajahnya rusak, aku mau kakinya lumpuh untuk selamanya.


Bila dalam waktu seminggu istriku tak juga kembali, aku bersumpah akan mecongkel matamu dengan tanganku sendiri.


Aku tak peduli dengan apapun yang aku lakukan padamu. Bagiku, aku lebih menderita saat Hanum tak lagi di sisiku.


Semakin aku merindukan istriku, maka akan semakin kejam aku menyiksamu di bawah kendaliku, Dita".


Mata Kara menoleh ke arah pengawal, kemudian beralih pada Dita.


Menyaksikan Dita menangis meraung dengan jerit khas pilu, membuat Kara merasa luar biasa puas.


"Aku... ssaakkkiiiiiiiitt mas Kara....... sakkitt".


Rintihan dan jerit kesakitan ditta kian jelas.


Menyaksikan ini, Seno tak juga tega sebenarnya.

__ADS_1


Hingga kemudian dokter yang biasanya menangani Dita datang, Kara mengajak Seno untuk pulang ke kediamannya.


"Bagaimana perkembangan Kara, Seno?".


"Tu.....tuan muda?"


"Ya....".


"Kami baru pulang dari kunjungan pada nona Dita. Tapi......"


"Tapi apa, Seno? Katakan saja".


Perintah Radhi dengan wajah datar. Ada banyak emosi yang bisa Radhi sembunyikan dalam jiwanya rapat-rapat.


"Tuan muda telah meremukkan tulang kaki nona Dita. Bahkan..... Tuan muda nyaris membuat wajah nona Dita tak berbentuk dengan banyak tamparan keras, tuan".


Ungkap Seno lirih saat ia berada di ruang kerja Radhi di kediaman Praja Bekti.


Wajah Radhi menggelap. Andai ia tak pandai menyembunyikan emosinya, tentu Radhi telah berjengit kaget saat itu juga.


Selama ini, Radhi berpikir bahwa Kara hanya memberikan tekanan psikis pada Dita seperti yang Dita lakukan terhadap Kara.


Namun.....


Untuk membuat tubuh Dita porak poranda, jelas berada jauh dari asumsi Radhi selama ini.


"Lantas, bagaimana kabar Dita, sekarang?"


"Sedang dalam penanganan dokter Antonio saat ini, tuan.


Tadi..... tuan muda sempat berkata bahwa, bila dalam seminggu nyonya muda tak juga di temukan, Tuan akan mencongkel mata nona Dita dengan tangan tuan sendiri".


"Baiklah, kembalilah pada tuan mudamu, Seno".


Radhi tak habis pikir dengan kekejaman putranya yang luar biasa buas.


Mungkinkah cinta bisa mengubah seseorang yang rapuh menjadi liar dan tak bisa di kendalikan?


'Ini tak bisa di biarkan'


Batin Radhi.


Jelita masuk usai kepergian Seno, wajahnya juga ikut menggelap.


"Mas, aku mendengar pembicaraan kau dan Seno".


"Ya. Ku pikir, ini telah di luar batas."


"Lantas, bagaimana bila menantu kita tak bisa kita temukan dalam seminggu ini?"


Radhi menatap lekat istrinya tanpa berekspresi. Sejujurnya, ia ingin mengatakan yang sejujurnya pada Jelita.


namun tidak. Biarkan saja istrinya itu dalam ketidak Tahuan.


Nanti.... bila saatnya tiba, Radhi akan membawa Hanum kembali ke dalam keluarga ini.


Di ruang kerja pribadi, Kara tengah diam seorang diri dengan berjuta pikiran yang terasa tak nyaman.


Menekuri jalan pikirannya yang tak jua keluar dari lorong rindu yang membentuk labirin dengan banyak lika-liku.


🍁🌻🌻🌻🍁


Yang mau aku up banyak-banyak......


Jangan lupa vote ya, komen banyakin buat masukan dan ilmu tambahan buatku.


jangan lupa like juga di tiap part-nya....

__ADS_1


Terima kasih semua yang udah dukung, karyaku bukan apa-apa tanpa dukungan dan hadiah kalian🥺


Salam segalanya dari neng Tia❤️❤️❤️


__ADS_2