Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Restu sang papa


__ADS_3

"Skor kita 1:1 papa. Artinya..... sama".


~Pary sebelumnya~


Radhi mengerjapkan mata beberapa kali ke arah tangga, menatap punggung sensual milik istrinya yang kian menjauh.


Ia terperangah hebat dan menganggap ucapan Kara hanya angin lalu.


Tak jauh darinya, Aridha yang duduk tak jauh dari Kara terkikik dan saling ber-tos ria.


Sedang Hanum, wanita itu terlihat prihatin dengan apa yang baru saja Radhi alami.


"Pa, emm...... aku....."


Radhi mengalihkan pandangannya pada menantunya.


"Sudah, tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Sekarang, kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah. Kau pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh".


Senyum Radhi mengalirkan kehangatan, wajahnya nampak menyiratkan kebapakan.


Tak heran bila tak ada seorang dari anak-anaknya yang membencinya,semua demikian hormat dan mengidolakan sosok sang papa.


"Emmm sepertinya ide papa bagus sayang, Ayo kita ke kamar".


Kara berdiri dan menarik pelan pergelangan tangan istrinya.


Senyum tak pernah luntur di bibirnya yang yang merah merekah.


Usai kepergian Hanum dan Kara, Aridha segera berpindah tempat ke tempat Radhi, duduk bersebelahan dan bergelayut manja di lengan papanya. Radhi tersenyum, menahan gejolak hatinya yang protes karna harus bermalam tanpa istrinya di sampingnya.


"Pa, tenanglah.... Aku tau papa menyembunyikan emosi di depan semua anak-anak papa. Mungkin, kak Hanum tak bisa membaca pikiran papa.


Tapi tidak denganku dan si bos Kara itu.


Ini......


Nampak seperti kiamat kecil bagi papa, bukan?"


Aridha mengerjapkan mata beberapa kali di hadapan papanya.


Radhi merasa jengkel sendiri bercampur gemas di buatnya.


Jemarinya kemudian terulur untuk menjewer kecil telinga putrinya yang manja, namun tangguh itu.


"Kau masih berani meledek papamu ini, hm?"


"Aw aw... papa... ssaakkkiiiiiiiitt".


Kemudian Radhi melepas jewerannya, ia kemudian menatap lekat putrinya.


Mimik wajahnya nampak serius, tak ada candaan sama sekali.


"Bagaimana perkembangan hubungan mu dan Alex, sayang?".

__ADS_1


Wajah Aridha berbinar. Matanya menyala penuh semangat dan bibirnya kian lancar menjelaskan perkembangan hubungannya bersama Alex.


Awalnya, Radhi tak yakin akan memberikan restu andai mereka menjalin hubungan.


Tetapi kini, Radhi seperti berada di persimpangan jalan.


Antara harus mendukung dan merestui, atau menentang keras hubungan mereka.


Untuk kebahagiaan anak-anak nya, Radhi mampu menoleransi hal terburuk sekalipun.


Namun bila Alex, Radhi takut suatu hari nanti Alex akan mempermainkan Aridha, mengingat bagaimna reputasi Alex selama ini mengenai wanita.


"Baik, pa. Papa dengarkan aku, entah mengapa, semenjak perbincangan ku dengan ibu Sundari, nyonya Atmadja itu dua bulan lalu, Alex berubah lebih asik padaku, sikapnya menghangat dan ia jauh lebih menerima keberadaanku seperti sebelumnya.


Katakanlah........


Sikapnya lebih manusiawi ketimbang waktu itu."


"Oh benarkah?".


"Ya. Dan yang lebih mengharukan lagi, dia seperti sedang menjagaku mati-matian. Meski sifatnya nampak menjaga jarak, tetapi aku tau ia sedang menawarkan perlindungan secara tak langsung.......


Aku....... nyaman berada di dekatnya, pa".


Cerita Aridha mengalir begitu saja mengingat kejadian beberapa waktu lalu.


Waktu itu.........


"To....tolooong....."


Selama ini, Aridha selau nampak pemberani dan kuat. Tetapi kini sayangnya, ia teramat takut luar biasa terhadap binatang melata ini.


Bagi Aridha, menghadapi pengawal-pengawal yang terlatih lebih menyenangkan di bandingkan harus menghadapi seekor ular berbisa. Aridha siap mati kapan saja saat itu.


Beruntung, lokasi keberadaannya saat ini tak jauh dari bengkel milik Daniel dan Alex.


Di sisi lain, Alex dan Daniel seperti tengah mendengar seseorang yang menjerit tertahan dengan meminta tolong.


Dengan sigap, Alex setengah berlari menghampiri sumber suara.


"Nona......"


Aridha berdiri dengan wajah pucat pasi.


"Tenanglah, nona.... Tidak akan terjadi sesuatu.


Tetap tenang di tempatmu dan jangan bergerak lebih agar tak memancing ular itu.


Dengar, aku akan memancingnya agar mendekat ke arahku, setelahnya........


Larilah dari sini."


Aridha mengangguk samar.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat, Alex segera mengalihkan perhatian ular itu. Berteriak pada Ridha agar menjauh.


"Lari nona.......".


Radhi memperhatikan kesungguhan yang putrinya ungkapkan.


Sejenak, kegundahan yang tadi menyiksa batin Radhi, kini meluap pergi.


Radhi dilema.


Antara harus membahagiakan sang putri dengan memberi restunya, atau menentang perasaan putrinya demi masa depan yang lebih bagus.


"Aku bahagia, pa. Sangat bahagia.


Andai aku meminta sesuatu pada papa, mungkinkah papa akan mempertimbangkannya?".


Radhi tau kemana arah pembicaraan putrinya kali ini.


Aridha, gadis itu akan menerima apapun mati keputusan papanya.


Saat ini, ia hanya ingin menuntaskan rasa ingin tahunya dengan bertanya pada sang ayah.


"Putri cantik papa mau apa, hm?".


"Andai suatu saat nanti, Alex memiliki perasaan yang sama sepertiku karna intensitas pertemuan kami yang bisa di bilang sering......


Maukah papa memberi restu pada kami?


Aku ingin segera menikah dan itu bersama pria yang ku cintai.


Seperti mas Arlan dan kak Alma......


Seperti Kak Ariana dan mas Anton.....


Seperti mas Kara dan kak Hanum yang cantik....


Aku ingin bahagia dengan caraku, pa"


Lirih Ridha saat itu. Radhi menghela nafas pelan.


Sebagai seorang ayah, Radhi tentu di tuntut untuk bijak dan tegas dalam mengambil keputusan. Namun di sisi lain, ada perasaan putrinya yang ia pertaruhkan.


"Papa..... Ingin yang terbaik untuk putri papa.


Bila Ridha bahagia, papa akan ikut bahagia tentunya.


Bila kau meminta restu, papa akan merestuinya, asal Alex tak mempermainkan mu. Akan tetapi......


Kau bukan hanya membutuhkan restu papa, melainkan juga butuh restu mama dan saudara-saudari mu.


Berdoalah, semoga semua merestuimu suatu saat nanti".


Ridha terharu. Kedua tangannya ia selipkan di pinggang papanya. Ia menangis dalam dekap hangat kasih sayang seorang papa.

__ADS_1


"Terima kasih, pa. Terima kasih."


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2