
Suasana kediaman Adi Prama saat ini diwarnai dengan kehangatan dan penuh tawa bahagia. Malam ini, Chandra sengaja mengundang keluarga kakaknya untuk makan malam bersama.
Keluarga Radhi datang membawa oleh-oleh untuk keluarga Adi Prama. Arlan dan istrinya, Alma, serta Ariana dengan suaminya, Anton, menyambut antusias mama Lita dan papa Radhi.
Kedua keluarga ini benar-benar diliputi kebahagiaan yang tak terkira. Namun, ada yang berbeda dengan seseorang yang berdiri di sudut ruangan.
Hana duduk di sebelah Dita yang tengah berbincang dengan Aridha. Keduanya seolah tengah hanyut dan bernostalgia dengan masa lalu mereka yang berkonflik. Kini, Dita telah berubah dan banyak memberikan kecerahan untuk keluarga Chandra.
"Apalah diri ini, Ridha. Kau tahu sendiri, aku memiliki kesalahan di masa lalu yang tak bisa dimaafkan. Hanya saja, beruntung Kara memberikan toleransinya." Ucap Dita sambil menatap Ridha yang terkekeh.
"Ya. Kesalahanmu cukup fatal kurasa. Semoga saja, itu tak sampai menurun pada anak cucu kita." Ridha melirik Hana sekilas. Hanya saja, Hana tak cukup peka dengan situasi ini.
"Ya Tuhan, kau ini bilang apa? Aku tak pernah menginginkan hal menjijikkan itu menjadi warisan pada anak turunan kita. Lupakan, aku masih didera rasa tak nyaman setiap kali harus membahas hal itu."
"Takdir siapa yang tahu, Dita? Oh ya, aku belum sempat minta maaf padamu tentang masa lalu, yang telah membawa kabur Hana karena perintah kak Kara." Ungkap Aridha.
__ADS_1
"Oh, tak perlu. Aku rasa aku sudah memaafkan dirimu jauh-jauh hari." Tatapan mata Dita beralih pada sesosok yang menghampirinya dan Ridha.
"Hai, kak Alma." Dita menyapa Alma yang saat ini datang dengan perut buncit. Alma memiliki satu putra yang berusia sekitar dua puluh tahun, namun sebuah kejutan, ia hamil lagi bahkan putranya sudah mulai beranjak dewasa.
"Hai, Dita. Apa kabar?" Tanya Alma dengan senangnya.
"Kau bertemu denganku setiap hari, namun kau menanyakan kabarku sekarang. Kau ini aneh." Sungut Dita dengan raut bercanda.
"Ayo, aku akan membawamu. Daniel dan mas Arlan ingin mengajakmu berbincang." Tatapan mata Alma beralih pada Ridha. "Ridha ,tak apa jika aku membawa Dita?" Tanyanya kemudian.
"Baiklah, ayo Dita." Alma membawa Dita dengan mendorong kursi rodanya, meninggalkan Aridha yang ingin bersenang-senang malam ini.
"Hana, kudengar di kantor om Chandra, kau sedang disukai banyak pria. Benarkah?" tanya Aridha kemudian.
Tentu saja Hana hanya diam dan menunduk. Dengan Aridha, Hana tak berani berulah, maupun bertingkah sedikit pun.
__ADS_1
"Ya, Tante. Hanya saja, aku masih tak memikirkan hal itu."
"Mengapa? Kau saat ini tengah menyukai seorang pria beristri?" tanya Aridha telak, membuat Hana memicingkan matanya.
"Apa? Oh maksudku, mengapa tante Hana bicara begitu?" Tanya Hana sedikit gugup. Pertahanannya yang sejak tadi, seolah nyaris runtuh seketika.
"Aku tahu semuanya, bahkan siapa yang sedang menjadi impianmu, aku tau dari akar hingga ranting pohon paling tinggi." Lagi dan lagi, Hana merasa terkejut seketika.
"Lalu, apa yang Tante mau?" Ucap Hana seketika.
"Tak ingin apa pun lagi, aku hanya ingin, kau segera sadar sebelum kau benar-benar mampu membuat Aksa jatuh cinta. Ingat hana,kau bukan tandinganku, maupun tandingan kak Kara. Andai pun nanti kau tetap nekat, aku bisa menebak bahwa kak Kara sendiri yang akan menghukummu." Aridha bangkit dan berlalu pergi dari tempat duduknya.
Hana semakin dilanda penasaran, bagaimana pewaris Praja Bekti itu bisa membuat Hana terancam?
**
__ADS_1