
Sepagi ini, Aksa dibuat kewalahan dengan permintaan Yasmin. Sudah dari semalam, Yasmin tak mengizinkan Aksa keluar kamar barang sebentar saja. Entah mengapa, Yasmin selalu merengek dan meminta Aksa merebah di atas ranjang bersamanya.
"Oh ayolah, Yasmin. Jangan kekanak-kanakan. Aku tak ingin terlambat ke kantor lagi hari ini. Oma bisa mengomeliku sepanjang hari, nanti." Ungkap Aksa. Tangan kirinya masih dipeluk erat oleh Yasmin.
"Kumohon liburlah hari ini. Kau tak tahu, bagaimana rindunya jika kau tak ada di sampingku. Berada di rumah sangat membosankan. Oma bahkan melarangku melakukan pekerjaan rumah. Kau, kau juga akan berangkat ke LA dua hari lagi. Apa aku salah jika aku ingin menghabiskan waktu denganmu kali ini?" Tanya Yasmin.
"Ya, begini saja. Bagaimana jika kita turun ke bawah bersama? Aku akan meminta opa memberiku libur saja." Ungkap Aksa.
"Ya, baiklah." Yasmin mengikat rambutnya asal. Setelan piyama bermotif dan berwarna serupa dengan Aksa, membuat suasana hatinya berbunga-bunga pagi ini.
Setibanya Aksa dan Yasmin di bawah, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Dita dan Daniel, tengah berbincang dengan Alex.
"Hai, Aksa. Hai Yasmin. Tumben di jam seperti ini kalian masih santai?" Tanya Daniel yang memang selalu bersikap hangat dan biasa saja pada Aksa.
"Entahlah, om Daniel. Yasmin tiba-tiba seperti bayi yang tak mau ditinggal sebentar saja." Ungkap Aksa.
"Oh, apa Yasmin sedang hamil?" Tanya Dita yang ikut menimpali.
__ADS_1
Sontak Yasmin dan Aksa sama-sama menghentikan langkah. Keduanya saling tatap, bertanya tanpa kata.
"Entah." Jawab Aksa kemudian. "Aku akan bilang Oma saja nanti."
Aksa dan Yasmin pergi ke halaman belakang, menemui Jelita yang tengah sibuk menata bunga di sana.
Di ruang keluarga, Daniel, Dita, Alex dan Ridha masih setia berbincang.
"Hana menyukai Aksa." Ungkap Daniel kemudian. Baik Alex maupun Ridha, sudah tak terkejut lagi.
Alex mengerjapkan matanya beberapa kali. Biar bagaimana pun juga, Hana adalah satu-satunya keponakan Alex. Mustahil bagi Alex untuk menolak permintaan kakaknya itu.
"Bisa saja, hanya saja, aku takut bila nanti tak cocok dengan kriteria yang Hana inginkan." Ungkap Alex.
"Bagaimana kalau kita carikan saja pelan-pelan? Beberapa kolega bisnis, mungkin bisa ada yang cocok dengan Hana." Kali ini Aridha menimpali. Ia sadar betul, bagaimana rasanya mencintai dengan begitu sangat dalam. Bedanya, cinta Aridha kesampaian, dan cinta Hana yang hanya bertepuk sebelah tangan.
"Aku berencana untuk mendekatkan Hana dengan kakak Yasmin." Ungkap Dita.
__ADS_1
Alex yang tengah menyesap kopinya, sontak saja tersedak hingga terbatuk-batuk beberapa kali.
"Apa? Mak . . . maksudnya, Marcel?" Tanya Alex terbata-bata karena syok.
"Ya. Memangnya Yasmin punya berapa kakak?" Tanya Daniel lagi. Dita hanya diam, merasa aneh dengan tingkah kakak beradik di depannya ini.
"Tapi, Marcel adalah putraku dengan Inora." Ungkapan Alex, ganti membuat Dita dan Daniel yang syok bersamaan.
"Kau bercanda, ya?" tanya Daniel kemudian.
"Katakan, Alex. Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Daniel lagi.
"Aku akan menceritakannya, lain waktu. Atau, nanti malam aku akan berkunjung ke rumahmu." Ucap Alex lirih.
"Untuk saat ini, jangan bahas ini dulu. Masa lalu diriku dan Inora di masa lalu, hanya beberapa orang saja yang tahu, termasuk istriku."
**
__ADS_1