Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Senja Temaram


__ADS_3

Brakk


Pintu terbuka paksa, sementara Hanum dan Kara, spontan menutupi tubuh mereka dengan selimut yang sama.


"Oh ya Tuhan....".


Kaki Jelita melemas seketika.


~Part sebelumnya~


"Mama mama....?".


Ingin rasanya Hanum menenggelamkan dirinya ke dasar lautan antartika saat itu juga.


Rasa malu, malu dan malu......


Demikian sangat membuat Hanum tak bisa berkata apapun lagi.


Semua ini gulungan nafsu karna bos Kara sialan itu!!


"Apa yang kau lakukan, kara? Kau sengaja mengabaikan meeting yang menghasilkan uang ratusan juta demi menuntaskan nafsumu? Apa tidak bisa kau menundanya hingga malam tiba?


Kau sengaja mau membuat bangkrut perusahaan yang papamu berikan?!!!".


Jelita histeris.


"Kara..... kau sadar bahwa meeting dengan klien penting akan di mulai dua menit lagi?".


Radhi angkat suara. Bila ia membiarkan istrinya yang angkat suara, Kara akan selalu mengelak dan perdebatan tentu akan berlangsung.


"Bba.... baik, pa. Keluarlah sebentar, aku akan membersihkan diriku dulu".


"Lakukan cepat. Perusahaanku tak mungkin menggaji seorang presiden direktur yang makan gaji buta."


Radhi berkata tegas. Ia menyeret pergelangan tangan istrinya pelan, istrinya yang pucat pasi dan syok luar biasa.


Dalam hati, Jelita akan memberi pelajaran putranya itu nanti.


Dia pikir dia di gaji hanya untuk memuaskan tuntutan nafsunya saja?


Enak saja.


Awas saja, nanti akan Jelita beri pelajaran bila mereka semua sudah berkumpul di rumah.


*******


Di kediaman Reksa........


Aluna dengan sengaja menyiram bunga-bunga yang di tanamnya di halaman depan.


Luna adalah hadis yang manis dan lemah lembut, keanggunannya dalam bersikap, membuat seluruh pria mendambakan dirinya sebagai pendamping hidup meski usianya masih terbilang sangat muda, Dua puluh tahun.


Usai menyiram bunga, gadis itu duduk di sebuah bangku memanjang yang ada di bawah pohon mangga yang teduh.


Pikiran Luna menerawang jauh.


Diantara sekian banyak pria yang mendamba dirinya untuk di jadikan kekasih, rupa-rupanya.....


Hanya seorang Seno yang membuat hatinya bergetar penuh rasa.


Seno......


Pria lemah lembut seusia kakaknya, Kara.


Beberapa kali mereka berjumpa dalam pertemuan singkat di rumah papanya, Radhi.


Namun......


Sulit di jelaskan melalui kalimat.....


Sulit di jabarkan melalui kata.....


Sulit di ungkapkan melalui bahasa......


Semua sulit, terasa sulit.

__ADS_1


Ada rasa tersendiri yang senantiasa muncul.


Jangan kan kontak fisik sekilas, Bahkan Hati Luna bergetar meski mata mereka saja yang saling bersirobok.


Aura Seno bukanlah aura pria yang suci tanpa dosa,cacat, dan cela......


Melainkan tutur kata dan tindak tanduknya yang mampu membuat Luna terpesona.


Sayangnya......


Hati Luna seketika patah saat Aridha, Kaka perempuannya menyatakan bahwa ingin menikah dengan Seno.


Harapan untuk sering-sering mengunjungi rumah besar Radhi, papanya di ibu kota, seketika kandas. Rencana nya hancur, Dan impiannya musnah.


Apa lagi yang bisa Luna lakukan?


"Sayang.........".


Reksa datang mengejutkan Luna, tubuh rentanya mendarat di kursi yang sama dengan luna, duduk berdampingan menghadap ke arah Senja dengan sinar kemerahan yang mendominasi.


"Mengapa sendirian di sini? Sebentar lagi malam tiba, lihat......".


Tangan Reksa terulur menunjuk ke arah langit senja.


"Senja juga sudah hampir menghilang.


Ayo masuk".


"Masuklah dulu, opa. Nanti Luna akan masuk sendiri. Luna ingin sendiri".


Luna menjawab dengan senyum manis, menyembunyikan segala sesuatu yang menjadikan hatinya gundah gulana.


Reksa tersenyum.


Ia tahu apa yang terjadi dengan Luna.


"Cucu opa, sudah dewasa rupanya".


Tangan kanan Reksa terulur, mengusap pelan puncak kepala cucunya dengan penuh rasa sayang.


Mengapa tetiba kakeknya ini seakan mengerti isi hatinya.


"Apakah opa seorang cenayang yang diam-diam bisa membaca pikiran orang?".


Reksa tertawa mendengar pertanyaan cucunya yang secara langsung, membenarkan asumsinya.


"Bukan cenayang, hanya saja...... Opa pernah muda. Kau...... benarkah pria tampan pemilik senyum manis yang bernama Seno yang kau sukai?".


Telak.


Aluna tak lagi bisa mengelak kali ini.


Pandangan mata Aluna mendadak meredup, terlihat sendu bagi siapapun yang menatapnya dalam.


"Ya. Aku rasa aku tak perlu lagi menyembunyikan segalanya dari opa.


Hanya saja......


Luna mohon jangan katakan pada siapapun. Ini rahasia kita, oke?".


"Baiklah..... bila Luna bersedia membagi kisah ini sedikit pada opa. Maka opa tak akan membebanimu dengan membiarkan banyak orang tau tentang kisah mu ini".


Aluna tersenyum getir.


"Aku..... mencintai sahabat mas Kara, Seno Bramantyo namanya.


Pria yang tampan, namun ramah dan lebih mempesona dari mas Kara tentunya".


Reksa terkekeh gemas mendengarnya.


"Baiklah lanjutkan".


"Luna..... baru beberapa kali bertemu. Dan Luan berniat meminta bantuan mas Kara untuk mendekatinya, tapi..... hanya sekedar dekat, tidak berniat mengejarnya. Hanya saja......"


Sudut mata Aluna basah, mulai memerah namun masih sanggul menahannya.

__ADS_1


Meski Luna gadis yang lembut, namun Luna tak ingin di nilai lemah.


"Hanya saja?".


Reksa tak sabar mendengarnya.


"Kak Ridha juga mengungkapkan keinginannya menikah dengan Seno.".


Aluna menunduk.


Ia biarkan air matanya tumpah, Mendeklarasikan pada semesta dan seisinya, bahwa dirinya demikian lemah bila di hadapan pada cinta yang demikian rumit dan tentu......


Tak akan ia gapai karna kakak perempuannya juga memiliki keinginan..... atau bahkan cinta yang sama.


Reksa tersenyum.


Ia sebenarnya telah tau sebelumnya. Radhi yang memberi tahunya.


Meski Radhi tak mendengar langsung fakta ini dari bibir putrinya sendiri, namun sebagai ayah yang cukup peka, Radhi bisa merasakan apa yang putrinya rasakan hanya lewat pandangan mata.


"Kau tak berniat mengungkapkannya pada papa seperti kak Ridha. Bukankah kak Ridha yang lebih dewasa?


Tentu papamu akan menyuruh kak Ridha mundur dan mengalah, karna kak Ridha yang lebih dewasa".


"Jangan......"


Aluna mengibaskan kedua tangannya.


"Jangan sampai kak Ridha dan papa atau siapapun tau. Aluna mohon, opa.


Opa sudah berjanji tadi".


"Tapi.... opa hanya menyarankan".


"Biarlah..... Biar Luna yang mengalah. Lagi pula, siapa cepat, dia yang berhak dapat.


Luna..... tak mau bila Luna harus berdiri di sisi yang berseberangan dengan kak Ridha".


Hening.


Reksa terdiam sambil menatap dalam Aluna.


Dari sini Reksa dapat menyimpulkan bahwa Aluna..... memiliki sifat yang sama persis dengan Radhi.


Kelembutannya, jiwa sosialnya, suka mengalah, berjiwa besar dan berhati Luas.


Reksa mengulum senyum.


"Baiklah, opa akan simpan rahasia ini rapat-rapat, hanya bila Aluna bersedia membuka hati pada pria lain. Tapi ingat.... Jangan sampai hal ini membuat pelajaran Aluna di kampus terbengkalai, mengerti?".


Aluna mengangguk paham.


Senja ini, menjadi senja temaram yang cukup melegakan bagi Aluna. Ia bisa menumpahkan dan berbagi beban yang menggelayuti hatinya.


Berharap senja ini akan menjadi senja terakhir ia mengharapakan Seno.


Tak kak ia biarkan air matanya meluruh kembali karna takdir tak berpihak padanya.


Jauh di belahan semesta yang lain.......


Seno.....


Sejujurnya, Seno juga memikirkan seorang gadis manis yang telah mencuri hatinya itu.


Hanya saja, apakah gadis itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya?


Bila pun rasa mereka sama, Seno rasa tak mungkin mereka bisa bersama.


Perbedaan kasta sosial lah pemicu utamanya.


Jadi, Seno memilih mundur dan berdiam diri saja, membersamai hatinya yang bergejolak penuh cinta.


Memasrahkan diri kemanapun takdir melabuhkan jalan hidup nya.


🍁🌻🌻🌻🍁

__ADS_1


__ADS_2