
"Aku tiba-tiba memiliki kakak ipar yang mirip dengan om Alex, dia seperti replika om Alex, tante. Apa di dunia ini ada sebuah kebetulan yang semacam itu?" Aksa tiba-tiba berkata sambil menatap tajam Alex dan Ridha. Alex diam, hanya menatap Aksa dengan kilat mata yang rumit.
Alex sudah tahu, bahwa Inora memang melahirkan darah dagingnya, tapi sumpah demi tuhan, itu saja bila bukan pengawal yang mengatakan, Alex tidak akan pernah tahu hingga detik ini.
Sedang Aridha, kini wanita baru tahu, bahwa faktanya ia dulu memang merebut Alex dari Inora. Pantas saja wanita itu pernah depresi, tapi Aridha tak mengorek informasi sedetail itu tentang Inora.
"Tante?"
"Tante sudah tahu, Aksa. Apa memangnya yang harus tante katakan?" Ridha menjawab sambil tersenyum kecil, tapi jelas kali ini Aridha tak bisa menyembunyikan lukanya lagi.
"Hah? Mas'ud Tante? Tapi . . . sebentar, sebentar. Tante tahu dari mana? Mengapa bisa begitu? Yasmin saja sebagai putri ibu Inora baru tahu jika dia rupanya memiliki kakak. Memangnya Tante Ridha mengorek asal-usul keluarga mertuaku?"
Alex menghembuskan nafas panjang. "Kami baru tahu, Aksa. Sudahlah. Jangan tanyakan sesuatu yang lebih."
"Apa maksudnya?" Aksa mengernyitkan keningnya.
"Kau masih kecil. Tak seharusnya mendengar masalah orang Dewasa." Aridha bangkit, menyeret tangan suaminya dan segera berlalu dari ruang keluarga.
Malam telah larut, harusnya Aksa sudah terlelap dalam tidur, Namun yang ada justru ia datang ke rumah dan membeberkan sesuatu yang mengganggu Aridha. Sungguh, ini aneh. Sempat terpikir dalam otak Aksa yang cerdas, mungkinkah Alex dulu terlibat skandal dengan Inora?
__ADS_1
Dengan langkah tergesa, Aksa bangkit dan segera kembali ke rumah Dion. Lelaki itu merasa percuma menyampaikan sesuatu yang menurutnya penting, namun justru ia dianggap sebagai anak kecil oleh adik papanya.
Harusnya, ia tak perlu keluar sampai pamit pada sang istri, bahwa ia perlu ke kediaman Praja Bekti hanya untuk mengambil sesuatu.
Setibanya di rumah Dion, alangkah terkejutnya ia ketika melihat Yasmin masih bercanda akrab dengan Marcel di malam yang telah larut. Bahkan Inora juga terlihat masih terjaga sambil menguap beberapa kali.
Aksa merasakan panas dalam hatinya. Kedekatan Yasmin dan Marcel, mengapa harus seakrab itu?
"Ibu... " Aksa tersenyum sopan sambil mengangguk pada Inora.
"Syukurlah kau sudah pulang. Yasmin menunggumu sejak tadi, beruntung kakaknya juga mau menemani." Inora bangkit dan berniat untuk menuju ke dalam kamarnya, menyusul Dion yang telah terlelap. "Ibu akan istirahat."
"Kau ini lama sekali? Aku mengantuk, kau tau itu." Yasmin merajuk pada Aksa.
"Maaf, ya sudah. Ayo kita tidur." Ungkap Aksa sambil berlalu tanpa menyapa Marcel. Marcel sendiri tidak habis pikir dibuatnya. Mengapa Aksa berubah lebih cepat, padahal Marcel tidak melakukan kesalahan apa pun?
**
Di tempat lain, Alex dan Aridha saling diam. Keduanya hanyut dalam pemikiran masing-masing. Entah apa, Alex ingin bicara, tapi takut salah. Bila suasana hati istrinya sedang buruk seperti sekarang, maka tak akan ada satu pun sabda yang benar di mata si singa betina itu.
__ADS_1
"Sayang, aku akan menerima kemarahan dirimu, hanya saja aku mohon padamu, jangan meninggalkan aku, jangan pernah berpikir untuk menjauhiku."
Aridha menoleh sekilas ke arah suaminya, sebelum ia kembali membuang tatapannya ke atas . Wanita itu mengernyit, serta merasa tak bisa mencerna sepenuhnya apa yang suaminya katakan.
"Aku tau aku salah, aku tau aku pendosa di masa lalu, hukum aku, tapi kumohon jangan sedikitpun memiliki pemikiran untuk menjauh dariku, apalagi sebuah perpisahan."
Aridha tertawa lantang. Menurut Alex, tawa yang mengerikan dan penuh kecewa. Hanya saja, Alex terlalu terhanyut dalam ketakutannya sendiri, hingga ia tak sadar, bahwa ucapannya tadi terdengar lucu di telinga Aridha.
"Hahahaha..... hahahah..... maksudmu, bagaimana?" Tanya Aridha dengan raut wajah serius. Secepat itu ia merubah ekspresi raut wajahnya, hingga ia terlihat seperti sedang marah.
"Aku melakukan hal itu sebelum aku mengenalmu, juga sebelum aku jatuh cinta padamu."
"Aku tak akan menghakiminya, mas Alex. Asal kau tahu, saja, aku hanya kecewa karena rupanya bukan hanya aku yang menjadi ibu dari anakmu, tapi juga ada wanita lain yang juga merasakannya. Hanya saja, entahlah . . . hatiku masih tidak menerima apa yang terjadi ini. Untuk sementara, biarkan aku berpikir jernih. Ini terasa tidak mudah untukku. Tapi aku tak bisa egois, kan? Jadi biarkan aku untuk berpikir."
Alex mengangguk, lelaki itu lantas mengisyaratkan pada istrinya agar segera tidur. Ada banyak hal yang ingin Alex katakan. Hanya saja, Alex sendiri bingung bagaimana membahasakannya pada sang istri.
"Maafkan aku." Kalimat itu, tak henti-hentinya Alex ucapkan pada istrinya yang senantiasa tersenyum.
Aridha sadar dan selalu yakin, cinta Alex hanya untuknya seorang.
__ADS_1
**