Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Makan siang


__ADS_3

Di sudut rumah sederhana, Inora dan Dion tengah makan bersama hari ini. Bekerja sebagai karyawan biasa di sebuah perusahaan, membuat dion tak bisa libur. Akan tetapi berhubung kesehatannya yang sedikit terganggu, maka ia mengajukan libur beberapa hari hingga kondisi tubuhnya fit kembali.


Meski dalam kondisi finansial yang cukup sederhana, tapi Inora bersyukur bisa tetap bersama Dion hingga usia pernikahan mereka nyaris dua puluh tahun. Dulu, Inora sempat gila akibat ia terlalu patah hati ketika harus berpisah dengan Alex. Cintanya pada Alex, membuatnya harus depresi panjang.


Datangnya Dion dalam hidup Inora, membuat Inora berangsur pulih secara bertahap. Meski awalnya ia tak menyukai apa lagi mencintai Dion, tapi Inora sudah berusaha dan bisa bertahan untuk hidup bahagia hingga kini.


Datangnya Aksa dalam hidup putrinya, membuatnya mau tak mau harus bersinggungan lagi dengan keluarga Alex. buka Alex yang Inora takuti, bukan. Melainkan keluarga Praja Bekti yang terkenal menakutkan. Padahal jika Inora tau bagaimana seluk beluk keluarga Praja Bekti yang sesungguhnya, inira tak akan se-paranoid ini.


"Bagaimana dengan kondisi tubuhmu hari ini, mas Dion? apakah sudah merasa lebih baik?" Inora meletakkan gelas usai minum. Selepas makan siang seperti ini, biasanya Inora memberi buah untuk Dion.


"Sudah merasa sedikit lebih baik. Jangan khawatir. Oh ya, bukankah seharusnya jam segini Yasmin sudah pulang?" Dion bertanya sambil matanya awas menatap jam dinding di atas kulkas. "Yasmin telat hampir satu jam dari semestinya."


"Mungkin ada tugas tambahan. Jangan khawatir, Yasmin tak pernah membohongi kita selama ini." Inora mengibaskan kedua tangannya sebagai isyarat.


"Ya, aku bangga memilikinya sebagai anakku."


Baru saja Inora hendak menimpali kalimat suaminya, suara Yasmin melengking dari arah depan. Tak hanya itu, sepertinya Yasmin tak sendiri dan terdengar tengah kesal. Inora saling tatap dengan Dion, sebagai isyarat tanya.


"Ayah, ibu. Aku datang." Yasmin memasuki rumah dengan wajah merenggut. Namun yang membuat Inora dan Dion terpaku, sosok Aksa mengekor di belakang Yasmin dengan senyum manis dan hangat.


"Yasmin, Kenapa pulang terlambat?" Dion bertanya biasa saja, lelaki itu menatap Aksa yang tersenyum ramah padanya, tak seperti biasa ketika akan tengah bersama orang lain.


"Dia yang membuatku pulang terlambat, ayah. Maafkan Yasmin yang sudah membuat ayah khawatir." Yasmin mendelik ke arah Aksa, setelahnya menatap penuh sesal ke arah Dion. wajah Yasmin yang demikian ini, membuat Alsa semakin gemas dan Aksa menahan tawanya.

__ADS_1


"Maaf, paman Dion, bibi Inora. Tadi aku sengaja menumpang di sepeda Yasmin dan ingin bermain kemari." Aksa tersenyum lebar, membiarkan Inora dan Dion saling tatap heran dan khawatir.


"Tapi..... nyonya besar Praja Bekti, tidak marah, kan?" Satu-satunya yang menjadi ketakutan Inora adalah, kemurkaan Jelita. Maklum saja, semua orang tahu jik Aksa adalah cucu kesayangan Jelita. Bahkan kabarnya, Jelita maupun Radhi tak pernah mengizinkan Aksa untuk tinggal dengan Kara dan juga Hanum, orang tuanya.


"Aku sudah izin pada opa, bibi. Oma sendiri sedang menyelesaikan masalah di kantor. Jadi, Aksa bebas hari ini." jawab akan sopan.


Dion pada akhirnya bisa bernafas lega. Tetapi sayangnya, beberapa pengawal tengah berjaga untuk menjaga Aksa agak jauh. Mereka melakukan manipulatif fashion untuk mengecoh siapa pun yang berniat mengusik Aksa.


"Ya sudah. Kalau begitu, pastinya kalian belum makan. ayo, makan siang dulu setelah cuci tangan. Tapi maaf, ya, Aksa. Masakan bibi tidak semewah dan tidak seenak di rumah besar Aksa." Aksa tersenyum bahagia. Sedang Yasmin, hadis itu hanya berdecih lirih, mengisyaratkan bahwa ia mengejek Aksa saat ini.


"Oh, terima kasih, Oh ya, bu. Maaf, mulai sekarang Yasmin minta izin pada ibu. Yasmin akan pulang terlambat untuk beberapa waktu." Tampak sekali kilat mata Aksa berbinar riang. Namun tidak untuk Yasmin. "Maklum, menjelang ujian akhir sekolah, membuat kami sibuk dan ada beberapa bimbingan belajar tambahan.


"Kau... kau-kau..... kau ini mengapa harus berbohong pada ibu dan ayahku?" bisik lirih si yasmin pada Aksa. Aksa tersenyum manis dibuatnya, membuat iman Yasmin semakin goyah dan merutuk otak dan hatunya yang bodoh itu.


"Di meja makan, baik Inora dan juga Dion sama-sama canggung. Kedatangan tuan muda Praja Bekti sebagai kekasih putri mereka, membuat mereka takut bila akan bertingkah dan membuat kesalahan.


"Aksa, boleh paman dan bibi tanya sesuatu pada Aksa?"


Inora berusaha untuk mencari tau, sejauh mana hubungan mereka berjalan.


"Boleh, bibi. Tanyakan saja, Aksa akan dengan senang hati menjawab." Aksa masih sehangat dan semenyenangkan tadi


"Kau... kau yakin kau mencintai putri bibi Inora, Yasmin?" Tanya Inora dengan serius.

__ADS_1


"Aksa minta maaf sebelumnya, bibi. Aksa tak tau bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Tapi Aksa tegaskan sekali lagi, Aksa nyaman dengan Yasmin." Yasmin merasa kaget. Bagaimana mungkin dirinya harus mendengar bahwa Aksa nyaman dengannya?


Sebenarnya, dalam hati yasmin, Yasmin kita merasa nyaman dan tak ingin jauh dari Aksa. Akan tetapi membersamai Aksa tak Mungin baginya. Yasmin tak ingin kecewa dan terlalu jauh mengharapkan Aksa sebagai kekasihnya. Antara dirinya dan Aksa, jauh berbeda dan tak mungkin bagi Yasmin untuk memimpikan hal itu.


Yasmin sadar diri.


"Pikirkanlah lagi tentang kenyamanan dirimu, nak, Yasmin tidaklah pantas untuk pemuda berdarah biru sepertimu. Kamu ini keluarga miskin yang untuk sekolah Yasmin saja, mengandalkan beasiswa."


"Jangan pikirkan itu lagi, paman, bibi. Untuk sementara biarkan saja seperti ini. Kami masih sangat menikmati masa-masa sekolah. Untuk ke depannya, kita tak tau bagaimana takdir tuhan menggariskan."


Ah, sial. Lancar sekali Aksa mengatakannya. Dalam hati Yasmin berjanji, ia akan menendang bokong Aksa nanti.


"Ya sudah. Ini hanya sekedar nasihat untuk kalian. Bibi berharap, kalian bisa fokus belajar dan jangan sampai melewati batasan kalian meskipun kalian ini saling dekat." Inora hanya tak mau nanti putrinya terjerumus ke dalam **** bebas dan kemudian dicampakkan setelah hamil. Tidak. meski Inora dan Dion merasa dari keluarga miskin, namun mereka ingin yang terbaik untuk putri mereka. itu saja.


"Jangan khawatir, bibi. Opa selalu mengajarkan pada Aksa untuk selalu menjaga wanita, siapa pun itu. Keluarga Praja Bekti, Pantang bagi kami untuk merendahkan wanita. Jika sampai Aksa salah melakukannya, bisa dipastikan Oma yang akan maju paling depan menghajar Aksa."


Aksa tertawa renyah, membiarkan gigi putihnya terlihat dengan jelas.


"Ya sudah. syukurlah bila demikian." Inora dan Dion bisa bernafas lega akhirnya. Hari ini, keberanian Aksa yang datang dan makan bersama dengan keluarga Dion, membuat Aksa benar-benar terlihat seperti lelaki sejati.


Sayangnya di mata Yasmin, Ia semakin gusar saja dengan semua kalimat Aksa. Awas saja, usai makan siang nanti, Yasmin akan memberi Aksa pelajaran.


**

__ADS_1


__ADS_2