
Malam semakin merambah, Aksa dan Yasmin masih sama-sama tidak mampu memejamkan mata mereka. Keduanya hanyut dan tenggelam dalam pemikiran mereka masing-masing. Suasana juga semakin hening, hanya bunyi detak jarum jam yang mendominasi ruangan kamar Yasmin yang sunyi.
"Yasmin, kau sudah tidur?" Aksa berbalik, menatap punggung Yasmin yang membelakanginya. Sejujurnya, Aksa tak nyaman tidur di ranjang Yasmin. ada rasa tak nyaman dan juga gelisah. Maklum, ranjang sempit Yasmin tak sepadan dengan kualitas ranjang Aksa yang lebar.
"Aku tak bisa tidur. Bagaimana mungkin aku bisa tidur sementara kau ada disini." Yasmin menjawab tanpa bergerak sama sekali badannya. Melihat ini, tentu Aksa kesal karena sudah diabaikan begitu saja oleh Yasmin.
"Berbalik lah, Yasmin. Tatap aku saat aku bicara. Jangan membuatku memaksamu untuk menghadap ke arahku." Ucap Aksa dengan nada dinginnya. Tentu Yasmin berbalik dengan gerakan pelan.
Bagaimana tidak?
Jantung Yasmin berdetak semakin tak terkendali, dan juga darah Yasmin seolah memanas. Maklum saja, ini adalah kali pertama Yasmin berada di satu ranjang yang sama bersama laki-laki. "Ada apa?"
"Kau tak memiliki rasa kasihan padaku? Lihat, ini adalah karya tangan Oma akibat mendengar kabar bahwa kau hamil. Aku di hajar habis-habisan." Ungkap Aksa sembari menunjuk wajahnya sendiri. "Sekarang aku sudah menjadi suamimu. Rawat aku karena aku sekarang adalah suamimu." imbuhnya lagi.
"Ya Tuhan, mengapa jadi separah itu?" perlahan, Yasmin mengusap pelan sudut bibir Aksa yang terluka akibat pukulan Jelita. "Ceritakan awalnya padaku, mengapa kau bisa dihajar hingga wajahmu begini?"
#
__ADS_1
Flashback.
"Tapi, Oma..... Ya Tuhan, Aksa benar-benar tidak melakukan hal sehina itu." Kalimat Aksa, tak mendapat sahutan dari Jelita. Yang ada justru Jelita memukul Aksa di arah pipinya. Bukan sekali, bahan Jelita melayangkan pukulan berkali-kali.
"Ampun, Oma. hentikan. Aku bahkan tidak pernah meniduri Yasmin. Buka Yasmin hamil, bisa jadi itu anak lelaki lain. Aku tak akan mengakui kesalahan yang tak pernah aku lakukan." Aksa masih bertahan dengan prinsipnya.
"Jangan menjadi bajingan, Aksa. Oma tak pernah mendidikmu menjadi kejam begitu. Kau berpacaran dengan Yasmin sudah beberapa bulan, tak mungkin Yasmin hamil dengan lelaki lain karena karakter Yasmin tak begitu. Oma bisa tau dan membaca bagaimana karakternya. Ingat satu hal, Aksa, karma itu akan selalu ada untuk semua makhluk.
"Ya Tuhan, sumpah. Aksa bahkan berani di sumpah untuk membuktikan." Aksa merasakan sudut bibir dan pelipisnya berdarah. Padahal, ada Radhi, opanya yang paling sayang terhadap Aksa sedikitpun, tak mengeluarkan reaksi, atau pun tanda-tanda akan membela.
"Oma tak mau tau, pokoknya kau harus ikut kami malam ini juga. pakailah setelan kemeja, Aksa." Jelita memukul aksa lagi hingga membuat Aksa kerepotan.
#
"Jadi, separah itu kau dihajar oleh Omamu?
" Yasmin bertanyabtak mengerti. Katanya Jelita ini sangat menyayangi Aksa, namun yang terjadi adalah justru Aksa di hajar hingga babak belur begini.
__ADS_1
"Begitulah Oma jika sudah marah. si macan betina itu tidak tanggung-tanggung jika sudah marah pada seseorang."
"Astaga, suamiku, kau rupanya cukup keras ya di didik oleh Oma dan opamu?"
Mendengar panggilan baru Yasmin pada Aksa, cukup membuat Aksa mendelik sebal ke arah Yasmin. Bagaimana mungkin nanti mereka bisa akur? Setiap hari mereka akan selalu menggoda dan marahan setiap hari.
"Daripada kita tak bisa tidur, bagaimana jika kau bersiap untuk keluar?" Tukas Aksa yang mendadak mendapatkan ide dadakan.
"Memangnya kita mau kemana?"
"Kau tak perlu tau. Yang penting sekarang, kau harus benar-benar siap."
"Tidak. katakan dulu kita mau kemana."
"Kau akan tau nanti." Aksa bangkit dan menarik pergelangan tangan istrinya. ada sesuatu yang mungkin bisa membuatnya dan Yasmin kelelahan hingga bisa tidur nyenyak.
Setelah ini, bisa dipastikan bahwa Yasmin akan ketagihan jika ikut Aksa pergi ke tempat spesial.
__ADS_1
**
Coba tebak, tempat spesialnya apa??😂