
Suasana Rumah praja Bekti sudah cukup ramai, ketika Aksa dan Yasmin beriringan dan baru saja turun dari tangga. Tautan tangan keduanya seolah membuat Yasmin segan jika dilihat oleh keluarga lainnya. Namun tidak bagi Aksa yang biasa saja.
Semua mata tertuju pada sosok sepasang suami istri remaja itu. Tentunya mereka tampak serasi sekali. Kedatangan mereka, membuat suasana hening. Yasmin yang sejak tadi hanya menunduk, menjadi pusat perhatian Hanum dan juga Kara.
Wajah asli Yasmin tentu membuat suami istri itu penasaran. Seperti apa sosok peri yang sudah berhasil membuat Aksa jatuh hati, hingga rela dinikahkan paksa dengan gadis itu.
"Mama......" Aksa menghampiri Hanum dan memeluk ibunya dengan erat. "Mama apa kabar? Maaf karena Aksa terlambat bangun dan tidak menyambut mama dan papa."
Aksa berganti memeluk Kara, disusul Yasmin yang juga melakukan hal serupa. Semua mata tentunya tertuju pada pasangan muda ini. Senyum hangat yang juga tampak tertuju pada Aksa, membuat Yasmin bangga karena bisa berdiri diantara orang-orang yang menyayanginya.
"Tak apa, sayang. Mama tau kau dan istrimu lelah. Dia.... siapa namanya?" tanya Hanum tersenyum lembut keibuan. Kara hanya mengamati raut wajah dan pembawaan Yasmin yang kalem, tapi sepertinya Yasmin adalah sosok yang keras kepala dan juga tak mau mengalah.
"Saya Yasmin, nyonya... emmm putri ibu Inora dan ayah Dion." Yasmin menjawab dengan gugup.
"Panggil mama dan papa mulai sekarang. Kau harus membiasakan diri untuk itu. Ayo duduk." Hanum melihat Aksa dan Yasmin duduk berdampingan.
Jelita dan juga Radhi hanya menjadi pihak yang pasif, menjadi penonton yang baik dan pendengar setia. Inilah bagian dari keberhasilannya, membuat anak cucunya hidup mapan dengan pendidikan tinggi. Bila mengingat dulu bagaimana perjuangan Radhi mendapatkan Jelita, dan juga konsekuensi serta risikonya, rasanya sulit untuk tiba di titik ini.
__ADS_1
"Kau sepertinya kelelahan sekali, Aksa. Jam berapa kau tidur? Apakah semalam kau bermain sepak bola?"
Pertanyaan si mulut tajam Kara, berhasil membuat pipi Yasmin merona, meski terkesan biasa saja untukmu Aksa.
"Jangan begitu dad, Kak Aksa pasti sibuk belajar karena menjelang ujian akhir." Itu suara polos Hesti yang berhasil membuat semua menahan tawa. Hanya Aksa yang antusias, membenarkan dan mengacungkan kedua jempol nya ke arah Hesti.
Sejak dulu, anak-anak dari adik-adik Kara memanggil Kara Daddy, dan Hanum dengan panggilan mommy.
"Tepat sekali, anak cantik. Tebakan mu benar, lain waktu aku akan menraktir coklat untukmu."
"Ya ya ya, itu hanya omong kosong yang aku yakin aku tak boleh berharap." Hesti mengedikkan bahunya.
"Astag, aku kelelahan hingga tertidur, Tante. Besok-besok aku pastikan tak akan ada orang lancang yang membuka pintu kamarku."
"Sayangnya, si lancang itu papamu sendiri, dan juga mamamu tentunya." Ungkapan Aridha, berhasil membuat Kara dan Yasmin saling pandang.
Lihat, Aksa dan Yasmin sama-sama salah tingkah dibuatnya.
__ADS_1
"Astaga, sudah sudah. Aksa, kau dan Yasmin belum sarapan, ayo ke ruang makan. Oma sudah siapkan sarapan khusus untukmu. Biarkan pelayan yang memanaskan semuanya." Beruntung ada Jelita yang menyelamatkan Aksa dan Yasmin dari situasi ini.
"Baiklah, Oma. Ayo Yasmin." Aksa bangkit disusul Yasmin yang berjalan kaku. Rasanya Yasmin ingin sekali menenggelamkan wajahnya ke lautan Pasifik saat ini.
Setibanya di dalam ruang makan, Jelita segera memerintah pelayan untuk menyiapkan makanan yang tadi Jelita masak sendiri. Hingga kemudian Jelita duduk dan menghadap ke arah Aksa dan Yasmin yang duduk bersebelahan.
"Yasmin sayang, nanti Oma akan membawamu ke dokter untuk pemeriksaan rahim. Juga Aksa, bersiaplah."
"Maksudnya, apa yang mau Oma lakukan?" Aksa bertanya tak mengerti. Tapi Yasmin, wanita itu sudah sangat tanggap dengan pernyataan Jelita."
"Aku ingin yasmin segera hamil secepatnya. Kau harus tetap melanjutkan pendidikan, dan Yasmin juga akan tetap mendapatkan hak pendidikan, hanya saja, Yasmin, nanti akan melanjutkan study setelah melahirkan."
Yasmin syok bukan main atas pernyataan Jelita.
"Apa, apa Oma? Ya Tuhan, benarkah? Tapi Yasmin masih sangat muda. Izinkan Yasmin mencegah kehamilan dengan alat kontrasepsi. Jika hamil dan melahirkan di usia muda, Yasmin takut."
"Jangan takut, semua akan baik-baik saja. Oma akan pastikan kau tak akan sengsara. Segalanya sudah opa rencanakan, semalam opa sudah katakan pada Oma. Oma sudah rindu sekali dengan tangisan bayi di rumah ini."
__ADS_1
Lagi dan lagi, Yasmin kembali syok luar biasa.
**