
Seorang pria paruh baya tengah sibuk berkutat dengan banyak berkas di mejanya. Mata tajamnya yang tertutup kaca mata dengan Jeli menatap layar laptop yang menyala terang di hadapannya.
Sesekali ia mendesis dan merasa kelelahan di sepanjang punggungnya.
Beruntung, hari ini sang istri tengah lengang. Jadi lah dia bersemangat bekerja karna di temani istrinya yang rebahan di sofa.
Radhi.......
Pria paruh baya itu nampak tetap gagah perkasa meski usianya tak lagi muda.
Begitu juga dengan sang istri yang nampak awet muda. Tubuhnya tetap terawat. Bentuknya pun tetap selalu membuat Gairah Radhi mudah tersulut.
"Mas. Apa kau yakin rencanamu untuk Luna berhasil?".
"Tentu saja. apa kau meragukannya?".
"Entah."
Radhi menghentikan aktifitasnya sejenak dan beranjak hendak menuju sang istri.
"Aku justru khawatir dengan keluarga Chandra, sayang".
Raut wajah Radhi mengerut tak suka. Jelita dengan jelas menangkap aura kegundahan yang tersirat di sana.
"Apa yang terjadi?".
Jelita bertanya dengan tak sabar. Raut wajahnya jelas menunjukkan keseriusan.
"Dita. Wanita berotak dangkal itu berani mengambil langkah drastis dengan mengambil tempat tinggal terpisah dengan Chandra dan Dewi.".
"Lantas, apa yang harus di pusingkan?".
"Tidak ada yang di pusingkan.
Hanya saja.....
Andai ia tak memiliki rencana untuk menjerat putri kita, Kara......Aku tak akan se was-was ini.
Meski kita tau ia tak memiliki kekuatan apapun, namun segala kemungkinan bukankah bisa saja terjadi? Setiap nano detik yang wanita itu lalui, kita tak tau strategi dan kelicikan apa yang akan wanita itu rancang, bukan?".
Wajah Jelita menggelap. Ada keadaan mendesak dimana dirinya harus membangkitkan kembali jiwa iblisnya seperti dulu, bukan?
Radhi lama-lama khawatir istrinya akan membuat perhitungan dengan Dita.
Namun, biar bagaimana pun, bukankah istrinya itu harus tau?
"Perintahkan beberapa orang untuk mengawasi gerak-gerik wanita itu, mas. Dan laporkan padaku setiap perkembangannya. Kau tak usah turun tangan. Aku sendiri yang akan membuat wanita itu jera nantinya".
"Sudah. Semua telah di atur".
"Bagus".
"Coba tebak kabar apa yang aku dapat dari Seno?".
"Apa itu?".
"Dita berbicara pada seseorang bahwa dia tak akan pernah berhenti untuk mengejar Kara. Dan lebih parahnya, wanita itu akan menghalalkan segala cara untuk memuluskan rencananya."
"Huh..... Dia pikir dia sedang berhadapan dengan siapa? Bila di bandingkan, Hanum menantu kita jauh lebih berharga dari pada Dita. Ibarat sebuah berlian di bandingkan dengan sebuah mata ikan yang akan busuk di makan waktu".
Jelita berkata sinis. Nada demikian penuh ejekan.
*****
Dita tengah berjalan santai menuju lorong ke arah unit apartemennya yang baru-baru ini ia tempati. Hembusan nafas lelah mulai terdengar.
__ADS_1
Dua hari lagi. Dua hari lagi Kara akan melakukan perjalanan bisnis ke Jerman bersama istrinya, Hanum. Sayangnya......
Ini bagian dari kabar buruk bagi Dita.
Bagaimana Dita tak merasa lelah?
Mata Dita melotot sempurna ketika ia mendapati sosok tinggi menjulang dengan postur tubuh gagahnya.
Wajahnya memerah menahan amarah.
"Apa yang kau lakukan di sini, Daniel?".
Suara Dita lirih, namun jelas menekan kalimat nya di bagian akhir. Menyebut nama Daniel adalah sesuatu yang Dita hindari mati-matian.
"Menunggumu, ta. Ada yang perlu aku bicarakan denganmu".
Dita menatap lekat ayah biologis dari putrinya ini. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Selama menelanjangi penampilan Daniel yang sama sekali tak berubah. Masih setampan dan sekeren dulu.
Sayangnya...... Daniel sama sekali tak terpengaruh dengan hal ini.
Baiklah, Dita merasa tak ada salahnya bila menerima Daniel bertamu di unitnya.
"Baiklah. Tapi aku tak memiliki banyak waktu untuk pria sialan sepertimu!!".
Suara Dita demikian kasar an menghujam tepat di jantung Daniel. Sayangnya, yang Dita katakan adalah suatu kebenaran. Daniel memang sialan.
Kebisuan menyusup pada keberadaan mereka.
Hening beberapa saat hingga suara lirih Daniel terdengar menggema di telinga Dita.
"Maafkan aku, Dita".
Dita mencebikkan bibirnya kesal.
Dimana harga dirimu yang setinggi langit itu?
Dimana keangkuhan yang dulu kau miliki?
Dimana sifat arogan yang dulu melekat kuat padamu?
Dimana tingkahku dulu yang menyerupai binatang sembilan tahun lalu?".
Dita berteriak kencang pada Daniel. Ia tak peduli lagi sekarang. Beruntung tiap unit selalu di fasilitasi peredam suara pada.
Daniel memejamkan matanya sejenak. Kemudian kembali berkata lembut di depan Dita penuh keseriusan.
"Aku tau dosa ku di masa lalu akan sulit bagimu untuk memaafkan ku. Tapi percayalah Dita.....
Aku akan mencintaimu, sepenuhnya.
Menikahlah denganku dan kita bangun rumah tangga kita dengan kuat. Membangun keluarga kecil dengan Hana di tengah-tengah kit-----"
"Cukup, Daniel. Aku muak dengan kata-katamu. Sekarang keluarlah. Aku tak ingin berdebat denganmu".
Maka, secepat kilat Daniel bersimpuh di hadapan Dita.
"Beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku di masa lalu, Dita.
Beri aku kesempatan untuk membuktikan padamu bahwa aku bisa membahagiakanmu.
Beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan yang terlanjur retak ini.
Beri aku kesempatan agar kau tau betapa aku jelas menyesal dan ingin bertobat.
Beri aku waktu untuk bisa membuktikan bahwa aku akan bekerja keras untuk membahagiakanmu dan Hana.
__ADS_1
Aku bersumpah..... Aku bersumpah......"
Air mata Daniel luruh seketika.
Tak ada yang lebih menyakitkan dari ini.
Penolakan Dita mengingatkannya akan tragedi yang ia berikan pada hidup Dita.
Daniel rela.....
Daniel rela andai ia harus menghabiskan seluruh waktunya untuk membanting tulang demi membangun keluarga bersama Dita.
Daniel akan membuktikan bahwa ia bukan lelaki pecundang yang bisa membebaskan diri dari tanggung jawab.
Bagaimanapun, Daniel merasa Dita dan Hana adalah tanggung jawabnya meski ia tak memiliki ikatan hubungan dengan Dita.
"Tenggelam lah dalam penyesalanmu, Daniel.
Aku tak Sudi meski hanya sekedar untuk melihatmu. Kau bukanlah apa-apa bagiku.
Percayalah...... Aku tak Sudi bila harus bersanding dengan mu di pelaminan!!".
Kalimat Dita bagai petir yang menggelegar hebat dalam hati Daniel. Ia berteriak lantang dan mendorong Daniel hingga tersungkur ke belakang mengenai lantai.
Tidak Sudi?
Bukankah dulu Daniel juga tidak Sudi untuk memperlakukan Dita layaknya wanita?
Daniel sadar akan hal itu. Itulah sebabnya Daniel ingin memperbaiki semuanya.
Sayangnya, harapan hanya tinggal harapan semu. Kosong dan tak akan pernah ada titik terang. Hati Dita terlanjur sakit akibat ulah Daniel.
"Aku tak akan menyerah untuk mendapatkan maafmu, Dita. Sebenci apapun kau padaku, aku tak akan pernah gentar, aku tak akan pernah mundur. Aku akan berdiri tegak demi bisa menebus kesalahanku dan membahagiakan kau dan Hana".
Dita terhenyak. Pandangan matanya demikian nanar menatap Daniel.
Perlahan, air mata Dita menetes, membasahi pipi mulusnya. Pipi yang dulu seringkali mendapat tamparan keras dari Daniel maupun Alex, sembilan tahun lalu.
Tragedi yang membuat kebencian Dita pada Daniel dan Alex tumbuh berkali-kali lipat di tiap waktu yang ia lalui.
"Dengar!! Dengarkan aku baik-baik.
Aku lelah karna harus menanggung sakit seorang diri selama sembilan tahun lamanya.
Aku lelah. Aku ingin bahagia.
Aku akan mengejar orang yang aku cintai, yang menjadi sumber kebahagiaanku, ingat itu!!"
"Apa maksudmu?".
"Azkara. Tuan muda keluarga Praja Bekti.
Aku mencintainya dan akan mengejarnya hingga kemana pun.
Dan kau....!!
Dan berhentilah mengganggu hidupku, Daniel".
Daniel membeku, apalagi ketika telunjuk Dita mengarah tepat di kening Daniel.
Langit terlihat mendung, awan kelabu menutup keberadaan mentari dan sinarnya.
Hati Daniel hancur seketika.
🍁🌻🌻🌻🍁
__ADS_1