
Di sebuah rumah yang cukup privasi, Alex menunggu kedatangan Marcel dengan tenang. Raut wajahnya yang kebapakan, membuat Alex tampak lebih tampan.
Sudah beberapa hari ini, Alex mencoba untuk menenangkan diri. Kini, setelah Dion berhasil membujuk Marcel, akhirnya anak itu bersedia memenuhi permintaan Alex untuk bicara berdua.
Mendung tiba-tiba datang dengan hujan rintik-rintik yang menyertai. Alex masih setia menunggu meski Marcel sudah terlambat empat puluh menit. Andai pun Marcel membuatnya menyuruh seharian, Alex tak akan keberatan.
Pintu terbuka dari luar, menampakkan seorang pengawal yang mengantar Marcel masuk. Marcel terlihat mengibaskan ujung hoodienya, mungkin akibat terkena gerimis.
"Marcel." Alex menyambut Marcel dan berdiri.
"Ya." Marcel duduk saat Alex mengisyaratkan agar dirinya segera duduk.
"Maaf, aku terlambat. Aku kemari membawa sepeda kayuh." Ungkap Marcel dengan senyum. Sayangnya, senyum Marcel itu hanyalah kepalsuan. Sebuah kamuflase agar Alex tak melihat kekecewaannya. kata Dion, biar bagaimana pun Alex bersalah di masa lalu, tetap saja Alex adalah ayah biologisnya yang harus di hormati.
"Tak mengapa. Kau mau minum apa? Aku akan pesankan." Ungkap Alex.
"Aku hanya ingin minuman hangat saja."
__ADS_1
Suasana hening, membuat Alex dan Marcel sama-sama canggung.
"Bagaimana kabarmu, Marcel?"
"Baik. Lalu, ada apa anda memanggilku kemari?" Tanya Marcel dengan suara datar. Entah mengapa, Marcel seperti tengah goyah.
"Aku ingin berbincang sebentar denganmu. Tunggulah dulu, aku ingin tahu banyak tentangmu." Ungkap Alex.
"Tentang apa? Sudahi basa-basi ini, om Alex. Katakan saja apa yang harus kita bicarakan untuk pertemuan kita kali ini." Ungkap Marcel telak, membuat Alex menatap lekat Alex.
"Tidakkah kau memiliki keinginan untuk memanggilku papa?" Tanya Alex. tatapan matanya melembut, tak lagi penuh murka sama sekali.
Alex hanya bisa menunduk dan membuang muka. Ibunya masih berada dalam rasa sakit, meski sudah agak lebih baik dari sebelumnya.
"Maaf." Ungkap Alex kemudian.
"Jangan meminta maaf padaku, pa. Minta maaflah pada ibumu yang sudah kau sakiti. Sebagian besar hidupnya, ia habiskan dengan meratap saat ayah tak bersamanya, atau sedang bekerja. Katakan, apa yang akan kau agunkan sebagai jaminan untuk menebus dosamu?" Ucap Marcel kemudian.
__ADS_1
"Aku tau, aku pun tak tahu jika ibumu benar-benar mengandung anakku saat itu." Ungkap Alex lagi.
"Sudahlah, pa. Aku sudah datang sesuai dengan undanganmu, ya meskipun aku terlambat. Jadi katakan, apakah ada hal penting lainnya?"
"Sebenci itukah kau padaku, Marcel? Andai takdir tak mempermainkan aku seperti ini, kau pasti akan tumbuh menjadi anak yang tak kurang kasih sayang dariku sebagai ayah. Hanya saja, harusnya kau menilai dengan lebih bijak. Aku pun ingin memilki seorang putra sejak dulu, bila kau ingin tahu. Katakan, sekarang katakan padaku, apa yang kau inginkan dariku, akan aku lakukan sebagai bentuk tebusan dariku, asal kau tak me memintaku untuk meninggalkan istriku."
Tatapan mata Alex sendu, mengisyaratkan perih dalam hatinya.
"Untuk itulah aku datang kemari mengundangmu, nak. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, semua kesalahanku dimasa lalu. Aku siap memberikan apa pun, apa saja yang kau ingin."
Marcel menggeleng dramatis seketika, saat ia mendengar jelas kalimat Alex.
"Sayangnya, meski papa tergolong orang kaya yang katanya berkelas, nyatanya papa tak lebih dari sekedar orang tua yang hanya memandang dan menilai segalanya dengan nominal. Aku sendiri tak butuh apa pun lagi. Bahkan aku sudah besar dengan kasih sayang yang tumpah ruah dari ayah Dion dan ibu Nora. Lupakan. Mari kita bersikap biasa saja jika bertemu dengan satu sama lain. Aku hanya ingin, semuanya baik-baik saja dan akan aku turuti semua ingin papa, termasuk panggilan papa. Hanya saja, tolonglah jangan bersikap berlebihan."
"Mengapa?"
"Mari kita tutup kisah lama, dan mari kita bersikap biasa saja setelah ini. anggap saja aku hanya golongan besan Tuan Kara."
__ADS_1
**