Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Mungkinkah Sepenuhnya?


__ADS_3

Langit nampak cerah dengan sinar mentari yang menerobos perlahan, menyinari bumi dengan angkuhnya, seolah bumi demikian tak bisa hidup tanpanya.


Sinar mentari demikian hangat mendominasi bumi, ketika merangkak dari peraduannya.


Cicitan burung-burung yang terbang bebas di udara, menambah kesan syahdu di pagi yang cukup cerah ini.


Kara telah dengan siap untuk bergegas kembali ke ibukota.


Macam pekerjaan menumpuk yang telah menunggunya tak bisa ia abaikan.


Ada tanggung jawab yang harus Kara penuhi karna sebuah amanah yang diembankan kepadanya selaku presiden direktur di kantor pusat perusahaan ayahnya.


Ia pergi meninggalkan Radhi dan Jelita yang masih betah di sana. Kedua orang tuanya ini memang ngotot untuk tetap tinggal untuk beberapa hari ke depan.


Beruntung ada sopir yang akan mengemudikan mobilnya hingga ke ibukota.


Maka, Kara memutuskan untuk menghubungi Seno.


"Seno, Aku berangkat agak siang ke kantor. Tolong handle beberapa pekerjaanku yang sekiranya bisa kau tangani."


" ..... ....."


"Baiklah, aku masih di desa. Mungkin jam 11 aku baru sampai kantor. Aku perlu pulang dulu dan menemui istriku".


" .... .... "


"Ya. Untuk yang itu, biar aku yang mengurusnya".


" .... .... "


"Hmmm baiklah".


Ponsel di putuskan sepihak oleh Kara.


Sepanjang perjalanan, dirinya berusaha memejamkan matanya. Berusaha memulihkan staminanya yang sedikit tergerus akibat kelelahan.


Hingga mobil yang kara tumpangi telah tiba


di kediaman Praja Bekti.


Kara segera mengayunkan kakinya untuk turun dan melangkah dengan pasti memasuki rumahnya.


Kara segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Senyum tak lepas dari bibirnya.


Rindu itu terasa membuncah.


Rasa asing itu kian merebak, seperti bunga-bunga yang bermekaran di musim panas. Di kelilingi banyak kupu-kupu mungil dengan sayap yang demikian indah coraknya.


Kara bahagia......


Entahlah.......


Rasa yang dulu ia miliki, kebencian yang demikian berkobar terhadap kaum wanita, kini padam sudah.


Kelembutan yang Hanum suguhkan,


Keramahan yang Hanum tebarkan,


Ketulusan yang Hanum curahkan,


Kini lah mampu membuat hati Kara tersentuh dan terbuai.


Klek


Pintu kamar terbuka. Wanita yang pertama kali di temuinya adalah istrinya.


Hanum merapikan meja kerja Kara dengan gerakan luwes dan cekatan.


"Ekhm.....".


Kara berdaham pelan untuk menarik perhatian istrinya, memberi tahu Hanum bahwa dirinya telah sampai.


"Mas...."


Hanum terkejut. Secercah senyum terbit di bibirnya yang penuh dan seksi.


"Sudah pulang? Mengapa tak membangunkanmu dan mengajak diriku serta menjenguk opa?


Bagaimana keadaan opa, hm?"


"Baik. Sudah lebih baik, tak perlu Khawatir.


Aku harus membersihkan diri dan segera berangkat ke kantor. Siapkan stelan kantor untukku. Waktuku tak banyak".

__ADS_1


"Hmmm baiklah. Sudahkah mas sarapan?".


Kara menjawab hanya dengan anggukan. Tanpa kata, dirinya segera melangkah ke kamar mandi.


Hanum tersenyum bangga.


Kedamaian menyusupi hatinya saat perlakuan Kara tak seangkuh dan sekasar dulu.


Perlahan namun pasti, Hanum merasa suaminya telah luluh olehnya.


Bagi Hanum, tak ada yang lebih membahagiakan dari ini.


Tujuannya hanya satu yang belum tercapai, melahirkan Azkara kecil seperti keinginan suaminya itu.


********


Seorang pemuda tengah membuka matanya perlahan. Pengaruh obat bius masih lah mempengaruhi matanya yang berat untuk segera di buka.


Berkali-kali, Ia merintih pelan menahan sakit, mendesis pelan menahan perih, dan mengerang lirih menahan rasa duka di hatinya.


Daniel.......


Pikiran pria itu tengah berkelana jauh. Tak seorang pun yang mendampinginya saya ini.


Mama dan papanya, tentu masihlah sibuk menunggui Alex.


Maklum, Daniel hanya anak tiri Sundari.


Memangnya, apa yang Daniel harapkan?


Mendapat kasih sayang utuh dari seorang ibu dan ayah?


Hhhhhh bermimpi saja.


Sekelebat bayangan gadis mungil tercetak jelas di otaknya. Memejamkan mata, Daniel meluruhkan air mata dalam pejaman matanya.


Sirna, Harapannya sirna saat Dita menolaknya dengan sangat keras.


Daniel memaklumi itu.


Namun tidak, Daniel tak akan menyerah.


Ia tetap harus memupuk tinggi harapannya untuk bisa berkeluarga, dengan Dita, dan Hana di tengah-tengah mereka.


Tapi tidak akan sedikitpun Daniel menyerah.


"Hana......."


Air mata Daniel kian menderas ketika nama Hana ia gumamkan dengan suara rendah.


"Maafkan papa......".


Bibir bawah Daniel, ia gigit kuat-kuat. Berusaha meredam gejolak rasa bersalah dan berdosa dalam hatinya. Jiwanya bergemuruh penuh sesal.


"Aku berjanji padamu, ta......Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Menebus kesalahanku padamu dengan memberikan seluruh cintaku padamu.


Ku mohon......


Tapi, bisakah kau menerimaku, setelah apa yang aku lakukan padamu?".


Daniel bertanya dengan lirih, seolah Dita bisa mendengarnya.


Suaranya demikian parau.


Di seberang sana........


Dita juga memejamkan matanya.


Menangis lirih di balkon kamarnya, mengadukan takdir hidupnya pada alam yang demikian syahdu menghembuskan angin untuk membantu meredakan gejolak hatinya yang tak kunjung tenang.


Ia tak sadar, bahwa Hana memasuki kamarnya pelan, mencari keberadaannya dengan menggendong boneka panda kesayangannya.


"Mama....".


Hana memanggil lirih ibunya yang menangis.


Anak itu tau, betapa ibunya demikian bersedih belakangan ini.


Dita tersentak, Saat namanya dipanggil oleh putrinya.


Maka, dengab secepat kilat, tangannya terulur menghapus air matanya yang deras mengalir.


"Oh, Hana.... Sejak kapan Hana memasuki kamar mama?".

__ADS_1


Suara Dita terdengar sengau akibat terlalu lama menangis.


"Baru saja. Mengapa mama menangis?"


Pertanyaan polos Hana, membuat Dita melukiskan senyum hangat. Senyum yang selalu Dita tunjukkan di hadapan Hana.


"Hana..... mama tidak apa-apa."


"Mungkin kah mama memikirkan papa?".


Dita menjongkokkan tubuhnya, mensejajarkan tinggi badannya dengan Hana.


"Tidak. Lupakan saja. Hana tetap bisa hidup meski hanya berdua dengan mama.


Dengar.....


Di masa depan, Hana tak memerlukan lagi seorang papa, karna mama akan selalu tinggal bersama Hana, mengerti?


Tidak akan lagi mama biarkan Hana tinggal jauh dari mama.


Mulai sekarang, kita hanya akan tinggal berdua.


Dengan syarat, Jangan lagi mengharapkan papa datang.


Kita hanya akan hidup berdua setelah ini, mengerti?".


Kalimat Dita yang panjang lebar itu demikian tegas.


"Tapi ma....."


"Sshhttttttt..... "


Telunjuk Dita terulur di depan bibir mungil Hana. "Kita akan tinggal berdua di desa, Hana pasti suka suasana pedesaan yang asri.


Mama akan bicara pada Oma dan opa".


Hana menggelang, kakinya melangkah mundur dari Dita.


"Tidak.


Hana mau ketemu papa.


Hana mau ikut mama tinggal di mana pun.


Tapi Hana mau ketemu papa, sekali saja.


Bila tidak bertemu papa, Hana tak akan pergi kemanapun sampai papa datang menemui mama".


Dita terkesiap.


Pernyataan Hana demikian membuat Dita terkejut luar biasa.


"Untuk apa bertemu papa, Hana?


Papa mu bukan orang baik".


Pernyataan itu lolos begitu saja dari mulut Dita, dengan tanpa perasaan.


"Biarlah bila papa tak baik.


Hana hanya ingin menyimpan wajah papa dalam kenangan, ma.


Di sini".


Tangan Hana menyentuh pelipisnya, kemudian beralih ke dadanya.


"Dan di sini".


Kali ini......


Dita kalah oleh kenyataan dan tak dapat memisahkan ayah dari anaknya, Sekuat apapun usahanya.


Mungkinkah ia harus membenci Daniel sepenuhnya kali ini?


Mungkinkah Sepenuhnya.....??


Tidak!!!!!!


Dita sangat membenci Daniel.


🍁🌻🌻🌻🍁


Hai para readers yang Budiman.....

__ADS_1


tetep dukung ya, tekan like dan jangan lupa komen dan vote buat bikin neng Tia semangat untuk terus up❤️❤️❤️


__ADS_2