Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Terpuruk dalam kepedihan


__ADS_3

Kara tengah melangkah mantap menuju sebuah pondok belakang rumah Minimalis milik Jelita yang ada di ujung belakang bangunan.


Langkahnya lebar dan ringan. Tak menunjukkan bahaya sama sekali.


Namun siapa sangka, bahwa dalam dirinya telah menjelma iblis yang memiliki kekejaman paling tinggi. Kehausan darah yang menggebu.


Di belakangnya, Seno berjalan ringan dan raut wajahnya datar. Pria itu sebenarnya tak tega melihat Dita yang telah disiksa oleh Kara. Namun kembali lagi pada apa yang telah di perbuat Dita, itu sudah sangat keterlaluan dan melewati batas.


"Bos..... Bagaimana dengan Gihana? Anak itu belum juga di serahkan pada Daniel dan masih berada dalam keluarga Adi Prama."


Pertanyaan Seno mengiringi langkah mereka.


"Lakukan sore ini. Hari ini memang batas tenggang waktu Hana masih berada di kediaman om Chandra.


Tante Dewi yang memintanya untuk menikmati waktu untuk terakhir kalinya bersama Hana".


"Baik, bos".


"Oh ya, Perintahkan pada salah satu pengawal untuk mengatakan pada Daniel agar segera menjemput Hana sore ini.


Katakan ini perintahku. Dan aku tak akan memberikan kesempatan dua kali bila Daniel menolak kebaikan hatiku".


"Siap bos".


Hingga tak lama, langkah mereka tiba di sebuah ruangan yang di jaga sangat ketat.


Sejenak, Kara memperhatikan sudut luar ruangan itu lekat-lekat.


Ruangan ini berukuran hampir seperti pondok pada umumnya. Luasnya hanya berkisar 2X3 meter. Di dalamnya, hanya ada kamar mandi.


"Buka pintunya".


Perintah kara tegas pada 2 orang penjaga pintu di sisi kanan dan kiri pintu.


Tanpa kata, Penjaga-penjaga itu pun segera membuka pintu. Mereka semua seolah mirip seperti patung.


Tak bereaksi lebih ataupun menunjukkan riak emosi yang mudah di baca.


Mereka sangat terlatih.


Reputasi mereka di dunia organisasi yang Jelita bangun khusus pengawal, tak di ragukan lagi. Jelita memang benar-benar telah menempa mereka dengan pelatihan khusus dan ketat.


Sebagian besar dari mereka, Jelita mengambilnya dari jalanan dan hidupnya sebatang kara. Maka, mereka mengabdi pada Jelita yang telah menolong mereka dan memberi penghidupan yang layak sebagai manusia.


Di bawah pimpinan Jelita, mereka hidup lebih baik dan terjamin segala kebutuhannya.


Jelita memang lebih suka mengambil orang yang tanpa keluarga untuk di jadikan pengawal.


Alasannya, mereka tak akan tumbang di bawah ancaman siapapun yang menyandera keluarganya.


Azkara masuk ke dalam ruangan itu, Dita tergolek lemah dan nampak pucat.


Tanpa di perintah, Seno segera menyalakan lampu yang terletak di tengah langit-langit ruangan.


"Bagaimana keadaanmu, Dita?"


Kara tersenyum dengan angkuhnya.


Tubuhnya tegap dan begitu menawan.


Wajah yang kemarin-kemarin tak terurus, kini nampak rapi dan lebih tampan karna Jelita telah menggantikan Hanum merawatnya.


"Aa....aku....Ku..ku--kumohon lepas...kan aku".


Suara Dita lirih.


Kara melirik meja kecil yang berada di dekat ranjang Dita yang keras dan terlihat tidak menampakkan kenyamanan.

__ADS_1


Sebuah piring dan gelas tergeletak dalam keadaan kosong.


Bagus, setidaknya, Dita tak akan mudah mati lebih dulu sebelum menerima hukumannya.


Begitu pikir Kara.


"Lepas?


Untuk apa kau meminta agar aku melepasnya?


Bukankah kau lebih suka bila berada di bawah kuasaku?"


Tanya kara dengan nada suar yang sensual.


"Aaaku tii...tidak kuaaat".


Lirihnya.


"Disini hidupmu akan jauh lebih asik, Dita.


Bahkan keadaanmu juga tak lebih baik dari Daniel.


Daniel.......


Pria itu hidupnya lebih tertata dan mulai bangkit dengan usaha barunya yang di bangun dalam skala kecil.


Sedangkan kau?


Dirimu bahkan lebih buruk dari rumput liar di luaran sana.


Harta yang selama ini membuat dirimu hidup mewah, bahkan om Chandra tak Sudi untuk dirimu menerima kemurahan hatinya."


Telak.....


Ungkapan Kara demikian telak menohok dalam hati Dita.


Perlahan, hanya Isak tangis yang Dita keluarkan dari bibirnya.


Menakutkan, bukan?


"Mengapa hanya diam, Dita......?


Ayo katakan sesuatu. Kebungkamanmu membuat permainan tidak seru lagi bila kau tak tau itu".


Sekuat tenaga, Dita yang sedari tadi diam dan hanya menunduk, kini mendongak dan menampakkan wajahnya yang menyedihkan.


Tidak ada kecantikan yang dulu sangat menawan dan di bangga-banggakan.


Tidak ada wajah ayu yang dulu sempat membuat kara terpikat hingga sepenuh hati.


"Bagus, menangislah.... Kau perlu mencicil air mata istriku lebih banyak lagi.


Kau tau? Ada banyak air mata yang masih perlu kau keluarkan untuk menebus luka istriku".


Kara kembali melangkah lebih dekat.


Bila dulu, berdekatan dengan Kara adalah impian Dita, namun tidak untuk sekarang.


Justru Dita merasa semakin tertekan dan terintimidasi oleh langkah Kara yang semakin dekat.


"Ja....jangan.....".


"Lihat ini...."


Kara merogoh saku celananya untuk meraih ponselnya.


Kemudian menunjukkan layar ponselnya pada Dita.

__ADS_1


Sebuah video berdurasi tak lebih dari dua menit, mampu membuat mata Dita melotot.


Tenggorokan Dita terasa tercekat. Darahnya seolah berhenti mengalir seketika.


Itu adalah video Dita lebih dari sembilan tahun lalu, ketika Daniel dan Alex menggumuli Dita secara bergantian.


Dalam video itu, wajah Dita terlihat sangat jelas.


Berbeda dengan Daniel dan Alex yang sengaja di sensor wajahnya oleh Kara.


"Bagaimana bila Video ini ku sebar luaskan pada publik?


Om Chandra telah melepas nama Adi Prama dari dirimu, kemudian......


Tersebar video skandalmu bersama Daniel dan Alex, bukankah itu sangat menyenangkan?


Siapkah kau nanti setelah kau bebas dariku, menerima tekanan dari masyarakat luas dan kak Arlan......


Akan senang hati menyeretmu ke penjara yang dingin dan kejam, atas kasus pornografi?"


Wajah Dita semakin pucat.


Ia jelas merasa tertekan akan semua ini.


"Seno".


Panggil Kara kemudian.


"Ya, bos....."


"Sebarkan video ini secepatnya."


"Baik, bos".


"Jangan..... kumohon mas Ku mohon. Hentikan.....


Jangan".


Kali ini, biarlah Dita mengemis di hadapan Kara.


"Penjarakan aku seumur hidup asal jangan kau sebarkan video itu, kumohon....."


Dita segera turun dari ranjang, Meluruh ke lantai dan berlutut di hadapan Kara.


"Tidak.... Bukankah tadi kau sendiri yang meminta ku lepaskan?".


Ucap Kara ringan. Ia tersenyum penuh kemenangan kali ini.


"Oh, bagaimana bila kita bertaruh?


Bila dalam sebulan aku tak mendapati istriku kembali, maka........


Aku memberimu dua pilihan yang bebas kau pilih.


Ku sebar luaskan video skandalmu ini, atau ku congkel matamu dan ku buat cacat kedua kakimu untuk selamanya?


Tetapi bila aku bisa menemukan istriku dan berhasil membawanya pulang, maka aku akan membebaskanmu untuk di asingkan di sebuah pulau atau pun lembah yang jauh dari sini".


Oh tidak.... Bagaimana ini?


Bukankah semua pilihan Kara jelas tak ada yang menguntungkan Dita?


siksaan macam apa itu?


Kara berbalik pergi, meninggalkan Dita yang semakin terpuruk dalam kepedihan yang mendalam, menikmati sakit yang tak Terperi.


"Ku mohon, Jangan lakukan itu......!".

__ADS_1


Ucap Dita diantara Isak tangis yang terdengar semakin menyedihkan.


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2