
"Mas, aku ijin pergi keluar sebentar untuk membeli sesuatu."
Suara Hanum terdengar dari seberang telpon Kara.
"Bersama siapa? Apa sudah di luar?".
Kara bertanya dengan nada tak sabar. Entah mengapa, perasaannya mendadak tidak enak saat ini.
"Ya. Tadi aku menelepon mas, tapi tak di angkat. Ku pikir mas sedang sibuk.".
"Ya, aku baru selesai meeting.".
"Ya sudah, ini aku sudah turun dari mobil dan sopir menungguku di halam..... Aaarrrggg....."
Suara Hanum seketika berubah menjadi sebuah teriakan, di saat yang bersamaan, suara nyaring sepeda motor juga terlibat dalam pendengaran Kara.
"Hanuuuum.....".
Kara terlonjak. Bahkan suaranya terdengar hingga di luar ruangan. Seno yang mendengar suara tak wajar Kara segera masuk tanpa pikir panjang.
"Ada apa, bos?".
"Lacak nomor istriku. Sepertinya dia sedang celaka".
Langkah lebar Kara di susul Seno seketika itu juga.
*****
Kara tengah berjalan mondar-mandir di depan ruang IGD.
Tak jauh darinya, Jelita duduk dengan tenang. Pikirannya tengah berkelana jauh. Entah apa yang sedang Nyonya besar Praja Bekti itu pikirkan. Hanya Tuhan dan dia sendiri yang tau.
Radhi......
Saat ini tengah menggantikan Kara menghadiri meeting penting. Hanya Jelita yang dengan tangkas datang secara langsung.
"Seno, bagaimana dengan pengendara itu?
Apa sudah di temukan?".
Seno yang juga duduk tak jauh dari Jelita segera mengalihkan pandangannya.
"Belum, nyonya. Apa nyonya sedang mencurigai sesuatu?".
Seno bertanya dengan mimik wajah tertekan karna tak juga menemukan pelaku tabrak lari Hanum.
"Ikut aku. Biarkan Kara yang menunggu istrinya"
Pandangan mata Lita beralih pada putranya.
"Kara, mama akan pergi sebentar ke kantin rumah sakit. Jangan pergi kemanapun dalam keadaan kalut.
Kau mengerti?".
Kara hanya mengangguk. Ia tak mampu sekedar untuk menjawab. Wajahnya sangat kacau balau, penampilannya juga kusut masai.
Sungguh, tak ada yang lebih membuat nya hingga sekacau ini.
Setibanya di kantin, Seno segera memesankan minuman dingin untuknya dan Jelita.
__ADS_1
"Bagaimana, nyonya?".
"Ku rasa..... ini sebuah kesengajaan, Seno. Instingku mengatakan, Dita lah otak di balik kecelakaan Hanum. Kau tau? Biasanya instingku tak pernah salah. Dan semoga saja kali ini juga tak salah".
Seno membeku.
"Lantas, apa yang harus saya lakukan, nyonya?".
"Dengar, bila misi mu menemukan pelakunya menemui jalan buntu, kurasa ambil langkah lain untuk menyelidiki pihak yang kita curigai.
Lakukan semuanya dengan rapi. Aku akan menyuruh dua pengawal terpercaya dan terkuat yang ku miliki untuk mendampingimu.
Ingat!!
Jangan meninggalkan jejak apapun.
Kau harus waspada agar Dita tak mencurigai ada orang yang sedang mengintainya"
Jelita berkata serius.
Seno mengangguk paham.
"Baik, nyonya".
"Dan satu lagi, Seno".
Seno mendongak lagi menatap Jelita.
"Sebarkan berita bahwa nyonya muda Praja Bekti tengah terkapar dan berjuang antara hidup dan mati.
Aku ingin pelakunya terpancing dengan berita itu. Dengan begitu, aku bisa dengan mudah memancing, memastikan dan mendapatkan bukti konkret kejahatannya"
"Apakah beritanya harus di buat se parah itu?".
"Baik, nyonya".
Beberapa waktu kemudian.....
Malam mulai larut. Kini, kara tengah mengusap pelan rambut istrinya yang menjuntai di sisi-sisi bantal. Rambut merah kecoklatan sewarna madu itu, demikian lembut dan tergerai indah. Menciptakan visual yang indah bagi siapapun yang melihatnya secara langsung.
Kara menatap lekat istrinya. Beberapa waktu lalu, dokter mengatakan bahwa lukanya tak ada yang serius, hanya cidera ringan.
Meski begitu, Kara tetap tak bisa membiarkan istrinya begitu saja.
"Maafkan aku.....
Maafkan aku yang tak bisa menjaga mu sellau, num. Aku menyesal telah membiarkan mu pergi seorang diri.
Ku mohon maafkan aku".
Kara melirik ke arah ranjang lain di ruangan itu, ranjang khusus untuk penunggu pasien.
Callista dan ibu mertuanya tertidur. Mungkin kelelahan. Di liriknya jam di pergelangan tangan Kara. Waktu telah menunjukkan pukul 02.10 Dini hari. Dan ini telah lebih dari Dua belas jam Hanum tak sadarkan diri.
"Tidurlah, nak. Sampai kapan kau akan tetap terus terjaga seperti ini. Hanum akan sangat sedih bila tau bahwa kau demikian kacau.
Percayalah, ia akan baik-baik saja. Dia wanita yang kuat".
Liana bangkit dari tidurnya. Ia membiarkan Callista tidur seorang diri.
__ADS_1
Langkahnya menuju sofa tunggal memanjang di sudut ruangan.
"Ayo istirahatlah".
"Biarkan saja, Bu. Aku akan menunggui Hanum hingga aku lelah sendiri".
Senyum kecil tersungging di bibir Kara".
Liana hanya bisa menghembuskan nafas dengan kepasrahan.
"Baiklah, istirahatlah bila kau lelah"
"Tentu".
Hening.
Ruangan kembali hening.
Hingga getar ponsel Kara terdengar.
Maka, Kara segera mengangkatnya.
Sebuah pesan notifikasi masuk.
Sebuah kabar bahwa pelakunya tak juga di temukan.
Kara tak tau saja bahwa saat ini, jelita telah menemukan pelakunya. Hanya saja, Jelita berniat mendiamkan dulu. Ada saatnya nanti jelita mengambil langkah drastis.
Sekali lagi, Kara hanya bisa mengumpat dalam hati.
******
"Bagus Seno. Aku luas dengan kinerjamu.
Pertahankan dulu posisi seperti ini.
Rubah licik itu harus ku beri pelajaran bila saatnya nanti tiba".
"Mengapa kita tak bertindak cepat, nyonya?".
"Bertindak cepat dengan cara yang gegabah, untuk apa? Apa untungnya?"
Jelita menatap tajam Seno.
Tak ada yang bisa Seno lakukan kecuali diam menunduk. Jelita memang wanita yang sulit di raba emosi dan rencananya yang terstruktur.
"Ma-maaf, nyonya".
"Dengar. Aku akan menghancurkan rubah betina yang licik itu, hingga hancur tak tersisa.
Dan akan ku buat ia belajar tentang arti sebuah pembayaran hutang."
Seno diam tak menjawab.
Di saat yang bersamaan, Radhi muncul dengan setelan linen Silver. Membuatnya nampak gagah mempesona dari watu ke waktu
"Kita biarkan saja, dulu. Ada saatnya nanti kita bergerak cepat, namun sekarang. Aku tak akan semarah ini bila si rubah itu melukai aku ataupun Kara.
Sayangnya, di sini menantuku lah yang Terbarig lemah tak berdaya.
__ADS_1
Maka bisa ku pastikan ia juga harus membayar harga yang sama".
🍁🌻🌻🌻🍁