
Yasmin tersenyum lebar, saat matanya menatap sebuah memo yang ia tulis dan ia tempelkan di pintu kamar ibunya, Inora. Waktu telah menunjukkan nyaris tengah malam, dan ini baru pertama kali dirinya akan keluar rumah di tengah malam begini, terlebih bersama Aksa, tanpa pamit pada orang tua dan hanya meninggalkan pesan lewat memo.
Antara masih tak percaya dan percaya, Yasmin merasa bahwa ia telah menjadi istri Aksa, lelaki berdarah biru keturunan Praja Bekti. menjadi menantu Hanum dan Azkara, sekaligus cucu Jelita dan Radhi.
Langkah Yasmin pelan sembari menutup pintu dan menguncinya dengan kunci cadangan. Suasana sunyi senyap dan Aksa memanggil salah satu pengawal yang berjaga di dekat rumah Inora, untuk mengawalnya dari jarak jauh.
Musuh bisnis Radhi tak bisa dikatakan sedikit. Bisa saja sewaktu-waktu Aksa dicelakai dan dijadikan tawanan oleh salah satu dari mereka. Terlebih ada Yasmin yang bisa saja ikut menjadi sandera.
"Sebenarnya, kita akan pergi kemana, Aksa? Ini sudah malam. Aku takut bila nanti kenapa-kenapa dengan kita berdua. Kau pasti akan dihajar lagi oleh Oma mu." Yasmin bergidik ngeri saat membayangkan Jelita marah lagi.
"Oma tak akan marah padaku, Yasmin. Percayalah. Dia itu lembut sebenarnya, hanya saja jika marah, suka hilang kendali dan kalau memukul, tak main-main."Tukas Aksa kemudian.
"Lalu, kemana kita akan pergi?"
"Berkeliling hingga membuatmu mengantuk dan kita bisa tidur. Katakan saja jika kau mulai mengantuk. Aku akan segera pulang." imbuh Aksa sembari mengemudikan mobilnya membelah jalanan ibukota yang sepi, tak seperti di siang hari yang ramai.
"Ya Tuhan. Kalau begini namanya, kau tak punya kerjaan." Imbuh Yasmin kemudian.
"Bagaimana dengan sakit kepalamu? Dan juga.... Lambung?" Tanya Aksa kemudian. Ia sedikit ragu sebenarnya, ragu dan cemas jika nanti Yasmin ini besar kepala dan mengira Aksa mengkhawatirkannya.
Perasaan penasaran akan sosok Yasmin, kini tak lagi menggebu karena Aksa telah memperistri Yasmin. Tapi tetap saja, Aksa ingin Yasmin tak sakit lagi. Berdua dengan Yasmin, diam-diam cukup membuat Aksa nyaman, namun ia cukup naif dan tak menyadarinya.
Ketika Aksa seranjang tadi bersama Yasmin, jangan tanya bagaimana emosi asing yang telanjur bercokol dalam hati Aksa. Lelaki muda itu merasa jantungnya berdegup tak karuan, darahnya yang berdesir keras, cukup membuktikan bahwa ia tengah jatuh cinta pada sosok Yasmin. Namun sayang, Aksa masih belum paham juga dengan apa yang dirasakannya.
Untuk definisi sebuah cinta sendiri bagi Aksa, itu adalah hal yang tabu.
"Sedikit membaik. Sakit di perutku sudah sedikit lega setelah minum obat tadi. Tapi pening di kepala masih ada." Ungkap Yasmin pelan sembari menunjuk kepalanya.
__ADS_1
"Maukah kubawa ke dokter? Kebetulan dokter keluarga Praja Bekti adalah kerabat om Seno, suami Tante Luna." Tanya Aksa sembari matanya tetap fokus pada jalanan di depannya.
"Selarut ini? Ya Tuhan, Aksa. biarkan orang lain untuk istirahat." Yasmin tak habis pikir dengan suaminya yang suka melakukan sesuatu sesuai kehendaknya sendiri. Tidak tahukah jika nanti ia tak akan dilayani oleh dokter?
"Tapi dia dokter keluargaku, Yasmin. Tak masalah jika aku menghubunginya. toh yang sakit itu kau, istriku. Jadi tak ada alasan untuknya menolak ku, dan lagi, keluargaku sudah membayar mahal jasanya." Jawab Aksa tampak santai.
"Oh tidak-tidak. Tidak perlu. Aku hanya perlu istirahat dan kembali mengatur pola makanku. Semua pasti akan kembali dengan mudah. Jadi kau tak perlu khawatir."
"Cuih. Aku tak mungkin mengkhawatirkan dirimu. Memangnya kau ini siapa? Jangan besar kepala. Aku begini juga karena aku tak mau opa memarahi aku karena tak becus dalam mengurusmu."
Mendengar kalimat Aksa yang acuh, membuat Yasmin mendengus sebal. Dasar, tadi sudah jelas-jelas Aksa khawatir, tapi masih saja lelaki itu menyangkalnya.
"Aku mau makan mie goreng. Boleh kan? Aku sepertinya, sedikit lapar." Yasmin memegangi perutnya yang memang tengah berbunyi memalukan.
"Mie goreng? Apa itu? Apa mie goreng seperti yang di jalan-jalan itu?" Tanya Aksa tak mengerti. Selama ini, Aksa memang tak pernah makan dan mencicipi makanan jalanan, karena Selama ini ia mengonsumsi pasta.
"Ya, aku ingin makan di dekat pertigaan depan. Semoga saja masih buka." Ungkap Yasmin. Tak ayal, Aksa segera menepikan mobilnya di dekat sebuah warung tenda pinggir jalan. Tampak sekali beberapa anak muda nongkrong di sana dan kedatangan Aksa-Yasmin yang menjadi pusat perhatian.
"Untuk apa? Apa dua ratus juta belum cukup untukmu?" tanya Aksa sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Aku tak membawa ATM card. Beri aku dua lembar uang berwarna merah."
"Biar aku yang membayar nanti. Kau jangan pikirkan itu."
"Ish..." Yasmin berdecak tak suka. "Beri saja. Atau begini, aku pinjam dulu dan akan mengembalikannya padamu esok hari. Cepat." Aksa kalah. lelaki tampan itu mengeluarkan dompetnya dan memberi uang dua lembar berwarna merah kepada Yasmin, karena tak ingin mendebat Yasmin dan berakhir merusak suasana hatinya.
"Terima kasih." Yasmin beranjak dari duduknya. gadis itu menuju ke arah Abang penjual nasi goreng dan memesan mie goreng untuk semua anak muda yang sedang nongkrong di sana.
__ADS_1
"Kau, mau apa, Yasmin. Jangan berulah dan jangan merusak moodku malam-malam begini."
"Maaf, Aksa. Tapi aku hanya ingin sekedar berbagi untuk mereka yang memang membutuhkan makan seperti kita. Lihat, dengan uang dua lembarmu tadi, itu tak seberapa bagimu, tapi sangat bernilai untuk mereka yang tak bisa makan. Jangan pernah takut untuk berbagi, hartamu tak akan habis jika untuk membelikan makanan sepuluh orang yang ada disini, Satu lembar uang darimu, siapa tau sangat berharga bagi mereka yang kekurangan makan dan minum air bersih."
Yasmin tersenyum manis. Satu fakta yang baru Aksa sadari, Yasmin adalah pribadi yang sangat dermawan. Hatinya tulus dan bersih, berbeda sekali dengan gadis kebanyakan di kota itu. Dari sinilah, Aksa merasakan Yasmin gadis yang baik hati dan lain dari yang lain.
"Jika kau mengatakannya dari awal, aku tak akan mencegah seperti tadi. Kau begitu dermawan, Yasmin." Tukas Aksa kemudian.
"Terima kasih." Timpal Yasmin. "Aku memang dari keluarga sederhana, Aksa. Pernah terlambat makan karena ibu tak kunjung menerima uang dari ayah akibat keterlambatan gaji, aku pun pernah merasakannya."
"Ya Tuhan, benarkah? Kau begitu baik."
"Tentu."
"Kalau begitu, jika suamimu ini meminta jatah malam pertama denganmu nanti malam, aku yakin kau pasti akan memberinya. Kau kan gadis yang dermawan?"
Yasmin syok luar biasa. gadis itu tak siap dan tidak pernah membayangkan jika Aksa membuatnya menjadi istri yang sejati dengan melayaninya.
'Astaga, matilah kau sebentar lagi, Yasmin."
Bisik batin Yasmin dalam hati.
**
Jadi di mintain jatah beneran nggak ya, Yasmin-nya?
Ah, Aksa benar-benar.......
__ADS_1
🤓🤓
Tungguin part selanjutnya besok, ya? Bye buat semua kakak readers tersayang. 🤩🥰