
"Selamat datang, tamu kehormatan".
Ucap John dengan suara berat khas bajingan sejati.
Dalam hati, Aridha berdecih lebih jijik pada pria itu.
"Aku hanya ingin meminta padamu untuk mengembalikan pemuda penerus Praja Bekti pada kami, secara baik-baik."
Ucap Seno menimpali dengan suara datar.
"Tidak semudah yang kalian pikirkan. Jangan berharap banyak. Kau tau? Tak ada yang gratis di dunia ini".
John tertawa menjijikkan. Layaknya tua bangka bajingan yang memang di desain sedemikian mengerikan.
"Kami tak merasa membuat konfrontasi dengan mu, ataupun jaringan bisnismu, tuan John Billy Vaques. Jika ada yang kau inginkan dari kami, bicarakanlah baik-baik tanpa membuat konspirasi dengan tuan besar Radhi Praja Bekti, selama kami bisa penuhi tentu saja akan kami penuhi".
Seno menimpali dengan nada sopan seperti biasanya. Suami Aluna itu tak pernah berubah sejak dulu.
"Hahahahahah........ Aku sangat mengetahui bagaimana ayahmu menjaga harta berharganya dengan sangat hati-hati. Ku pikir, tak mungkin tuan besar Praja Bekti itu akan memenuhi permintaanku, mengingat bahwa yang ku incar ini, adalah sesuatu yang berharga baginya".
"Belajarlah untuk mendapatkan segala sesuatunya dengan kerja keras, tuan John Billy Vaques. Bila kau terbiasa mengambil sesuatu yang bukan milikmu tanpa seijin pemiliknya, bukankah itu pencurian namanya? Tidakkah orang tuamu mengajarimu bahwa mencuri adalah sikap yang tidak terpuji?"
Kalimat pedas Ridha lontarkan dengan senyum manis.
"Aku memang brengsek, bajingan, biadab, jahat dan.... apalah sebutan yang ingin kalian sematkan untukku. Jadi jangan membawa-bawa nama orang tuaku yang tak tau apapun di surga sana!"
John berkata ringan, seolah ia sedang membicarakan musim panas dengan seorang kawan lama.
__ADS_1
"Surga? Memiliki anak durhaka akibat salah mendidik, apakah orang tua sudah pasti akan masuk surga?"
Aridha memulai serangan melalui kata-kata. Biar bagaimana pun juga, ia perlu membuat John murka dan mengejarnya. Ini semua adalah taktik dalam upaya memancing John keluar dari sarangnya.
"Kau wanita, tapi kata-kata mu seperti nyonya besar Praja Bekti. Pedas dan menusuk tepat di ulu hati. Tapi aku suka gayamu".
Bukannya marah, John justru terkekeh kecil.
'Sialan, sulit sekali membuat gorilla ini terpancing emosinya'
Ridha mengumpat dalam hatinya.
"Baiklah, bila bilah kamu tau, apa sebenarnya yang anda inginkan dari keluarga Praja Bekti?"
Tanya Seno.
Baik Seno maupun Aridha, terkejut, namun mereka berhasil menyembunyikan keterkejutan mereka dengan baik. Ia tak menyangka di usia Jelita yang sudah menjadi Oma, di incar oleh pria bertubuh tambun, bulat, dan kepala botak menjijikan.
Astaga.... di lihat dari apapun juga, Radhi bahkan jauh terlihat lebih gagah nan perkasa di banding pria gila yang satu ini.
"Kau ingin Jelita?" Ridha bertanya demi memastikan bahwa pendengarannya masih normal.
"Ya. Dan apa kau tau? Tuan muda Praja Bekti itu justru menawariku sebuah kerja sama untuk mendapatkan nyonya besar yang cantik itu." John menjawab dengan terkekeh geli. Namun siapa sangka, kilat matanya mulai menunjukkan kekejaman total. Aura membunuh yang mendominasi dari John, mulai terasa meresahkan.
Baik Ridha maupun Seno, mereka sama-sama menajamkan mata dan mulai mengambil ancang-ancang sebagai persiapan jika sewaktu-waktu orang-orang organisasi John menyerang mereka.
Kalimat terakhir John, Ridha simpan baik-baik di dalam memori otaknya.
__ADS_1
"Bedebah, jangan banyak bicara bila kau memang ingin berperang dengan keluarga Praja Bekti secara langsung!"
Ridha mengamuk anak panah di belakang punggungnya dan mengarahkan dengan busur panahnya, tepat ke arah anak buah John yang berdiri persis di saling John.
Belum sempat John menimpali Kalimat Ridha, anak buah John yang berdiri persis di sampingnya, tumbang dengan anak panah yang menancap tepat di dada kirinya. Darah segar mengalir seiring wajahnya yang memucat.
"Brengsek!! Hadapi mereka semua!!"
Perintah John dingin pada semua anak buah yang mendampinginya. Ia berbalik pergi begitu saja dan masuk kedalam, di ikuti dengan beberapa dua orang anak buah yang melindunginya. Sayang beribu sayang, Alex sudah lebih dulu menyelinap masuk dan membaur bersama para anak buah dan menyamarkan diri untuk menyusup.
"Pengecut!! Pecundang!!
Harusnya kau hadapi musuh-musuh mu dan tidak patut seorang bajingan sejati hanya bersembunyi dibalik punggung prajurit!!"
Hardik Aridha kasar dengan gerakan gesit menghindari tembakan demi tembakan yang di arahkan padanya. Ia juga bahkan telah berhasil menjatuhkan beberapa orang dengan busur panahnya yang beracun.
Bisa di jamin, siapa pun yang terkena tusukan anak panah yang Jelita buat, tak akan terselamatkan.
Pertarungan tak bisa di elakkan lagi. Suara tembakan demi tembakan terdengar memekakkan telinga, layaknya medan perang yang siap menumpahkan ribuan tetes darah. Kemampuan Seno dalam menembak, juga Ridha yang juga petarung hebat dan ahli menggunakan busur panah, kini mulai terlihat.
Di ruang penyekapan, John masuk ke dalam ruangan keberadaan Aksa. Aksa tersenyum simpul akan kedatangan John. Suara tembakan saling bersahut-sahutan, terdengar semakin gencar. Aksa tak terkejut, itu adalah keluarganya yang datang untuk membebaskannya.
"Bila tak kudapat kan Jelita Ayudya, aku pastikan keluarga Praja Bekti akan mengendus tanah kematian mu dan menghias peti kematian mu, dengan karangan bunga tujuh rupa.".
Hanya itu yang John ucapkan, sebelum kemudian ia berbalik pergi. Tanpa John sadari, Alex mengekor di belakangnya dan berusaha mencari celah membuka pintu masuk, untuk Radhi yang sudah siap menjemput Aksa.
🍁🍁🍁
__ADS_1