Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Keranjingan Cinta


__ADS_3

Sepasang suami istri tengah menikmati makan malam romantis penuh kebahagiaan.


Seminggu berada di Berlin benar-benar di manfaatkan oleh Kara dan istrinya untuk menikmati momen bulan madu yang tertunda.


Bukan hanya ada aktifitas ranjang saja, akan tetapi kara juga membawa istrinya jalan-jalan dan belanja untuk oleh-oleh keluarganya.


Beberapa tempat wisata yang ada di Berlin, telah Kara dan istrinya kunjungi.


Tak henti-hentinya Hanum berdecak kagum ketika kakinya menapaki beberapa tempat wisata.


Dita?


Wanita itu bahkan tak sedikitpun mendapatkan celah untuk menggoda Kara.


Ini adalah malam terakhir Kara berada di Berlin.


Besok pagi-pagi sekali ia harus telah berkemas untuk pulang.


Tak jauh darinya, Dita menyaksikan kebahagiaan mereka dengan penuh sakit. Luka yang dulu ia torehkan pada Kara, kini berbalik menyerang dirinya secara membabi buta, bahkan menerjangnya dengan sangat brutal.


Dalam diamnya, Dita terus meneteskan air mata.


Kini .........


Dirinya hanya mampu menyaksikan pria yang di cintai nya tengah menikmati momen romantis bersama istrinya.


Berteriak? Dita ingin berteriak. Sayangnya ia tak bisa bodoh begitu saja.


Ambisinya untuk memiliki Kara demikian kuat.


Sembilan tahu Dita terjebak dalam kubangan penderitaan tanpa dasar. Hidupnya kacau balau di tangan Daniel dan Alex.


Mimpi-mimpi nya hancur dalam sekejap.


Jadi, kali ini Dita hanya menuruti kara harinya untuk bisa bahagia.


Membahagiakan dirinya adalah bila ia berhasil menjadi pendamping Kara.


Ya......


Hanya satu nama.


Azkara putra Praja Bekti.


Dalam diam hati Dita berjanji, Kara akan menjadi miliknya. Apapun caranya.


Tak peduli andai dunia menolaknya....


Andai dunia menentangnya.....


Andai dunia memusuhinya.....


Andai dunia menyerangnya.....


Tidak akan sedikitpun Dita goyah.


Dita hanya tak tau saja, bahwa saat ini, ia tengah di intai para orang-orang radhi.


Ia hanya belum tau saja bagaimana neraka yang di janjikan Jelita bagi siapapun yang mengusik rumah tangga putranya, Kara.


"Mas, bagaimana bila sepulang dari sini aku tak juga hamil?".


Kini Hanum menyuarakan isi hatinya.


Gundah gulana.....


Itulah yang di rasakan Hanum ketika teringat akan keadaannya yang belum juga kunjung hamil. Ia tak mau mengecewakan suami dan keluarga suaminya.


Tidak......


Hanum tak bisa membayangkan itu.

__ADS_1


Kara tetiba tergelak.


Ada rasa geli dalam hatinya.


"Mengapa harus sesedih ini? Kita berumah tangga juga baru sebentar, hm?"


Kara meraih dagu Hanum dan mengangkatnya agar menatap dirinya.


"Iya, tapi aku takut saja".


"Num, dengar.......


Ada yang menikah hingga dua belas tahun baru di beri kepercayaan tuhan dengan memiliki anak. Dan aku tak akan mempermasalahkan andai dirimu tak juga kunjung hamil.


Bukankah dokter spesialis kandungan juga memberi keterangan bahwa kita sama-sama sehat? Andai hingga beberapa tahun ke depan kau tak juga bisa memberiku keturunan, Kita bisa menggunakan metode bayi tabung atau semacamnya.


Akan tetapi aku menikahimu sungguh karna aku kini mencintaimu.


Jadi apapun yang menjadi kekuranganmu, aku akan menerimanya dengan tangan terbuka.


Tak peduli meski kau sampah, aku akan mencintaimu karna kau telah menunjukkan kualitas dirimu sebagai wanita sabar dalam mengahadapiku".


Hanum meluruhkan air matanya haru, pernyataan karta akan cintanya, benar-benar membuat Hanum bahagia setengah mati.


Sedang tak jauh dari mereka Dita juga meluruhkan air matanya. Namun air mata duka.


Hatinya demikian sakit tak Terperi. Dirinya demikian hancur ketika mendengar pernyataan cinta kara pada Hanum.


Dan sesungguhnya, kecemburuan yang Dita miliki ini sangat ironi ketika pasangan yang ia cemburui, nyatanya mereka adalah pasangan suami istri.


Dan iblis dalam diri Dita meneriakkan kekalahan. Maka, ia mulai gelap mata.


Hutang uang harus di bayar uang.


Hutang nyawa harus di bayar nyawa.


Sasarannya adalah Hanum.


Dita mulai gila.


Ia tak mau begitu saja meneriakkan kekalahan.


Azkara harus menjadi miliknya, sekalipun ia harus memporak porandakan dunia demi kebahagiaannya.


Ia berpikir bahwa dunia tak adil padanya.


Sekali lagi, mata Dita menangkap Kara yang memeluk mesra Hanum dengan penuh kasih.


"Terima kasih, mas. Aku mencintaimu".


"Oh benarkah?".


"Tentu saja".


"Baiklah, bila begitu beri aku kenangan termanis di Berlin dengan memberikan surga ranjang sepanjang malam di malam terakhir kita berada di sini!!".


"Baiklah, sepanjang malam. Kau sanggup?".


"Kau menantangku?".


"Aku pasrah saja bagaimana kau menikmati ku".


"Oh shiiiit!!


Kau membangunkan singa dalam diriku di tempat umum seperti ini, Hanum".


Hanum terkekeh malu. Mereka seperti sepasang kekasih remaja yang saling keranjingan cinta.


Dita yang menyaksikan kebahagiaan Meeka semakin murka. Sayangnya, ia tak bisa berbuat Apa-apa.


*******

__ADS_1


Dewi dan Chandra menatap Hana yang tertidur pulas. Mereka menatap penuh kasih sayang.


Lima hari yang lalu, Daniel datang dengan mengutarakan maksud baiknya untuk bisa menikahi Dita.


Meski keuangan Daniel benar-benar merosot, namun pria itu menjanjikan kebahagiaan untuk Dita dan Hana.


Namun Chandra ragu.


Ia memang melihat ketulusan Daniel dari pendar matanya.


Namun, bagaimana dengan Dita? Apakah Dita akan bersedia?


Chandra tak bisa memutuskan jalan hidup Dita.


Bukankah Dita juga berhak untuk bahagia?


"Bagaimana menurutmu, mas?


Apakah kau tak melihat bagaimana Daniel menunjukkan penyesalannya itu?


Ku rasa Daniel telah banyak berubah".


"Ya, kau benar. Tapi kita tak bisa memutuskan tanpa melibatkan Dita di dalamnya. Bagaimana pun, ini menyangkut hidup Dita".


"Ya. Dan kita harus memaksanya. Hanya menikah dengan Daniel saja yang bisa membuatnya terbebas dari perasaannya terhadap Kara.


Aku yakin, seiring berjalannya waktu, Dita pasti bisa mencintai Daniel karna mereka selalu bersama. Dan ini akan semakin baik untuk perkembangan Hana".


Tangan Dita perlahan mengusap rambut Hana yang tertidur.


"Maksudmu, kita memaksanya?".


"Ya."


Dewi mengangguk mantap. Matanya lekat menatap Chandra.


"Hanya itu satu-satunya cara agar bisa membuat hatinya berhenti berpaut pada Kara.


Aku tak mau Dita mengalami tragedi lagi karna Kara. Selama ini, Dita sudah cukup menderita. Aku tak mau ia berbuat sesuatu yang bisa memancing kemarahan Kara".


"Kau benar. Aku akan membicarakan ini bila ia mengunjungi Hana."


Dewi bernafas lega.


Mereka tak tau saja, bahwa saat ini......


Dita tengah bersusah payah menggali kuburannya sendiri.


Chandra dan Dewi saling tatap. Mereka sama-sama tersenyum puas. Kali ini, mereka mau agar Dita harus ikut apapun yang menjadi rencananya.


Tidak boleh tidak.


Sesaat, ponsel Chandra berbunyi.


Baik Chandra maupun Dewi sama-sama keluar dari kamar Hana. Mereka tak mau bila Hana terbangun tiba-tiba karna dering ponsel Chandra yang nyaring.


"Halo....."


"......."


"Baiklah".


"Sayang, sebentar lagi kak Radhi dan kak Lita akan datang kemari.".


"Baiklah, aku akan menyiapkan makanan kecil untuk mereka".


Chandra hanya mengangguk.


Menerka-nerka tentang kepentingan apa yang hendak Radhi sampaikan padanya.


🍁🌻🌻🌻🍁

__ADS_1


__ADS_2