
[Aku ke desa bersama papa dan mama, num.
Jangan pergi kemanapun tanpa ijinku. Tetaplah di rumah, jadilah istri yang penurut. Aku tak lama, karna besok pagi-pagi sekali, jika waktu memungkinkan, Aku akan pulang bersama papa.
Sengaja aku tak mengajakmu, karna aku tak ingin mengganggu lelap mu dengan wajah mu yang menyejukkan sanubari ku.
Jangan lupa sarapan.
Aku akan segera kembali, cinta]
Usai menulis pesan, Kara menempelkan surat itu di depan kaca almari.
Ditatapnya sekali lagi wajah istrinya. Wajah yang demikian membuatnya nyaman dan damai.
Mengecup pelan kening Hanum yang terpejam di iringi dengkuran nafas halusnya, menyalurkan berjuta rasa yang mampu membuat darah Kara berdesir hebat, hingga berkumpul di satu titik vital pria itu.
"Aku berangkat, jangan pergi kemanapun sebelum aku kembali, mengerti?".
Kara bergumam lirih di telinga istrinya, seolah Hanum dapat mendengar perintahnya.
Andai saja Radhi tak memanggilnya segera, mungkin kara akan menghabiskan waktunya dengan menciumi seluruh sisi wajah istrinya.
Langit malam terlihat cerah malam ini.
Suasana yang semakin larut, membuat jalanan lengang dan mudah di kuasai.
Di dalam mobil, beberapa kali Jelita menguap.
"Sayang, tidurlah dulu. Nanti akan ku bangunkan bila telah hampir sampai di desa.
Kemarilah........
Rebahkan kepalamu ke pangkuanku".
Radhi berkata lembut.
Tanpa kata, Jelita menuruti titah suaminya.
Saat ini, Radhi dan istrinya tengah duduk di bangku belakang mobil.
Sedang Kara, pria itu telah duduk manis di bangku samping kemudi, menemani sopir keluarga berbincang agar tak mengantuk di jalan.
Sesekali, Kara melirik kedua orang tuanya yang tampak mesra dari kaca spion depan.
Sekelebat bayangan Hanum tetiba muncul di depan matanya.
Mungkinkah.......
Mungkinkah di masa depan, Kara akan sebahagia orang tuanya? Bersama Hanum?
Cinta mereka demikian kuat dan kokoh.
Tak mudah patah dengan badai apapun.
Tak mudah tumbang dengan gelegar petir.
Tak mudah musnah dengan terjangan ombak.
Tak mudah sirna dengan tempaan deras arus.
Tak mudah goyah dengan kuatnya godaan.
Memikirkan Hanum, membuat Kara merasakan kedamaian menyusup ke dalam hatinya.
Resah.
Risau.
Gelisah.
__ADS_1
Gundah.
Semua seakan sirna tanpa jejak.
"Kara?".
Radhi memecah kebisuan yang cukup lama melanda mereka.
"Ya, pa".
Kara menjawab papanya tanpa mengalihkan pandangannya yang lurus kedepan.
"Papa berencana, untuk membawa pulang adikmu, opa dan kedua Oma mu.
Bagaimana menurutmu?".
Kara mendengus kasar.
"Papa menyusun planning yang sama setiap waktu. Sayangnya, Si Reksa Adi Prama itu adalah pria keras kepala yang sulit di taklukkan.
Jangan melambungkan harapan terlampau tinggi, pa. Bila tak ingin papa terjatuh mengenaskan dengan cara yang sangat mengerikan".
Seperti biasa, Mulut pedas Kara sulit di kendalikan.
"Kita harus lakukan segala cara".
Dengan tegas, Radhi harus mengajak Putranya itu untuk berkompromi.
"Ya ya ya..... Susun saja rencana untuk hal itu.
Ku harap hasilnya cukup baik".
"Setidaknya kita harus mencoba kembali".
"Hmmm".
Suasana kembali hening. Tanpa terasa, mereka telah hampir sampai.
Radhi melangkah tenang menuju ke dalam rumah. Berbeda dengan Jelita yang demikian menunjukkan gundah gulana nya.
Diam-diam, Kara mengamati tingkah kedua orang tuanya.
"Ma, dimana ibu dan ayah?".
Saat pintu terbuka oleh Ratna, Radhi segera menanyakan ayah dan ibunya. Kemudian memberi hormat pada wanita paruh baya itu.
"Di kamar ibu mu. Ayo masuklah....."
Pandangan mata Ratna beralih pada Kara dan Jelita yang mengekor di belakang sosok yang menjadi panutan mereka itu.
Sekilas, Ratna mengulas senyum penuh arti.
Di kamar, Aluna nampak terlelap di samping Reksa dengan memeluk gulingnya.
Di tepi ranjang, raksa nampak terlihat menyibukkan diri mengganti kompres suaminya.
"Ibu".
Radhi muncul dengan kara dan Lita yang membuntutinya. Suasana nampak hening.
Reksa memejamkan mata dengan nafas tersengal yang di buat-buat seolah ia seperti orang kritis
"Apa yang terjadi pada ayah? Apa kata dokter?".
"Biasa..... penyakit tua".
Hanya itu yang Santika ucapkan. Kedua tangannya ia rentangkan untuk memeluk anak, menanti dan cucunya bergantian.
"Ibu apa kabar?". Jelita memeluk sekilas ibu mertuanya. Saat Ratna juga memasuki kamar, Lita juga melakukan hal yang sama seperti pada Santika.
__ADS_1
"Baik. Kami baik-baik saja". Santika menjawab.
"Oma".
Kara segera mendekat dan juga ikut mendekap dua wanita paruh baya itu bersamaan.
Tangannya yang demikian liat berotot, menjanjikan berjuta kehangatan langka yang sulit untuk Santika dan Ratna dapatkan.
"Ibu, Tidak ada waktu lagi.ati kita semua pulang ke kota saja. Aku tak bisa membiarkan kalian jauh dari ku di masa tua kalian"..
"Tidak".
Reksa menjawab tiba-tiba.
"A.....ayah tak mau di sana. Biarkan ayah menua bersama kedua istri papa di sini.
Hanya saja......
Ayah punya satu permintaan untuk kalian.".
"Apapun itu, yah. Katakan. Apa yang harus Radhi lakukan untuk ayah?".
"Ayah ingin melihat Aluna menikah sebelum papa tiada".
Semua mata tertuju pada Aluna yang terlelap dengan dengkuran halus dari bibirnya yang sedikit terbuka.
"Tapi ... Luna msih dua puluh usianya, yah".
Jelita menimpali.
"Masih terlalu muda".
"Tak masalah, nak.
Bukankah kau dulu belum genap berusia dua puluh tahun ketika Radhi meminangmu?"
Telak.
Jelita telah kalah telak tak mampu menjawab lagi.
Suasana mendadak hening.
Dalam hati Kara dan jelita, serta Radhi.......
dengan siapa Aluna akan di jodohkan?
Mereka tau, bahwa diam-diam, Aluna menyimpan rasa untuk seseorang yang bernama Seno.
Hanya saja........
Mungkinkah Seno mau andai ia di jodohkan dengan Luna?
Pikiran mereka berkecamuk.
"Aku...
akan Carikan calon suami untuk putri kecilku ini ayah".
Tahan Radhi terulur mengusap pelan puncak kepala putrinya.
"Bila perlu, aku mau putri bungsumu itu, harus di nikahkan dengan pria yang ia cinta, Ayah juga ingin pria itu mencintai Aluna.....
Bersedia menjaga cucu kesayangan papa hingga akhir hayat".
Hening sesaat, hingga Kara mngeluarkan pendapatnya.
"Baiklah.....
Ku rasa.... tak ada salahnya bila kita menjodohkan Aluna dan Seno".
__ADS_1
🍁🌻🌻🌻🍁