Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Merancang Jebakan


__ADS_3

Seorang wanita tengah menggenggam sebuah botol bening dengan serbuk putih di dalamnya.


Pendar matanya, menyiratkan sebuah tekad yang kuat.


Dering ponselnya mengalihkan fokus utamanya.


Nama Dita tertera di sana dan amarah tetiba menyusupi hatinya.


Lelah, marah, murka......


Menjadi sebuah emosi yang mudah meledak kapan saja.


Sayangnya, untuk saat ini, ia tak memiliki pilihan lain. Ada nyawa putranya yang ia pertaruhkan dengan segenap harga dirinya.


"Apa lagi?".


Desis Holy dengan sangat tak sabar.


Dita yang mendengarnya di seberang telepon sama sekali tak mengindahkan kemarahan Holy.


"Kau sudah mendapatkan barangnya dari orang suruhanku?"


"Sudah".


"Baiklah. Jalankan sesuai rencana. Itu hanya obat tidur biasa. Aku tak mau kau menyentuh pria yang ku cintai itu dengan tubuhmu.


Tugasmu hanya membuat foto vulgar dirimu dengannya, tidak lebih.


Kau mengerti?".


Dalam hati Holy menyumpah serapah Dita yang demikian picik. Ia tak menyangka, putri dari keluarga Adi Prama rupanya adalah wanita ular yang luar biasa berbahaya.


Bila tau seperti sebelumnya, ia tak akan mungkin terjebak dalam hubungan pertemanan yang Dita tawarkan beberapa waktu lalu.


Bahkan, saat seperti ini pun, Dita bahkan tau bahwa dirinya tak menginginkan Kara. Mana mungkin Holy akan menyentuh Kara.


Bagi Holy, kesalahannya di masa lalu dengan bermain hati bersama pria beristri sudah sangat fatal.


Holy tak berminat sekedar untuk bermain-main lagi sekarang, karna fokusnya hanya pada tumbuh kembang putranya yang ia sembunyikan dari publik, bahkan dari ayah biologisnya sekalipun.


"Bagaimana bila aku menyentuh Kara dan melanggar aturan yang kau buat?


Apa kau akan membunuh anakku?


Bila sampai itu yang terjadi, akan ku pastikan tangan tuan Azkara sendiri yang akan membunuhmu".


Ucap Holy dengan nada sinis.


Dita menggeram marah di seberang sana.


"Kau akan melakukannya?".


"Tentu saja bila kau terlalu banyak mengaturku.


Dengar tuan putri tuan Adi Prama yang terhormat.....


Aku bahkan tak menginginkan Tuan Kara untuk menjadi pasanganku.


Kau pikir, aku akan tetap menyentuhnya?


Aku bukan dirimu yang licik dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ku mau".


Holy memutuskan panggilan telepon sepihak. ia merasa dirinya tak perlu lagi meladeni omongan Dita.

__ADS_1


Memejamkan matanya sejenak, ia bangkit dan mematut dirinya sekali lagi di cermin.


Malam ini adalah malam penentuan dari usahanya menjebak Kara.


Bila hal ini tak berhasil, maka Holy bertekad akan melakukan apapun demi putranya.


Andai putranya nanti telah berhasil kembali padanya, ia akan mengatakan yang sesungguhnya pada tuan besar Praja Bekti perihal kebusukan Dita.


Holy mungkin bisa saja mengadukan semua ini sekarang pada Kara langsung. Tapi ada nyawa putranya yang ia pertimbangkan dengan sangat matang. Ada nyawa malaikat kecil yang harus ia lindungi dengan segenap usaha yang ia bisa.


Biarlah semua mengalir sesuai dengan rencana yang Tuhan rancang.


Dengan segera, holy segera menyambar tas dan ponselnya.


Langkahnya tenang menuju pelataran rumah mungilnya, menanti kedatangan kendaraan yang ia pesan sebelum sore menjelang tadi.


Oh sungguh, Holy hanya ingin hidup normal tanpa bayang-bayang Dita lagi.


Mungkin Holy harus bersabar untuk sementara waktu ini.


*****


Angin malam menghembus kencang. Langit nampak terlihat cerah malam ini. Ada kebahagiaan yang tersirat di hati Aridha saat ini.


Melajukan mobilnya perlahan, Aridha bersenandung ria dengan senyum yang tak pudar begitu saja. Bayangan akan kerinduannya pada Alex, membuat Aridha di penuhi kebahagiaan yang membuncah selalu.


Seminggu berlalu pasca ia datang pada Alex yang berujung pada kemenangannya, ia sengaja untuk datang secara berkala, namun tak terlalu sering.


Ada rona kebahagiaan yang menggelegak kuat dalam hatinya.


Begini kah gadis yang sedang kasmaran? Ah membayangkan saja Aridha mejadi geli sendiri.


Hingga mobil yang Aridha kendarai tiba di bengkel, Aridha bernafas lega ketika masih ada beberapa mobil dan motor yang Alex layani.


Wajah letihnya membuat Alex nampak lebih tampan berkali-kali lipat. Sayangnya, Aridha hanya menjadi pihak yang bernama teman, tidak lebih. Ia tak memiliki kuasa meski sekedar hanya mengusap pelan kening Alex yang bercucuran keringat.


"Ya tuhan, sudah malam begini ia masih saja bekerja".


Aridha mendesah tak nyaman.


Kemudian tangannya meraih sebuah kotak berisi makanan ringan yang ia bawa dari rumah. Hasil karya masakannya sendiri yang hendak ia persembahkan pada Alex.


Mengingat ini membuat Ridha merasa luar biasa bahagia.


Sekeluarnya Ridha dari dalam mobil, ia segera melangkahkan kakinya pelan ke arah Alex. Ada Daniel yang mengernyitkan kening saat ia mengetahui kedatangan Ridha.


"Malam tuan Daniel, Apa Alex masih sangat sibuk?"


Aridha bertanya dengan sopan.


Daniel menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis.


"Oh tidak, nona. Anda bisa menemuinya. Aku akan mengambil alih pekerjaannya.


Silahkan tunggu sebentar lagi di meja sana".


Daniel segera mengarahkan Aridha untuk menunggu di pojok ruangan agar lebih privasi.


Malam ini, di tengah rasa penatnya, Daniel ingin sekali mencari hiburan dengan membuat Alex jengkel.


Langkah Daniel demikian lebar menuju Alex yang tengah fokus memeriksa keadaan sebuah mobil langganannya.


Fokus Alex teralihkan begitu saja ketika Daniel menyentuh pundaknya pelan.

__ADS_1


"Ada yang mencarimu. Dia sedang menunggumu di meja mu di pojok bengkel.


Pergilah dan temui dia. Biarkan aku yang melanjutkan pekerjaanmu".


Alex bingung.


"Memangnya siapa? Apa ada hal penting?"


Daniel mengangkat ke dua bahunya acuh.


Tanpa menduga-duga, Alex segera bangkit dan perlahan beranjak menuju pojok ruangan.


Nafasnya mendadak tercekat ketika mendapati sosok wanita yang sangat menyebalkan baginya.


"Kau lagi? Ada apa lagi? mengapa harus datang lagi?".


Alex mendesah lelah, dirinya seolah di Landa ketidak nyamanan yang luar biasa bila harus kembali berhadapan dengan Aridha.


Dengan terpaksa, Alex segera duduk di kursi di hadapan Ridha.


"Hei.... kawanmu bau saja tiba. sambutlah dengan cara yang benar"


Aridha berujar dengan nada jenakanya


"Kau mau aku menyambutmu dengan cara apa?".


"Entahlah....


Ciuman, mungkin".


Aridha tersenyum manis.


Datang menggoda Alex dan membuatnya sebal, adalah kebahagiaan tersendiri bagi Ridha. Wajah Alex yang di tekuk itulah yang membuat Alex semakin terlihat tampan di mata Aridha.


Hanya sebuah godaan belaka. Aridha bukanlah type wanita yang rela merendahkan dirinya demi mendapatkan perhatian lawan jenis. Ia terlahir dari keluarga yang menjunjung tinggi nilai moral masyarakat.


Ia juga di besarkan di lingkungan yang penuh dengan ajaran terpuji, jadi mana mungkin Ridha benar-benar akan melakukannya.


Aridha menatap wajah Alex yang terkejut mendengar penuturannya.


"Apa?!?".


Wajah Alex memerah menahan malu.


Oh sungguh, wajah Alex nampak seperti gadis yang berisi belasan tahun.


"Alex, santai saja.....


Aku hanya bercanda, oke?"


"Lantas, bagaimana bila aku benar-benar menciummu?


Kau tau bahwa reputasi ku pada kaum wanita sangat buruk. Jadi jangan sekali-kali kau memancingku".


Balas Alex kemudian.


Biarlah......


Aridha sekali-kali harus di beri pelajaran.


"Kau berani berniat bermacam-macam denganku, ku tebas burungmu dan akan aku Gilas telurmu itu!!".


Alex bergidik ngeri membayangkan.

__ADS_1


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2