
"Mari kita tutup kisah lama, dan mari kita bersikap biasa saja setelah ini. anggap saja aku hanya golongan besan Tuan Kara."
. . .
"Aku tahu akan seperti ini jadinya. Aku akan memaklumi dan memberi waktu agar kau bisa beradaptasi. Terima kasih sudah bersedia memanggilku papa. Setidaknya, kita bisa memulai hari dengan baik setelah ini. Mari menjalin hubungan sebagaimana takdir yang mengharuskan." Alex menjawab tenang.
Sebagai lelaki yang pernah memiliki sepak terjang kelam di masa muda, Alex memahami bagaimana gejolak jiwa muda. Saat benci melanda, maka akan butuh waktu cukup lama untuk menyembuhkan. Sejak bertemu dengan Ridha, maka saat itulah dunia Alex terasa berubah. Yang tadinya terjebak dalam kegelapan, kini telah berangsur terang.
Marcel hanya mengangguk. Pemuda itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tak ada orang, hanya ada dirinya dan sang ayah saja.
"Oh ya, ada sebuah bingkisan dari mamamu, untukmu." Ungkap Alex. Lelaki itu lantas menyerahkan sebuah paperbag yang cukup besar pada Marcel sebagai buah tangan.
"Aku . . . ." Marcel bingung, bagaimana caranya agar ia dapat menolak, namun tidak menyakiti hati Alex.
"Jangan khawatir. Ayah dan ibumu di rumah juga mendapatkannya, pengawalku yang mengantar." Alex tetap memaksa.
"Jangan menolak ini, nak. Aku juga tidak pernah tahu dengan hadirmu dua puluh satu tahun silam. Andai tahu, sedari kau berada dalam kandungan pun aku juga sudah mendampingi ibumu. Jangan saling menyalahkan, semua sudah takdir."
__ADS_1
Jika sudah demikian, apa yang bisa Marcel katakan untuk menolak?
"Baiklah." Jawab Marcel pasrah. Inilah akhirnya, Marcel hanya bisa menurut. Didikan semua guru dan pengawas di yayasan, membuat Marcel menjadi pribadi yang lembut.
'Aku tak menyangka aku memiliki seorang putra yang tampan. Apa jadinya bila seandainya Hesti tahu ia memiliki kakak setampan Marcel? Apakah dia akan menerima Marcel dan menyayangi putraku selayaknya saudara?'
Batin Alex.
"Marcel, Akhir pekan depan aku dan mamamu mengundangmu sekeluarga untuk datang ke acara kantor. Datanglah, Ajak serta ibu dan ayahmu." Pinta Alex.
"Oh ya, aku dengar kau Sudah mendapat gelar sarjana di usia semuda ini. Benarkah?" Tanya Alex. Tanpa marcel sadari, Alex tengah berusaha mengorek informasi mengenai putranya itu.
"Ya. Aku juga tengah berusaha untuk mengejar gelar S2 setelah ini. Hanya saja, aku akan mencari pekerjaan lebih dulu.Aku tak ingin membuat ayah semakin terbebani, terlebih ibu sedang butuh biaya banyak untuk perawatannya." Ungkapan Alex.
"Daftarkan dirimu ke sebuah yayasan dengan membawa sertifikat pendidikan terakhirmu. Aku dengar sekarang tengah mencari mahasiswa berprestasi untuk diberikan beasiswa." Ungkap Alex lagi.
"Benarkah?" Marcel menatap Alex dengan binar mata kebahagiaan.
__ADS_1
"Ya. Jika kau kesulitan masuk dan mendapatkan formulir, jangan sungkan meminta tolong, aku akan mintakan ke lembaga terkait." Imbuh Alex.
"Kalau begitu aku akan bersedia. Tetapi tetap saja, aku harus memiliki pekerjaan lebih dulu. Ayah memang sekarang sudah lepas tangan sepenuhnya tanggung jawabnya pada Yasmin, hanya saja aku sudah besar dan tak ingin menjadi beban ayah. Ayah terlalu banyak berkorban untukku." Ucap Marcel. Lelaki itu lantas meneguk coklat hangat yang tersaji di depannya.
Alex tersenyum penuh kemenangan. Yang tadinya Marcel diam dan lebih dingin, kini berubah lebih banyak bicara dan lebih banyak terbuka tentang keluarganya. Lihat saja, Alex pasti mampu membuat Marcel menerimanya tanpa syarat.
"Bagus. Memang seharusnya kau bisa lebih mandiri. Jika memang mampu, bantulah keuangan ayahmu. Dion sudah banyak berkorban untukmu dan membiayai hidupmu."
Ucapan Alex, membuat Marcel menganggukkan kepalanya.
Dalam hati, Alex berjanji akan mempermudah segala urusan Marcel. Dengan uang yang ia miliki, ia ingin membiayai kuliah Marcel hingga jenjang pendidikan tertinggi. Memberi bantuan secara langsung, Alex tak mungkin di terima karena tahu bagaimana karakter dasar putranya itu.
Pintu tiba-tiba terbuka dari luar. Sosok Aridha muncul dengan setelan baju kerja berwarna biru tua dan kemeja putih. Rok sebatas diatas lutut, membuat Aridha tampak lebih muda dari usianya.
Dalam diam Marcel baru tersadar, Alex tengah menjebaknya dengan banyak bicara. Tidak, Marcel sudah bertekad dalam hati, bahwa ia akan sangat sulit untuk di dekati.
**
__ADS_1