
Malam kian larut, ketika acara di rumah Chandra telah usai. Keluarga Praja Bekti telah kembali pulang ke kediaman mereka, dengan perasaan bahagia. Namun tidak dengan Alex yang saat ini dilanda rasa gelisah.
Alex tadi mendapatkan kabar dari Dion, bahwa Inora ingin bertemu. Ini adalah kabar yang membahagiakan sekaligus menakutkan bagi Alex. Bagaimana tidak? Alex benar-benar takut jika nanti Inora menggila dengan ingin hidup dengan Alex? Astaga, khayalan Alex benar-benar sejahat itu.
"Ada apa, mas?" Tanya Aridha yang duduk di samping kemudi.
Alex menatap ke arah istrinya sambil tersenyum, sebelum ia kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Dion mengatakan bahwa Nora ingin bertemu denganku. Tapi aku takut untuk menemuinya." Ungkap Alex.
"Takut? Apa yang kau takutkan? Bukankah masalah kalian nyaris selesai?" Tanya Aridha lagi.
"Ya. Tapi aku takut bertemu dengannya, mengingat bagaimana kondisi mentalnya saat ini. Aku takut, sayang. Aku takut bila nanti Inora meminta sesuatu yang tak bisa aku penuhi." Ungkap Alex.
__ADS_1
Dalam hati lelaki itu, beruntung malam ini Hesti pulang dengan Radhi dan Jelita, jadi Aridha dan Alex pun lebih leluasa untuk mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan Inora.
Hanya Radhi yang tau tentang masalah Alex.
"Temui saja, mas. Kau pikir aku sejak waktu itu tak sakit hati? Mendengar kenyataan bahwa kau memiliki anak lain dari wanita masa lalu, itu bukanlah hal yang sulit aku terima. Hanya saja aku sadar, selain bagian dari takdir, aku rasa juga . . . memang inilah jalan Tuhan agar kau memiliki putra lain. Harusnya aku bahagia melihatmu bahagia, mengingat bahwa aku tak bisa memberimu anak lagi selain Hesti. Kau sudah banyak berkorban untukku. Mungkin inilah saatnya aku menebus semua kekuranganku."
Alex punya segera menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kau ini, apa yang kau katakan? Tak bisa memberiku putra, itu bukanlah sesuatu kekurangan. Kau indah, kau baik, kau segalanya untukku. Jangan sedih jika tak ingin melihatku sedih. Marcel hadir karena kesalahanku, Hesti hadir karena cinta kita. Intinya, mereka sama. Sama-sama anakku. Tak peduli bahwa mereka berbeda, lelaki dan perempuan."
"Ya ya ya, baiklah. Aku hanya berpesan, jaga hati Marcel. Aku mohon, tolong jangan membuatnya merasa di anak tirukan. Meski kau dan Inora tak bersatu, tapi setidaknya Marcel merasa kau membutuhkan dan menyayanginya."
"Ya, tentu saja, sayang. Jangan khawatirkan hal itu."
__ADS_1
Alex kembali mengendarai mobilnya, mengemudikannya lurus hingga nyaris tiba di kediaman Radhi. Sejurus kemudian, Aridha merasakan ada sesuatu yang tak beres.
"Mas, kau merasakannya? Hentikan mobilnya." Ucap Aridha.
Meski tampak tenang, namun Aridha merasa jantungnya semakin berdetak kencang.
"Papa." Suara seseorang terdengar seolah seperti sedang tertekan. Lihat saja sedetik kemudian, beberapa orang tengah menyandera Marcel dengan sebuah pisau kecil yang tampak tajam, mengayun di leher Marcel.
Marcel dijadikan sandera.
"Marcel?" Aridha tercekat. Wanita itu menatap tak percaya ke arah sekelompok lelaki dengan setelan serba hitam. Sepasang suami istri itu benar-benar syok.
"Aku tak ingin menantangmu secara langsung, tuan dan nyonya. Hanya saja, aku rasa kali ini keberuntungan tengah berpihak pada kami." Ungkap seorang lelaki yang tengah memakai topi dan masker di hadapan keduanya.
__ADS_1
Alex tak kuasa . . . .
**