Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Petunjuk nyata


__ADS_3

Hari telah sore ketika Seno keluar dari perusahaan Praja Bekti. Kara telah memberinya titah suntuk segera pulang dan bersiap mengantar Luna kembali Ke desa.


Emosi asing yang Seno rasakan kembali hadir, apalagi di waktu menjelang pertemuannya kembali dengan Luna.


Jantungnya berdegub tak beraturan.


Sesaat, Seno memastikan penampilannya pada cermin. Parfum maskulin tak lupa ia bubuhkan pada tubuhnya.


'Oh tidak. Jatuh cinta rupanya merepotkan juga'


Batin Seno menertawakan dirinya sendiri.


Jatuh cinta itu tidak lah sulit, hanya prosesnya saja di buat rumit.


Ini lah hukum alam. Saat dirimu melabuhkan kepada siapa hatimu berlabuh, maka segala yang kau lakukan akan bersifat totalitas.


Baik dari penampilan, tutur kata, tingkah laku......


Semuanya.


Dan Seno segera mengemudikan mobilnya ke kediaman Praja Bekti. Suasana di sana sangatlah sepi. Baik Kara maupun papa dan mamanya belum juga sampai.


Di sebuah mobil mewah yang cukup luas, Luna telah duduk menunggu kedatangan Seno.


Sang sopir yang sedari tadi menunggu kedatangan Seno menjadi lega ketika Seno muncul dan memarkirkan mobilnya di sebuah garasi kosong.


Luna terlonjak kegirangan dalam hati. namun, mati-matian ia membiarkan hatinya sja yang bersorak penuh bahagia. Tapi sikapnya, tetap menunjukkan biasa saja. Terkesan malu-malu tapi sungguh mau.


Oh menggelikan.


"Selamat sore, nona. Apakah akan berangkat sekarang?".


Seno bertanya dengan suara lembut.


Sang sopir yang berusia awal empat puluhan menangkap ada aura kehangatan dan ketulusan yang terpancar dari keduanya.


Tidak butuh orang pintar, bahkan orang yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata saja bisa menyimpulkan bahwa mereka sungguh benar-benar sama-sama jatuh cinta.


Sopir pun mulai mengawasi gerak-gerik keduanya. Bukankah ini bagian dari tugasnya?


Mengawasi dan melapor perkembangan sikap dan tingkah laku keduanya pada tuan besar Praja Bekti.


Senyum simpul mulai terbit.


"Ya, sekarang".


Luna menjawab tak kalah lembut.


Sesaat, seperti terdengar mendayu-dayu di telinga Seno. Hanya dengan mendengar suara Aluna saja mampu membuat gairah Seno tersulut dalam sekejap.


Sayangnya, Seno tak bisa berbuat seenaknya begitu saja.


Sifat pengecutnya membuat ia tak berani mengungkapkan isi hatinya.


lagi-lagi, perbedaan strata sosial lah yang menjadi pemicunya.


"Apakah tidak apa kalau saya duduk di belakang bersama nona? Maaf bila lancang".


"Tidak masalah. Silahkan".


Luna sengaja memberikan celah pada Seno untuk dekat dengannya. Selagi Aridha kakaknya belum resmi di persunting Seno, pikirnya.

__ADS_1


Aluna tak tau saja bahwa Aridha bahkan tak tertarik pada Seno.


Ucapannya tempo hari hanya sebuah lelucon saat semua keluarganya tidur siang.


Pikir Aluna, biarlah ia merasakan kedekatan bersama Seno meski sebatas penjaga dan nona nya. Meski nanti pada akhirnya kenyataan akan menamparnya dengan kekuatan yang sangat dahsyat.


Maka, duduklah dua orang yang saling kasmaran ini. Mereka saling diam. Kebisuan menjadi pilihan satu-satunya saat ini.


Sang sopir yang melihat interaksi mereka mulai mengernyitkan kening dalam.


"Ekhm....".


Seno memecah kekakuan suasana dengan berdaham pelan.


"Bagaimana dengan materi kuliah yang nona pelajari? Apakah tidak jenuh bila harus home schooling dan tidak memiliki banyak teman?".


"Aku lebih senang seperti ini, mas".


Menunduk.......


Luna hanya bisa menunduk.


"Itu artinya, apakah nona masih tidak memiliki kekasih?".


Tumpah sudah apa yang menjadi pikiran Seno yang Seno sembunyikan rapat-rapat selama ini.


Sopir yang mengawasi tak melirik sama sekali, sayangnya..... Indra pendengarannya semakin tajam.


"Tidak. Entahlah.....


Aku tak berpikir kesana".


Seno manggut-manggut.


Dirinya seolah mendapatkan angin segar dari surga.


Sayangnya sekali lagi.......


Perbedaan kasta lah yang membuat nyali Seno menciut.


"Pak sopir, aku ingin makan malam di kedai sederhana di kampung sebelah sana, tempat biasanya mama makan.


Kita mampir sebentar ya. Aku tak yakin bisa makan malam malam dirumah opa, ku rasa kita akan tiba larut malam".


pinta Aluna panjang lebar. Sopir pun mengangguk paham.


"Baik, nona muda".


Hingga mobil berhenti di sebuah gerai sederhana berdesign ruangan tradisional sederhana, mereka turun dan menuju tempat paling pojok agar lebih nyaman tanpa suara bising pengunjung lain.


"Pak sopir tidak ikut makan?".


Luna sebenarnya enggan hanya berdua saja dengan Seno. Entah mengapa, ia takut tak dapat mengendalikan dirinya.


"Saya tidak terbiasa makan di jam sekarang, nona. Silahkan saja, tidak apa-apa saya akan menunggu nona di mobil. Tidak usah terburu-buru".


"Baiklah. Aku makan dulu, pak"


"Silahkan".


Berdua.

__ADS_1


Entah mengapa, kali ini Seno lebih leluasa untuk mengorek informasi tentang diri gadis yang menjadi tambatan hatinya ini.


"Berikan aku lalapan dan ayam bakar tanpa sambal pedas ya. Minumnya teh hangat saja".


Luna memesan makanan untuk menu makan malamnya kali ini.


Seno tersenyum simpul.


Dari sini dirinya mengambil kesimpulan bahwa Luna bukanlah penyuka makanan pedas seperti dirinya.


"Berikan aku menu oseng cumi pedas dan gorengan pelengkap. Jangan lupa air putih saja untuk minumnya".


Pelayan berlalu meninggalkan Seno dan Aluna berdua, terjebak dalam dimensi kebisuan tanpa suara.


Hingga mata Luna terpaku pada sosok wanita yang baru saja tiba. Sosok tak asing yang membuat Luna tetiba menyembunyikan wajahnya dengan telapak tangannya. Seno yang menyadari hal ini segera mengikuti pandangan Luna.


Dita.........


Tengah datang dengan seorang wanita. Sepertinya, itu adalah kawan lama Dita.


Sayup-sayup, Seno mendengar percakapan mereka karna bangku Dita letaknya tak jauh dari bangku yang di tempati Luna dan dirinya.


"Berikan aku saran yang minim resiko. Aku tak mau jeratan ku pada pria itu tak tepat sasaran kali ini.


Katakan saja berapa yang kau butuhkan."


Insting tajam Seno segera bekerja dengan cepat. Ini pastilah berhubungan dengan Azkara.


Mengingat tempo hari Dita mencari-cari celah untuk dekat dengan Kara.


"Baiklah.... Biar ku bisikkan sesuatu."


Lantas si teman Dita membisikkan sesuatu yang entah apa itu. Kecurigaan Seno menguat bahwa kali ini, sesuatu telah Dita rencanakan untuk menjerat Kara agar jatuh ke dalam pelukannya.


Sayangnya, Seno tak akan membiarkan wanita seperti Dita bisa bermain-main dengan Kara.


"Nona, tenanglah. Jangan banyak bergerak dan usahakan bahwa nona tak ada di sini.".


Bisik Seno lirih di telinga Luna.


dirinya segera meraih topi yang tadi di letakkan ya dan memakainya kembali.


Seketika Luna merasakan panas dingin pada tubuhnya karna berada pada jarak yang sangat dekat dengan Seno.


Jantungnya berdegup kencang, darahnya berdesir kuat.


Luna semakin salah tingkah di buatnya.


Ketegangan mereka seketika terjeda saat pelayan datang mengantar makanan pesanan mereka.


Mata Aluna berbinar saat makanan tiba di hadapannya.


Melihat hal itu, seni tersenyum kecil.


Hingga suara Dita spontan menghentikan gerakan Seno yang meraih minuman di depannya.


"Aku tak peduli. Kara harus aku milik kembali.


Aku akan melakukan apapun demi mendapatkannya.


Tak peduli walau dunia menentang ku......

__ADS_1


Kara tetap harus menjadi milikku".


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2