
Seorang wanita paruh baya berdiri anggun di tengah-tengah keramaian pesta yang di gelar meriah di sebuah aula gedung perkantoran.
Setelah menggelar acara akad nikah di kediaman Chandra pagi tadi, kini Chandra menggelar acara resepsi untuk putranya di aula gedung perkantoran yang di dekorasi dengan megah.
Ruangan di tata dengan indah. Pesta megah pernikahan Arlan dan Alma ini, mengusung tema party flower's.
Jelita berdiri anggun menyusuri sepanjang tempat berlangsungnya pesta. Mata tajamnya, demikian luwes..... seperti harimau betina yang mengincar buruan tepat di titik lemah sang buruan.
Keluarga Wira datang dengan langkah anggun dan senyum lembut bak malaikat. Tak jauh dari mereka, Kara berdiri tegap dengan Hanum yang yang menggamit lengan kokohnya dengan anggun.
Lengkungan senyum tak juga lepas dari bibir kara dan Hanum, menunjukkan pada dunia bahwa mereka pasangan yang sangat serasi dan bahagia..... tanpa cacat dan tanpa cela.
Kara nampak tampan dengan mengenakan setelan jas silver, begitu juga dengan Hanum yang nampak menawan dengan Gaun pesta silver yang senada dengan warna pakaian suaminya.
Kara melangkahkan kakinya, sedikit mendekat ke arah Daniel dan Alex yang juga baru saja tiba. Langkah Kara terlihat santai, namun tak bersuara. Ada kilat keluguan yang menari indah di matanya.
Seperti Zeus yang menapakkan kakinya di bumi, Membuat semua kaum betina menelan liur meski hanya sekedar menatap wajahnya yang tampan.
Daniel......
Seorang pria yang demikian rakus pada kaum wanita. Jiwa playernya seketika meronta saat menatap Hanum yang menggamit lengan Kara.
Begitu juga dengan kara yang menatap istrinya penuh posesif.
Kara diam, bukan berarti tak peka.
Sembilan tahun berada di new York, selain mempelajari tentang management bisnis, Kara juga belajar berbagai ilmu diri dan latih insting.
Dirinya seperti iblis berbahaya yang demikian peka akan lingkungan sekitar.
Ia mengulas senyum mengejek pada Daniel.
Yang benar saja pria itu menginginkan istrinya. Bermimpi saja.
"Hanum".
Kara berbisik pelan di telinga istrinya.
"Paman Arman sebentar lagi akan menjemputmu, ikuti saja arahannya.....
Ku rasa keberadaanku terancam bila terus di sini.
Dengar, di salah satu bilik toilet wanita ada jubah hitam. Kenakan itu, keluar perlahan dan paman Arman mengerti apa yang harus kau lakukan, mengerti?".
Hanum mengerti. Saat keberadaannya kini terancam, ia tetap saja was-was keselamatannya terancam.
Beruntung Kara segera mengintrupsikan Arman untuk menjemputnya.
Arman adalah salah satu kerabat Radhi yang tangguh memimpin dan melatih seluruh pengawal.
Tanpa kata, Hanum berjalan menuju toilet wanita. Tentu pengawal Kara memperhatikan dari dekat.
Daniel.......
Pria itu tentu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
Sayangnya, Pria itu tak cukup pintar membaca keadaan dan situasi.
Hanum yang ia incar hilang seketika saat berada di toilet.
Danil murka. Daniel marah. Ia merasa setengah mati penasaran akan sosok Hanum yang demikian membuat jiwa kelelakiannya meronta.
Dengan kemarahan yang ia pendam, Ia menghampiri Alex adiknya yang memainkan peran sebagai calon suami Dita yang bak malaikat itu.
Dari kejauhan....
Kara tersenyum puas penuh kemenangan.
__ADS_1
"Alex...."
Dan Alex mengangguk paham.
Maka, dengan serta Merta ia menyeret pelan Dita untuk segera pergi ke mobil.
"Hentikan Alex, hentikan.
Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku..... Lepaskan!!".
Dita meronta sekuat tenaga.
Saat menatap Daniel yang berjalan di depan Alex, tentu ketakutan yang Dita miliki semakin membesar setiap waktunya. Ketakutan yang semakin berkembang hingga berkali-kali lipat.
"Diamlah Dita, Suaramu membuatku ingin segera melahapmu, mengerti?".
Suara Daniel membuat Dita semakin takut.
Ia semakin takut saat ini.
Sayangnya, Tak ada celah untuk Dita melepaskan diri setelah tubuhnya di dorong kasar oleh Alex.
Hingga Alex mengemudikan mobil menuju sebuah rumah yang pernah menjadi saksi kebejadan mereka berdua.
Dengan nafsu yang telah menggunung, Alex melempar Dita ke atas ranjang. Tatapan Alex dan Daniel, nampak seperti Binatang yang kelaparan.
Dita merasa jijik.
Jijik dengan ketidak berdayaan dirinya sendiri.
Jijik dengan Alex.
Jijik dengan Daniel.
Jijik dengan semua yang berhubungan dengan kehancurannya di masa lalu.
Isakan seorang Dita, nyatanya tak membuat dua pria dewasa ini mengehentikan aksinya.
Rintihan Dita seakan seperti nyanyian indah, suara menggoda penuh sensual.
Merdu dan membangkitkan gairah.
"Lanjutkan, sayang. Lanjutkan. Aku suka mendengarnya.
Aku paham kau merindukan masa-masa sembilan tahun lalu yang penuh kenikmatan".
Daniel mulai membuka jasnya, melemparnya ke sembarang arah. Melempar dasi dan mulai melolosi kancing kemejanya satu per satu.
Begitu juga dengan Alex yang perlahan melucuti pakaiannya sendiri.
"Ku mohon Alex, kumohon.
Daniel..... Aku mohon....hentikan".
"Hentikan? Tidak. Mana mungkin aku melewatkan makanan lezat yang jelas tersuguh di depan mata?".
Daniel sungguh lebih ganas dari Alex. Ia benar-benar ingin melampiaskan nafsunya pada Dita akibat gairahnya terhadap Hanum, yang juga kawan sekolah mereka dulu.
"Apa mau kalian? Katakan!!".
Tanpa menjawab, Alex menghampiri Dita, begitu juga Daniel yang segera meraup kasar tubuh wanita itu yang telah menegang akibat rasa takut.
"Mmphhhh...
hentikan, Al....Alex... Dann....Dannieelll.
Tter..kuttuklah.... kalian".
__ADS_1
sekuat tenaga Dita menghindar, sayangnya......
Tenaganya tak sekuat dua pria yang menguasainya penuh nafsu di hadapannya ini.
"Puaskan aku malam ini, Dita".
Suara Alex berubah parau. Matanya berkobar penuh gairah.
Pakaian Dita mulai terlucuti satu persatu dengan paksa.
prang....
Tangan Dita meraih sebuah vas bunga berbahan Beling, menjatuhkannya ke lantai, membuat Alex dan Daniel terkesiap bersamaan.
Tanpa kata lagi, Dita memanfaatkan kelengahan Daniel dan Alex.
Jemarinya meraih pecahan beling dengan gemetar. Wajahnya pucat pasi. Satu per satu kain mahal yang ia gunakan mulai terkoyak akibat kebrutalan Daniel.
"Lakukan.....ayo lakukan!!
Aku tak peduli lagi sekarang".
Dita mengarahkan beling yang di genggamannya ke arah pergelangan tangannya yang lain.
Persetan dengan semua yang ia miliki. Semua terasa tak berarti saat dirinya tak lagi memiliki nilai.
"Ayo. Setubuhi aku. Gagahi aku sekarang juga.
Agar kalian puas memanfaatkanku.
Aku akan mati saat ini juga bila kalian mau.
Hidupku tak lagi berarti.
Akan aku bawa mati serta putriku yang ku lahirkan sembilan tahun lalu akibat ulah kalian berdua.......
Putriku yang tak ku ketahui berasal dari benih siapa.
Bisa kau Alex, ataupun kau Daniel.
Lebih baik aku mati. Mati saat ini juga.".
Mata Dita menatap nyalang ke arah Daniel dan Alex yang menegang.
"Be...benih? Apa maksudmu, Dita?".
Daniel bertanya tak percaya. Ia perlu memastikan bahwa ia telah salah dengar.
"Delapan tahun lalu, aku melahirkan bayi perempuan akibat ulah kalian. Dan ku pastikan, Aku tak akan membuat anakku tau siapa ayahnya."
Tetesan darah mulai mengucur dari pergelangan tangan Dita yang tergores.
"Dita hentikan!".
Alex ingin mendekat, sayangnya...
Dita kali mengarahkan pecahan beling yang di genggamnya ke arah lehernya sendiri.....
"Kau ingin menghancurkanku, bukan?
Selamat...... kalian berhasil. Kalian telah berhasil melakukannya.
Kalian berhasil melukai batin dan jiwaku, serta ragaku. Aku yang tak pernah tau kesalahan apa yang pernah ku buat pada kalian, hingga kalian melakukan hal keji ini padaku tanpa hati".
Ungkap Dita dengan suara pilu, kepiluan seorang ibu saat mengingat putrinya.
Tangannya masih mengarahkan pecahan Beling ke arah lehernya.
__ADS_1
🍁🌻🌻🌻🍁