
"Baiklah, aku akan menjenguk opa dulu sebentar. Tapi sebelum itu, Bisakah kalian berdua mengusir sesuatu yang menyesakkan di ruangan ini?".
~part sebelumnya~
"Kara!!".
Jelita tak ingin suasana kekeluargaan Kali ini terusik karna perbuatan putra kebanggaannya.
Kara hanya diam tanpa menimpali mamanya.
"Kau kenapa hanya diam saja, Dita?".
Ariana kali ini angkat suara.
Ariana nampak cantik kali ini, apalagi dengan penampilannya yang sedikit gemuk karna tengah mengandung anak pertamanya dari pernikahannya bersama seorang dokter spesialis bedah, Antoni namanya.
Siapa yang menyangka?
Pernikahan mereka di lakukan sederhana meski profesi Ariana sebagai dosen di sebuah universitas ternama di ibu kota.
Meski banyak relasi dan kolega, Ariana tetap tak ingin pesta mewah karna ia pribadi yang sederhana, tak suka segala sesuatu yang spesial.
"Ti tidak kak, kurasa tak ada yang perlu aku ucapkan".
Ungkap Dita lirih.
"Kau tak berusaha untuk melawan Kara yang selalu menyudutkanmu?".
Arlan tersenyum penuh arti.
Antara perasaan Dita kepada Kara, Arlan telah mengetahuinya.
Arlan pikir, toh tak ada gunanya menyembunyikan perasaan Dita yang sesungguhnya.
Dita menggeleng kecil.
Dewi mulai khawatir dengan keadaan ini.
Semua orang menatap Arlan tak mengerti.
Entah apa yang Arlan pikirkan.
"Itu artinya, kau akan tetap diam saja meski menjadi pihak yang tersakiti, bahkan terinjak sekalipun. Kau tau, seorang pemuda, tidaklah menyukai wanita yang lemah. Tunjukkan pada pria yang kau sukai bahwa Kau adalah wanita yang kuat!!".
Kalimat Arlan tepat sasaran.
Kara menatap tajam Arlan, sangat tajam.
"Apa maksudmu, kak?!?".
"Tidak ada". Jawab Arlan acuh.
"Huh. Aku bahkan muak dan terasa bila harus satu ruangan dengannya.
Aku tak habis pikir, mengapa wanita itu tetap betah tinggal di tengah-tengah keluargaku meski tak di inginkan".
Santika tercengang akan kalimat cucunya itu.
"Karna aku....aku.... mencintaimu Kara!!"
Kali ini,Dita memberanikan diri menatap Mata kara.
Kara mengatupkan rahangnya. Wajahnya menegang penuh amarah.
"Apa? Mencintaiku?
Cuih, andai aku harus membolak balikkan gunung Himalaya untuk menghapus takdir, andai nanti aku di takdirkan berjodoh denganmu, aku akan melakukannya.
Akan ku balikkan gunung Himalaya agar sedikitpun tak ada celah untuk mu bisa menggapai ku Kau dengar?
Jadi jangan bermimpi".
__ADS_1
********
Mentari perlahan merangkak naik, Suhu panas udara di ibukota membuat matahari seakan berada di atas kepala.
Akhir pekan ini, Kara sedang berada di resto di seberang kantor.
Di hadapannya, Alma memeriksa kembali berkas-berkas yang akan ia gunakan untuk materi meeting tiga puluh menit lagi.
"Bos, bukankah meeting masih akan di mulai tiga puluh menit lagi? Mengapa kita harus datang lebih awal?".
Alma merasa sedikit aneh.
"Pertemuan kemarin terpaksa ku batalkan karna aku harus menjenguk opa ku di desa."
Alma mengangguk saja mendengar pernyataan Kara.
"Lalu, ada hal penting apa yang membuat bos butuh bantuanku?".
"Aku telah di lecehkan seorang wanita, anak angkat dari om dan tanteku.......
Dia telah..............."
Mengalirkan sepenggal kisah penghinaan Yang kara terima dari Dita kala itu.
Lukanya masih membekas, bahkan hingga kini.
Sejenak, Alma terperangah saat mendengar bahwa bosnya pernah menjadi korban bully oleh anak kelas satu sekolah menengah atas.
Dari sana Alma menyimpulkan, bahwa pria se-macho kara, ternyata memiliki sisi rapuh dalam dirinya yang coba Kara sembunyikan.
Di dunia ini, bila tak pandai menutupi kelemahan kita, Bukankah itu artinya kita mengumpankan diri kita pada musuh?
Kara hanya bersikap realistis.
Ia tak mau siapapun memanfaatkan sisi rapuhnya demi mencapai tujuan-tujuan tertentu.
Maka dari itu, Kara tak ingin semua orang tau bahwa ia pernah menjalani fase akibat pelecehan yang Dita buat.
Kara tak mau di kasihani.....
Kara tak mau orang-orang tau bahwa pelecehan yang Dita lakukan, sukses membuat psikologis Lara tertelan hingga harus sering berkunjung ke psikolog selama enam bulan.
Sungguh, Itu benar-benar menyiksa, dan menjadi hal terberat yang Kara alami.
"Jadi, bos ingin aku melakukan apa?".
"Saat ini, Wanita itu berkata bahwa ia mencintaiku.
Tentu ini akan menjadi kesempatan emasku untuk membalasnya.
Dengar, Jadilah kekasih ku.
Bukan kekasih dalam artian yang sesungguhnya, Aku tentu akan membayar jasamu berapapun kau mau.
Aku ingin..........
Wanita itu mengalami patah hati dan benar-benar terjatuh hingga titik terendah."
Alma mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Begini bos, aku tak bisa.
Bagaimana bila nanti Hanum saja yang menggantikan?
Apa kata tuan komisaris nanti bila nanti kau menggandengku?
Aku tak mau beliau berfikir aku merayumu.
Tidak tidak.
Itu tak akan bagus untuk karierku".
__ADS_1
Alma berusaha menolak.
Mungkin ini adalah kesempatannya menolong Hanum agar lebih dekat dengan bosnya.
Ya, Alma ingin sahabatnya bahagia.
Demi Hanum, akan Alma lakukan apa saja agar bisa Hanum berdekatan dengan orang yang di sukai ya sejak dulu.
"Apakah wanita itu mau?".
"Lebih dari sekedar mau".
*********
Kara menatap seorang wanita yang baru saja menatapnya dengan mata tak berkedip.
Malam ini, Kara sedang di tunggu oleh seorang wanita yang Alma janjikan
Kara tiba di sebuah cafe yang di tentukan Alma.
Di sana Alma. berdiri menyambutnya, di sampingnya, seorang wanita yang mungkin sebaya dengan Alma.
Wanita yang entah mengapa, mampu membuat Kara berdebar.
Meski wajahnya tak asing, namun emosi yang kara miliki terasa asing. Emosi yang bahkan tak pernah Kara rasakan sebelumnya pada wanita manapun.
Hanum berdiri dengan anggunnya, menunggu Kara mendekat. Dress putih tulang yang ia gunakan, nampak menawan bak bidadari.
Kulitnya putih seputih pualam.
Bibirnya ranumnya nampak menggoda.
Tekstur wajahnya demikian anggun, matanya memiliki sinar menggoda, namun mampu menenggelamkan, sesuatu yang amat sangat kontradiktif.
Hidung mungilnya, di bingkai dengan tulang pipi yang tinggi menonjol, bak wanita yang berasal dari kaum arsitoktrat sejati.
Rambutnya hitam legam sekelam malam tanpa sinar. Tatapannya demikian dalam, bak lautan tanpa dasar, mampu menyeret yang menatapnya.
Tubuhnya yang ideal, menjadi bingkai paling sempurna sepanjang pengetahuan Kara tentang wanita.
Hei, ayolah!! Bukankah Kara dulu menolak kehadiran gadis itu?
Kara nampak meneguk salivanya dengan susah payah.
'Sungguh, bak merpati putih dari surga'
Kara tanpa sadar menggumam lirih yang tentu saja hanya ia dengar seorang diri.
"Bos, kau baik-baik saja".
Kalimat Alma menyadarkan kara dari ke-terpanaannya.
Oh tidak.
Kara bahkan terlalu gengsi untuk mengakui bahwa ia telah terpesona pada wanita cantik di hadapannya ini.
"Ya".
Kara segera menguasai keadaan.
Suara bariton nya mengalun merdu di telinga Hanum.
"Siapa namamu? Emm, maksudku nama lengkapmu?".
"Hanum. Hanum Kinara.".
Tangan keduanya saling berjabat.
Ada getaran istimewa yang saling tersalurkan seiring desiran darah yang kian hebat, meluluh lantakkan hati seorang Kara dan Hanum.
Mereka........
__ADS_1
Di takdirkan memerankan sebuah kisah pengganti kisah Rama dan Shinta.
🍁🌻🌻🌻🍁