
"Hanum tak ada di kamarnya?".
Jelita terkejut bukan main.
Petang telah merambah pagi dengan cahaya samar yang nampak terlihat dari langit.
Radhi dan Jelita tiba di kediamannya dengan Kara yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Letakkan anak bodoh itu di sofa".
Pengawal dengan hati-hati meletakkan Tubuh tuan muda nya.
Melihat Jelita yang murka dengan wajah merah padam, para pengawal tak berani sedikit saja membuat masalah.
Lantas, jelita naik ke lantai tiga, memeriksa kamar Hanum dan mendapati sebagian kecil pakaian Hanum telah tiada beserta koper mungil menantunya itu.
Ia tak mendapati Hanum di sana.
Sesaat, mata Lita menangkap ponsel milik menantunya. Tanpa berfikir panjang, Jelita meraih dan memeriksa ponsel Hanum hingga seluruhnya.
Nafas Jelita tercekat hebat. Ia tak mampu meski hanya sekedar menampung oksigen dalam paru-parunya. Wajahnya merah padam. Otot-otot di lehernya menegang.
Pose Kara menantang kaum hawa, terpampang jelas di sana.
Tak lupa juga pose wanita yang berada di samping Kara, demikian erat mendekap tubuh Kara.
Juga sebuah pesan yang menampilkan tes pack dengan dua garis merah.
"Hanum pasti marah.
Hanum pasti terluka.
Hanum pasti hancur."
Gumam Jelita sebelum ia benar-benar berjalan cepat menuju ruang bawah.
"Pelayan!!".
Jelita berteriak murka pada pelayan yang tergopoh-gopoh.
"Iya, nyonya".
Seorang kepala pelayan bertubuh tambun datang dengan raut wajah tegang. Usianya mungkin sekitar pertengahan empat puluhan.
Selama bekerja di sini, ia tak pernah menemui nyonya besarnya itu berteriak memanggil pelayan hingga seperti itu.
"Ambilkan satu ember air".
"Baik, nyonya."
Tak berani bertanya, Si pelayan segera mengambilkan sesuatu yang di minta si nyonya besar. Ia tak mau menjadi pelampiasan amarah sang nyonya.
Jelita yang lembut, Jelita yang ramah, Jelita yang anggun, Jelita yang sopan......
Kini tak lagi terlihat.
Yang ada hanyalah sosok wanita iblis dengan murka nya. Siap menghancurkan apapun saat itu juga. Tak peduli bila ia harus melawan dan menghancurkan Dunia, akan Lita lakukan.
Siapapun yang mengusik kedamaian rumah tangga dan anak-anak nya, akan berhadapan langsung dengannya. Itu ikrar sumpah Jelita.
Tak jauh darinya, Radhi hanya berdiri tenang tanpa terpengaruh oleh suasana mencekam di sekitarnya.
__ADS_1
Ada banyak hal yang tak perlu ia ungkap. Biarlah. Jelita pasti mampu menyelesaikan Masalah yang menimpa mereka saat ini.
Si pelayang datang dengan se ember air di tangan kanannya. Pengawal tanpa di beri tahu pun mengerti, membantu si pelayan membawa air se ember itu ke dekat Jelita.
Dengan nafas memburu karna murka, Jelita menyiramkan air itu ke wajah Kata yang terlelap dalam damai. Kara tak tau saja bahwa Istrinya telah pergi entah kemana.
Dengan bangkit secara spontan dari tidurnya, Kara mengerjap bingung dan memandangi semua orang satu persatu dengan tatapan bingung.
Kemeja yang di pasang pengawal secara serampangan saat sebelum berangkat pulang tadi, membuat Kara nampak seperti gembel sejati.
"Bangun anak bodoh!!
Kau terlelap nyaman dengan wanita sementara aku dan papamu mencarimu hingga nyaris gila. Kau juga bahkan membuat istrimu pergi entah kemana. Dasar bodoh!!
Ku kira kau kuat, rupanya aku telah melahirkan anak tak berguna sepertimu".
"Wanita?"
Kara bergumam dengan tampang bodohnya. Sukmanya seakan tak kembali sepenuhnya. Ia di Landa kebingungan luar biasa.
"Kepalaku pusing".
Kara memijat kening dan pelipisnya yang terasa berat. Tengkuknya terasa seperti di hantam beban hingga ribuan ton.
Sungguh menyakitkan!
"Katakan apa yang terjadi hingga kau tidur dengan wanita lain di kamar hotel Om Chandra, Kara?".
Kara berfikir keras.
"Semalam, aku ke toilet dan semua dalam keadaan normal.
Saat aku.......
Seseorang membekapku dari belakang.
Aroma tak nyaman dan seperti serbuk.....
Merasuk dalam hidungku, dan.....
Semua berubah gelap.
Aku... aku tak tau lagi setelahnya, ma.
Aku.... aku tak berdaya sekedar untuk melawan"
Jelas Kara panjang lebar.
Kepalanya terasa berat saat ia mengingat kejadian semalam.
"Dasar bodoh".
Plak......
Tamparan keras Lita mendarat di pipi Kara, membuat putranya itu meringis kesakitan menahan sensasi panas yang menggelengkan di sisi kiri wajahnya itu.
"Aku membesarkanmu dengan pendidikan keras, melatihmu menjadi kuat, membagi kemampuan beladiri ku setiap hari, menempa kekuatan dalam dirimu, menyekolahkan mu di college Manhattan, new York hingga ku kira kau bisa melindungi dirimu.
Tetapi apa, Kara?
Kau lelaki lemah."
__ADS_1
Teriak Jelita dengan nada berapi-api.
Kemarahannya meledak seiring dengan air mata yang menetes.
Jelita ingin melampiaskan kemarahannya saat itu juga. Di raihnya Kara dan di pukul rahangnya hingga beberapa kali. Sudut bibir Kara pecah. Darah segar menetes begitu saja dari bibir dan mulutnya.
Jelita tak peduli. Dirinya menghajar Kara habis habisan. Memukulnya hingga membabi buta. Meluluh lantakkan seluruh sendi yang terasa hancur milik tubuh Kara. Kara terkapar di lantai akibat kebrutalan pukulan dari mamanya.
"Sekarang Hanum pergi Karna kebodohanmu yang tak bisa menjaga dirimu sendiri.
Apa yang akan kau lakukan, sekarang?".
Kara terkesiap. Saat bangun, ia memang tak terpikir perihal keadaan istrinya itu.
"Hanum.... Hanum dimana, ma? Pergi kemana?".
Kara bingung.
Tanpa kata, Jelita segera melemparkan ponsel Hanum ke arah Kara. Beruntung Kara dengan sigap menangkap ponsel milik istrinya itu.
Satu persatu pesan di baca Kara.
Hingga pandangan Kara menangkap pose dirinya sendiri yang sangat memalukan.
Wanita mana yang tak akan sakit hati bila melihat suaminya telah tidur dengan wanita lain?
Terlebih lagi, sebuah foto tes pack dengan garis dua juga berada di sana.
Nafas Kara memburu seketika.
"Tidak. ini jebakan, ma. ini tidak benar. Aku tak pernah menghamili wanita manapun. Kebobrokan ku di masa lalu memang sangat luar biasa, tapi aku tak pernah lagi tidur dengan jalang semenjak aku mempersunting Hanum."
Ungkap Kara dalam rintihannya. Tubuhnya terasa lantak akibat serangan bertubi-tubi dari mamanya.
Bila sudah semikian, Kara sempat berfikir bahwa Jelita akan sangat cocok bila di ikutkan ajang wanita terkuat dalam bertarung.
Ya Tuhan.
Liar sekali pikiranmu, Kara.
"Sayang, sudah.....
Ini bukan sepenuhnya salah Putra kita. Ada pihak yang harus bertanggung jawab atas musibah ini. Temukan dalangnya dan hukum siapapun yang menjadi otak dari konspirasi ini".
Radhi menarik Lengan Jelita, mengusap pelan punggungnya untuk menenangkan.
Sesaat, Jelita memejamkan mata merasa khilaf.
"Bangun dan cari keberadaan istrimu segera, Kara. Temukan juga siapapun yang berani menjebak dan memfitnahmu hingga seperti ini.
Beri dia hukuman karna telah membuat istrimu terluka".
Jelita berlalu pergi. Ada banyak orang yang terkejut dengan kekuatan Jelita. Para pelayan melongo dan tercengang dengan kebuasan nyonya besar mereka.
Semua pengawal, meneguk ludahnya dengan kasar saat menyaksikan bahwa Jelita bahkan tak segan-segan menghukum siapapun yang Jelita anggap tak berguna.
Usai Jelita berlalu, pengawal dan beberapa pelayan membantu Kara untuk naik ke kamarnya, memanggil dokter keluarga untuk mengobati beberapa luka nya.
Tanpa Jelita sadari, sesungguhnya di antara mereka, ada sosok kuat yang memang sengaja menyembunyikan keberadaan Hanum di suatu tempat yang aman demi memancing pelaku utama di balik tragedi ini.
Dia adalah..........
__ADS_1
🍁🌻🌻🌻🍁