Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Iblis yang Bangkit


__ADS_3

Chandra dan Dewi menatap bingung ke arah Holy. Bahkan, Chandra tak habis pikir.


Belum sempat masalah Dita terkuak baginya, kini ia harus di hadapkan pada fakta baru tentang kedatangan Holy.


Ada apa ini sebenarnya?


Wajah Dita memucat. Tubuhnya bergetar.


Sesaat, Kara menggores sedikit sisi wajah Dita tepat di samping kiri hidungnya, mengeluarkan sedikit darah dan berhasil menciptakan sensasi perih.


Sayangnya, Dita semakin tak berdaya di bawah kuasa Kara.


Katakanlah........


Dita kalah. Namun Dita tak bisa berbuat apapun.


Meski hanya sekedar berteriak, ia tak mampu.


"Bukankah kau orang kepercayaan CTR grup??"


Tanya Chandra dengan mata menyipit.


Dirinya benar-benar di buat bingung kali ini.


Apa hubungan Holy dan Dita?


"Ya, tuan. Saya mengakuinya. Saya memang orang kepercayaan CTR grup".


Holy menjawab dengan gugup.


"Katakan dengan lengkap selengkap lengkapnya, karna aku tak keberatan membuat kau dan putramu mengendus tanah pemakaman bersama rubah licik ini secepatnya.".


Sekujur tubuh Holy gemetar hebat.


Sejurus kemudian, Seno datang dengan seorang pria bertubuh jangkung. Rambutnya panjang sebahu, Telinga kirinya, sebuah anting hitam bergelayut indah di sana.


Nafas holy seketika tercekat lebih dalam.


"Ku...ku--kusuma?"


Gumam Holy. Kedua lengannya semakin erat mendekap putranya.


Tubuhnya seakan lunglai ketika mata tajam pria yang datang bersama Seno itu, memindai sekujur tubuh Holy.


Takut, khawatir, cemas.......


Semua rasa itu berbaur menjadi satu, bersarang dalam hati Holy.


Bagaimana mungkin pria yang selama ini Holy hindari mati-matian, justru datang pada Holy.


"Ya. Ini aku. Kau merindukanku, sweetheart?".


Suara pria yang di panggil Kusuma itu dalam. Pendar matanya menunjukkan kerinduan dan kehangatan yang Holy rindukan.


Sayangnya.......


Holy tak ingin terjebak lebih dalam pada perasaan yang ia miliki.


"Untuk apa kau kemari?".


"Mengambil darah dagingku yang kau bawa pergi lari.


Mengapa......


Mengapa kau setega itu memisahkan ayah dari anaknya?".


Bibir Holy semakin gemetar hebat.


"Andai kau berani mengambil langkah dengan melaporkan rencana Dita padaku lebih awal, tentu aku akan dengan senang hati merebut putramu kembali dari tangan wanita picik ini.


Tetapi kau lebih memilih menjadi bayang-bayang kebusukan rubah ini.

__ADS_1


Tentu saja.........


Aku akan menghukummu dengan memisahkanmu dari anakmu.


Ku rasa itu cukup adil, bukan?


Bagaimana pun, kau harus di hukum karena telah berani mempermainkan ku".


Kara berkata dengan tegas.


Tak ada main-main dalam kalimatnya.


"Ta....tapi aku di ancam, tuan...


Wanita itulah yang mengancam ku di bawah tekanannya. Aku sebenarnya...... juga tak ingin terlibat".


"Sayangnya kau salah dalam melangkah."


Mata Kara beralih pada Kusuma.


"Ambil putramu atau kau akan kehilangan putramu selamanya. Aku terkenal sebagai pria kejam tanpa ampun dan tanpa toleransi!!"


Kusuma terkesiap.


Bila rumor di luar beredar tentang putra mahkota perusahaan milik Praja Bekti adalah pria iblis.... Maka itu bukan hanya rumor belaka. Kusuma mengakuinya itu adalah nyata.


Maka.........


Langkahnya lebar menuju Holy, merebut putranya dengan cara paksa.


Sekuat tenaga Holy mempertahankan putranya.


Tidak.....


Satu-satunya harta yang holy miliki adalah putranya. Tidak. Tidak akan ia biarkan Kusuma mengambil harta yang selama ini ia jaga.


Dulu.......


Hingga berujung pada tragedi yang Holy alami.


Dokter memvonisnya bahwa kemungkinan Holy akan mengandung lagi, itu sangat kecil.


Beruntung putranya selamat saat itu.


Holy tak ingin keselamatan putranya terancam, maka.......


Holy memutuskan, pergi.


"Sepenggal kisah kita, itu telah menjadi kenangan, mas. Pergilah dan aku tak akan menuntut apapun darimu.


Karna bangkai yang kita sembunyikan, istrimu kalap dan mencelakaiku.


Aku hampir saja kehilangan anakku, aku juga bahkan kehilangan kesempatanku untuk memiliki anak lagi.


Kembalikan putraku, kembalikan!!!!!".


Holy berteriak kesetanan ketika Kusuma telah berhasil mengambil paksa putranya.


Balita yang berusia belum genap tiga tahun itu menangis histeris saat Kusuma membawa paksa nak itu tanpa menoleh ke belakang lagi.


Beberapa pengawal mengantar Kusuma keluar dari sana.


Kara tertawa puas menyaksikan.


Dalam hidup, Kepuasan yang hakiki adalah menyaksikan siapapun yang mempermainkan Kara harus hidup dalam penderitaan.


Itu kebahagiaan tersendiri bagi Kara.


Kusuma meninggalkan tempat itu dengan beribu rasa sakit di hatinya.


Hatinya tak tega sebenarnya. Tapi Kusuma mengambil tindakan itu semata karna ia berada di bawah tekanan Kara.

__ADS_1


Kara memang tidak setengah-setengah dalam mengambil sikap.


"Sampah ini telah menyuruh seorang holy untuk menjebak ku dalam ranjangnya, kemudian mengirimkannya pada Hanum, istriku.


Sudah sebulan Hanum pergi tanpa jejak.


Bila Tante dan om ingin tau tentang seluk beluk perkara ini.


Aku tak akan sekejam ini andai Hanum tak pergi dalam keadaan hamil".


Jelas Kara dengan sorot mata terluka.


Dewi yang menyaksikan hal itu syok.


"Katakan om.... Katakan Tante.......


Apa salahku hingga sampah yang kau pungut ini menghancurkan hidup dan melukai egoku hingga dua kali seperti ini?


Katakan hukuman apa yang pantas ku berikan untuk wanita ini?"


Dewi menangis. Jadi?


Dita kembali berulah dengan menjebak Kara dengan menggunakan wanita lain?


"Aku tak menyangka kau akan setega ini melukai hatiku. Aku membesarkanmu dengan penuh Kasih. Inikah balasanmu?"


Pandangan mata Dewi beralih pada Chandra.


"Mas. Lepaskan nama Adi Prama dari wanita ini. Jangan biarkan juga Hana ikut bersamanya.


gadis kecil seperti Hana.... biarkan Alex yang merawatnya.


Ini hukuman yang pantas untuknya karna telah mengkhianati keluargaku".


Dewi kemudian berlalu pergi dengan derai air mata. Sungguh.....


Dewi tak menyangka ia akan membesarkan seorang penjahat seperti Dita.


Chandra hanya berdiri dengan wajah Datar, menghampiri Dita yang masih berada dalam kendali Kara.


"Lakukan apapun pada wanita ini, Kara.


Kau berhak melakukannya.


Hari ini juga, aku resmi akan mencabut segala fasilitas yang ada pada wanita ini".


"Kau dengar itu, rubah licik?


Kau miskin dan tak memiliki apapun lagi sekarang. Kau juga sudah pasti akan berpisah dengan putrimu selamanya.


Bagaimana perasaanmu bila Hana di besarkan oleh Daniel? Pria yang telah menghancurkan hidupmu sembilan tahun lalu dengan sangat kejam?


Aku tak akan berhenti menyiksamu hingga Istriku kembali ke pelukanku".


Mata Kara menyala penuh amarah. Dita tak bisa berkata apapun lagi.


Ia menggerayangi wajah Dita yang mulai membiru.


Hingga kesadaran Dita mulai menghilang di telan kegelapan, Kara tertawa dengan tawa iblisnya yang menakutkan.


"Pengawal......


Bawa wanita ini ke markas bawah tanah milik mama. Hubungi dokter Antonio untuk mengobatinya. Aku akan kembali menyiksanya hingga ia sendiri yang mengemis kematiannya padaku".


Dalam hati, Dita merintih.


'Aku telah salah karna telah membangkitkan iblis dalam dirimu, Kara.


Aku mencintaimu.....


Tidakkah kau merasakan apa yang aku rasakan?'

__ADS_1


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2