Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Pendonor Misterius


__ADS_3

Radhi......


Pria itu larut dalam keheningan malam yang mencekam. Pikirannya tengah kacau balau dan menyalahkan diri sendiri yang tak bisa mengendalikan rumah tangga dan keluarganya.


Dalam keluarga Praja Bekti, jelita adalah istri sekaligus pemilik ego yang paking tinggi di keluarga itu, maka secara otomatis,segala kendali penuh pada keluarga, Jelita lah pemegang kendalinya.


Kini..... keluarganya seakan berduka akibat berada di dalam kuasa istrinya.


Tadinya.......


Radhi berpikir bahwa istrinya akan mampu mengatasi segala kerumitan anak-anak.


Nyatanya......


Kini putrinya yang menjadi korban keegoisan song mama.


Marahllkah Radhi sekarang pada istrinya?


Tidak......


Seumur hidup, Radhi tak pernah bisa menyalahkan apalagi melampiaskan marah pada Jelita.


Cintanya terlampau besar untuk wanita itu, mana mungkin dirinya akan melampiaskan amarah begitu saja?


Alih-alih marah, Radhi justru berencana untuk menghentikan semua ini.


Bila sikon situasinya telah membaik, perlahan-lahan, dirinya akan membuka mata keluarganya, menunjukkan pada mereka, seberapa besar cinta antar putri mereka dan Alex Atmadja.


Hidup ini tak akan pernah saling mencukupi dan melengkapi bila Kita selalu menilai kepantasan dan latar belakang kandidat.


Ada kalanya, kita harus berpikir secara logis, namun ada kalanya juga kita perlu berpikir realistis.


Semoga belum terlambat.


Masalah mata, Radhi akan mencari donor pengganti yang cocok dengan mata Ridha. Ia tak memiliki banyak waktu sekarang.


Sekilas, Radhi melirik pergelangan tangannya, waktu telah menunjukkan larut malam. Namun,dihadapannya, tak ada tanda-tanda jelita akan sadar dari pingsannya sekitar satu jam lalu.


"Permisi, tuan".


"Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan".


Seorang dokter khusus menunduk dalam ke arah Radhi. Mata lelahnya tak menampik bahwa hari ini, ia telah bekerja keras menangani kasus mata Aridha.


"Yaa, katakan saja".


"Seseorang dengan kecocokan yang sangat cocok dengan nona muda, bersedia mendonorkan sebelah matanya untuk nona.


Namun......


Maaf beribu maaf, identitas beliau sangat ingin di rahasiakan".


"Radhi mengernyit tak suka."


"Katakan berapa nominal yang ia minta? Laki-laki.... atau perempuan?".


"Mohon maaf, tuan. Kami di paksa sedemikian rupa untuk menyembunyikan apapun yang berkaitan dengan beliau. Sekali lagi, kami mohon maaf.


Si pendonor, hanya ingin mendonorkan sebelah matanya untuk nona muda, hanya itu permintaannya. Dia..... tulus memberikan semua yang nona butuhkan.".

__ADS_1


Radhi menegang.


Firasat tak baik seketika bertahta dalam hatinya.


"Beri tau aku siapa orangnya,aku berjanji tak akan membocorkan pada siapapun termasuk istriku".


"Ta...tapi.... maaf tuan, hanya itu yang bisa saya sampaikan.


Pihak kami..... hanya butuh tanda tangan persetujuan untuk memulai operasi berikutnya, yang kemungkinan, akan di lakukan esok pagi."


"Lakukan malam ini juga bila begitu!".


Radhi menyeru tegas.


Sepeninggal dokter, Radhi merasa ada yang tak beres. Seketika, dirinya mengetikan pesan di ponselnya.


Entah apa dan siapa, ia perlu memerintah Arman untuk mencari tau tentang semua ini.


Entah mengapa, bayangan Alex melintas begitu saja dalam otaknya.


Mungkinkah ......... si pendonor itu Alex??


Radhi perlu menyelidiki lebih dulu.


*****


"Informasi apa yang kau dapatkan, Arman?"


"Ya, intuisimu sangat tepat. Alex lah si pendonor itu".


Kini......


Radhi tak lagi terkejut mendapati kenyataan ini.


Radhi diam sejenak.


Pikirannya bekerja cepat mengantisipasi segala sesuatu dan kemungkinan terburuknya.


Rupanya tidak, tidak ada hak buruk yang akan terjadi.


"Biarkan. Kurasa keseriusan pria itu tidak main-main pada putriku.


Dengan cara ini, bisa membuka mata istri dan putraku. Tetap rahasiakan identitasnya, Arman. Kirim banyak pengawal kita untuk menjaga pria itu dengan berbagai penyamaran.


Aku tak mau ada pengawal istriku yang akan menyerang Alex bila tau Alex berada di dalam sakit ini juga."


Titah Radhi.


Selama ini........


Meski kendali dalam keluarga, ada pada Jelita, namun siapa sangka? Bahwa kekuatan keluarga Praja Bekti yang sesungguhnya ada pada Radhi?


Radhi......


Pria yang senantiasa bersikap lembut dan penyabar seperti Santika, sang ibu........


Sejatinya juga memiliki sifat licik dan kejam seperti Reksa sang ayah.


Jangankan untuk menyenggolnya, sedikit saja kau mengusik ketenangan hatinya, aku yakin siapapun tak akan di ijinkan untuk hidup dengan tenang.

__ADS_1


Ada pedih yang mendalam ketika mendapati fakta bahwa Alex memiliki kecocokan mata dengan Ridha, dengan mendonorkan sebelah matanya untuk Ridha.


Masa lalu kelam, bukan berarti membuat Alex mati rasa dan tak bisa mencintai wanita dengan membabi buta. Aridha adalah putri Radhi yang beruntung bisa berada pada posisi sebagai wanita yang berhasil membuat Alex bertekuk lutut dan tergila-gila.


"Oh baiklah. Tentang putramu, Kara.......


Bagaimana?"


"Tidka masalah bila kau mengabari nanti, saat pagi menjelang. Katakan Ridha mengalami kecelakaan dan besok pagi harus menjalani serangkaian operasi.


Menantuku sedang hamil, Arman......


Aku tak mau dia syok dan kabar ini akan mempengaruhi kehamilannya.


Aku tak mau terjadi apapun pada menantu dan calon cucuku".


Ada raut wajah sendu dan bahagia yang menggelayuti wajah Radhi yang nampak letih.


Meski kini ia harus menangani banyak hal seorang diri, tetapi tingkat kewaspadaannya sangat tinggi.


Arman dan Radhi hanya diam. Ada rasa bersalah yang Radhi rasakan saat ini.


Andai dirinya tak lengah menjaga situasinya, mungkin istrinya tak akan berhasil melakukan tindakan bodoh seperti ini.


Dengan Aridha yang menjadi korban, Radhi merasa ia terlalu lelet dan tak bisa menjaga keluarganya. Meski begitu, kini ia bisa mengendalikan seluruh situasinya.


Fokus mereka berdua terhenti ketika seorang suster setengah berlari menuju keberadaan Radhi.


Wajahnya nampak serius.


"Tuan.... emmm... maaf tuan".


Radhi memandang datar suster muda di hadapannya ini. Mungkin, usia sang suster seumuran dengan putrinya.


"Ada apa?".


"Nyonya besar sudah sadar dan sedang mencari keberadaan tuan."


Radhi tersenyum.


"Baiklah, katakan padanya untuk menungguku. Aku akan segera kembali".


"Baik, tuan".


Radhi berlalu mengikuti langkah suster.


Arman yang mengetahui situasinya sedang tak baik-baik saja, memilih undur diri.


Setibanya di ruangan dimana Lita di rawat, Radhi mendapati istrinya itu histeris menyambut kedatangannya.


"Mas.... jangan biarkan Ridha buta. Aku tak mau terjadi sesuatu pada putriku.


Ku mohon maafkan aku, lakukan apapun untuk menyelamatkan Ridha.


Bila perlu, ambil sebelah mataku untuk putriku".


Jelita meraung dalam dekapan suaminya, ia memeluk erat Radhi, menumpahkan seluruh emosi yang memuncak akibat rasa tertekan yang ia miliki.


"Sudah terlambat, Seseorang yang tak mau identitasnya di ketahui siapapun, telah mendonorkan sebelah matanya untuk putri kita!

__ADS_1


Katakanlah....... dia pendonor Misterius".


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2