Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Fakta kakak Yasmin


__ADS_3

"Jika kau tak keberatan, silakan. Beri perlindungan ketat untuk mereka hingga tiba di rumah," Kara menatap Dion setelah menatap Alex. "Tuan Dion dan nyonya Nora, Mungkin besok jika tak Lusa aku akan datang berkunjung. Tak usah repot-repot karena kedatangan kami. Kami berkunjung kesana sebagai keluarga, bukan besan atau pun orang lain."


Dion terpana, saat dilihatnya Kara benar-benar baik. Rumor yang beredar tentang mereka, Kara adalah Kara yang kejam dan tak memiliki toleransi sama sekali.Ssiapa sangka, rupanya itu hanya sekedar rumor belaka.


"Baiklah, tuan. Terima kasih atau ketulusan anda yang sudah menerima putriku sebagai menantu, juga menerima keluarga yasmin yang sederhana ini." Dion berujar tak kalah tulusnya. Inora hanya menunduk, sambil sesekali ia memalingkan wajah untuk menatap suaminya yang tengah bicara dengan Kara.


"Tentu saja. Kalian adalah bagian dari keluarga Praja Bekti. Jika ada sesuatu, jangan sungkan untuk bicarakan pada kami." Imbuh Kara lagi.


Alex paham, apa yang dirasakan Inora saat ini. Namun Alex tak mungkin meninggalkan Aridha yang menjadi cintanya sejak dulu. Bahkan demi Aridha, Alex dulu sampai rela mendonorkan sebelah matanya untuk gadis cantiknya itu dulu. Ya Tuhan, rasa itu membuat Alex tak bisa bayangkan andai ia harus berjauhan dari Aridha.


"Baik, tuan. Terima kasih banyak." Dion dan Inora berlalu begitu saja. Sepanjang perjalanan, sopir keluarga Di dampingi Alex di bangku depan dan Inora bersama Dion duduk di bangku belakang.


Tak ada pembicaraan yang berarti, semua hanya pembicaraan ala kadarnya. Alex juga merasa canggung di dalam mobil.


Hingga tiba di rumah sederhana Dion, Alex segera pamit pulang. Ingin rasanya Alex membahas masa lalu dan menyudahi semuanya. Hanya saja, tak ada sedikit pun keberanian di hati Alex.

__ADS_1


Ia ingin minta maaf, sedalam-dalamnya karena pernah membuat Inora gila padanya hingga nyaris mati bunuh diri.


Banyak hal yang telah Alex pertimbangkan, termasuk risikonya yang akan berimbas pada rumah tangganya bersama Ridha. Tidak, rasanya Alex tak pernah mampu membayangkan Ridha merajuk padanya. Wanita itu akan sangat berbahaya jika sudah marah.


"Mengapa kau tak bicara sepatah dua parah pun dengan Alex? Kau tak ingin membahas masa lalu untuk menyelesaikan semuanya? Sejujurnya, aku menunggu pembahasan itu dan berusaha untuk menjadi mediator kalian. Tapi aku sungkan jika aku yang harus memulai pembicaraan lebih dulu dengan tuan Alex."


Dion duduk di tepi ranjang, ketika ia baru saja berganti piyama tidur.


"Sudahlah, Dion. Masa laluku bersama Alex, aku tak mau itu menjadi alasanku untuk mengungkit tanggung jawabnya terhadapku. Sudah, biarkan saja. Kita simpan saja rahasia ini rapat-rapat hingga kita mati. Jika saatnya nanti tiba, aku akan mengenalkan Yasmin dengan kakaknya. Marcel juga berhak mengenal adiknya."


Tak ada yang tahu, di balik keterpurukan Inora bertahun lalu akibat patah hati Alex tinggalkan untuk menikah dengan Ridha, Inora yang paling terluka. Wanita itu depresi bukan hanya karena patah hati, namun juga karena terbebani oleh kehadiran Marcel yang masih dalam kandungan Inora.


Yang Inora pikirkan, ia hanya ingin bayinya selamat. Biarpun terlahir tanpa Alex sebagai ayah biologisnya, Marcel juga berhak hidup, bukan?


"Jika suatu saat Marcel dan Yasmin sudah saling mengenal sebagai saudara, bagaimana tanggapan keluarga Praja Bekti menurutmu?"

__ADS_1


Pertanyaan Dion, cukup membuat Inora seolah kembali trguncang. Namun Inora menjawab cerdas, dengan tidak akan membuat Marcel bertemu dengan ayahnya. Inora lupa, bahwa sekuat apa pun ia berusaha menyembunyikan Marcel, tapi Inora tak mungkin bisa melawan takdir.


"Aku tak akan membiarkan Marcel bertemu Yasmin di istana Praja Bekti. Sudahlah, Dion. Jangan bicarakan Marcel. Anak bandel itu mungkin akan tinggal di asrama untuk waktu yang cukup lama."


Inora merebahkan tubuhnya, bergerak miring sambil memeluk kaki suaminya yang masih duduk selonjoran di sampingnya.


"Menurutku, aku merasa Marcel juga berhak tau siapa ayah biologisnya."


"Tapi menurutku tak perlu. Ia cukup tahu kau ayahnya. Masalah pertemuan dengan Yasmin, Kita akan bicarakan pelan dengan Marcel, bahwa ia memiliki adik perempuan."


"Astaga, Inora. masalahmu sangat rumit sekali."


"Mari tidur. Kita rencanakan saja untuk mengunjungi Marcel beberapa hari. Selama ini, Kita terlalu sibuk mengurus putri semata wayang kita, hingga terkadang lupa pada putra tunggal kita."


"Baiklah, apa pun yang membuatmu nyaman, aku akan selalu menurutinya."

__ADS_1


Rahasia ini, Inora berharap tersimpan hanya untuknya dan juga Dion. Bahkan Yasmin pun tak tahu jika ia memiliki kakak laki-laki beda ayah.


**


__ADS_2