Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Menyebalkan


__ADS_3

Suasana santai terasa kian mewarnai keluarga Praja Bekti pagi ini. Aksa yang tengah sibuk hendak berangkat sekolah bersama Yasmin, terdengar di omeli oleh Jelita yang menyiapkan bekal mereka untuk makan siang nanti.


"Hesti sudah membawa bekalnya, Aksa. jangan sampai nanti Yasmin, istrimu itu akan mengalami sakit lagi akibat terlambat makan. Sudah, bawa ini dan jangan membantah. Yasmin, bawa ini."


Yasmin tersenyum mengejek pada Aksa. lelaki itu tak tahu saja bahwa sebenarnya, tadi Yasmin lah yang menyampaikan keinginannya pada Jelita untuk dibawakan menu makan siang.


Aksa hanya mendengus pasrah.


Di ruang keluarga di lantai atas, Kara juga sudah siap dengan setelah kemeja putih, celana abu-abu tua yang serupa dengan jasnya. Meski usia Kara tak lagi muda, namun pembawaan Kara sangat kuat. Tak lupa, Hanum juga telah memakaikan dasi kerjanya.


Rencananya, hari ini Kara akan datang mengontrol perusahaan. Putra sulung Radhi itu juga akan sedikit demi sedikit menjelaskan dasar-dasar pada Aksa mengenai perusahaan.


"Jangan terlalu keras dan jangan terlalu memaksakan Aksa, mas. Biar bagaimana pun juga, Aksa masihlah terlalu muda dan dia juga belum waktunya masuk perusahaan."


Hanum berkata pelan. Bisa ia rasakan selama hidup dengan suaminya, Aksa selalu ceplas ceplos jika sudah bersuara. Lidah Kara yang tajam, terkadang bisa menyakiti hati siapa pun yang tidak mengenalnya dengan baik.

__ADS_1


"Aku tau. Kalau dia tak berulah, aku tak akan menegurnya. Oh ya, nanti malam besan kita akan datang. Mama juga mengundang om Chandra dan Tante Dewi makan malam kemari untuk menjamu mereka semua dan keluarga Yasmin." Tukas Kara pada istrinya, takut-takut jika Jelita tak memberi tahu Hanum.


"Aridha sudah mengatakannya tadi saat bertemu di bawah."


"Aku juga berencana untuk mengunjungi Tian Dion dan istrinya besok. Bagaimana menurutmu? Belanja lah nanti bersama Ridha dan Luna. Belikan hadiah yang cantik dan berharga untuk keluarga Yasmin, sebagai tanda bahwa kita menerima Yasmin dengan baik dalam keluarga kita."


Hanum tersenyum manis. Biasa, bila Kara menyuruhnya untuk berbelanja, maka raut wajah Hanum berubah layaknya bidadari. Dulu, Hanum tak sebegitu menyukai acara belanja. Namun semenjak ia pindah bersama Kara ke Aussie, Hanum kerap kali kesepian. Maka untuk mengusir rasa bosan, Hanum sering berbelanja sambil menunggu Kara hingga pulang dari kantor.


"Baiklah, aku akan membeli sesuatu yang sekiranya pantas untuk menjadi hadiah mereka. Tak apa kah jika, aku membelanjakan banyak uangmu?"


"Belanjakan sesuai hatimu. Uangku banyak dan aku yakin kau tak akan mampu menghabiskannya meski setiap hari kau berbelanja." Ungkap Kara sambil mengecup pelan pipi kiri istrinya.


Aksa dan Yasmin yang baru datang dan berniat mengambil tas mereka masing-masing, beruntung tak menyaksikan adegan romantis papa dan mamanya.


"Yasmin, Aksa, kalian mau berangkat, sayang?" Hanum ganti menghampiri mereka.

__ADS_1


"Aksa, jangan terlambat pulang. Ingat, nanti kau akan ke kantor sore hari. Yasmin akan di jemput sopir nanti."


Pesan Hanum pada Aksa.


"Oh ya, Yasmin. Kau akan pulang pukul berapa nanti?"


"Pukul dua siang, ma."


"Baguslah, Oma nanti akan mengajakmu ke salonnya katanya. Jangan lupa untuk menghubungi mama jika nanti kau udah di salon."


"Memangnya, mengapa Yasmin harus menghubungi mama dulu, nanti?"


"Jangan banyak tanya cerewet." seloroh Aksa yang membuat Yasmin membuka matanya lebar-lebar.


Andai tak ada Hanum, Yasmin sudah pasti akan memberi suaminya pelajaran. Menyebalkan sekali si Aksa ini.

__ADS_1


**


__ADS_2