Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Akhir John.


__ADS_3

Radhi tersenyum simpul, ketika mendengar sendiri dari cucu kesayangannya, bahwa musuh yang menyandera Aksa adalah orang yang menginginkan istrinya. Sebagai pria yang telah lama mendampingi Jelita, ia tahu bagaimana cara Lita begitu memuja dan menginginkan dirinya.


Pandangan Radhi mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan ini lebih mirip di sebut sebagai ruang eksekusi. Berbagai jenis alat yang biasa di pergunakan untuk penyiksaan, tersedia lengkap di sana.


"Ternyata Oma mu yang cerewet dan keras kepala itu, pesonanya masih cukup mematikan hingga mampu membuat orang lain tergila-gila".


"Opa cemburu?!?" Lihatlah, meski keadaan Aksa cukup memprihatikan akibat memar yang menghias di beberapa sudut wajahnya, pemuda itu masih sempat meledek opanya.


"Kalau tidak cinta, mana mungkin opa tidak cemburu".


"Cuih.... cinta....."


"Dan opa akan menikahkan mu dengan Jasmin setelah kalian lulus nanti".


"Apa?" Aksa melotot tak percaya. Ia menghampiri opanya setelah sebelumnya, Radhi telah melepas rantai berkuncikan gembok yang melilit kaki, tangan dan tubuhnya.


"Jangan khawatir. Status mahasiswa tidak membuat kalian di larang terikat dalam sebuah pernikahan".


Ucap Radhi pelan dan berjalan keluar, meninggalkan Aksa yang cengoh dengan dua pistol dalam genggaman tangannya yang tadi telah di berikan Radhi.


'sialan, opa. Apa maksudnya ini?'


**


Setelah melalui pertempuran yang cukup sengit, Aridha dan Seno pada akhirnya berhasil meringkus sebagian besar anak buah John. Beberapa dari mereka hanya mendapat luka ringan, namun tak sedikit juga dari mereka telah terkapar dalam maut.


Seno bergidig ngeri ketika menyaksikan tadi, Aridha murka dan menyerang mereka secara membabi buta. Sebutan singa betina muda untuk Aridha, memang pantas di sandangnya menurut Seno.

__ADS_1


Dan mata Seno serta Aridha membola ketika dengan mudah, Radhi berhasil memutus nafas kehidupan, hanya dengan beberapa gerakan dasar, tanpa senjata, dan tangan kosong tentunya.


"Daniel dan Alex akan mengurus semua kekacauan ini. Seno, bantu Alex dan daniel. Dan Ridha, kita pulang dan harus mengurus pengobatan Aksa".


Ucap Radhi tegas. Pria itu kemudian menuju mobil dan membawa Aksa pergi dari sana.


Sebelum memasuki mobil, Radhi berpesan pada Alex, "Ingat, Alex. jangan meninggalkan jejak sedikit pun. habisi john dan anak buahnya tanpa sisa. Papa akan menunggu kedatangan kalian di rumah."


"Baik, pa." Alex melepas kepergian ayah mertua dan cucu kebanggaan praja Bekti, sebelum kemudian akhirnya Alex memilih untuk masuk kembali dan memburu john. lihat saja. Bisa dipastikan setelah ini John akan habis di tangan siapa.


Suara beberapa tembakan tampak terdengar dan memekakkan telinga. jelas itu adalah suara resolver yang menjadi kebanggaan John. bukan sesuatu yang sulit bagi John untuk membunuh anak menantu Praja Bekti. Setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Aksa telah berhasil dibawa pergi Radhi, John murka dan ia kehilangan tawanan untuk dijadikan umpan memanggil Jelita datang padanya dengan sukarela. John hanya tidak tau saja ia sendiri bisa tewas ditangan Jelita.


Dengan tenang, Aridha berjalan menyusuri lorong sebelah bangunan. Sorot mata tajamnya, berhasil membuat semua pengawal ngeri. Dan John sengaja memancing amarah Ridha.


"Akan kita apakan John setelah ini?" Alex yang berpapasan dengan istrinya, bertanya dengan suara setengah berbisik. "Aku rasa John murka karena Aksa telah dibawa pergi papa."


seni yang ada di belakang Aridha karena mengekor Ridha sejak tadi, mendadak ngeri.


Aridha adalah seorang wanita, wanita yang memiliki julukan singa betina muda. Parasnya cantik dan juga bisa lembut disaat sedang berhadapan dengan siapa pun yang bersikap normal. Sayangnya, Ridha akan berubah buas layaknya singa liar yang bisa siap menerkam siapa saja yang menjadi mangsanya, termasuk John yang menumbalkan diri pada Aridha yang liar.


"Ya sudah, biar aku yang melakukannya. Kau cukup diam bersama Seno."


"Hah? Diam? aku tidak mungkin diam kalau membiarkanmu yang melakukannya. Aku tak mau tanganmu kembali ternoda darah."


"Lakukan saja bila kau bisa." Sahut Aridha dengan acuhnya. Wanita itu tetap saja melanjutkan langkahnya menuju ruang belakang melalui lorong samping bangunan. Ada gerakan kecil yang terdengar seperti sebuah gesekan, di ruang tepat di samping Aridha. wanita itu waspada, siaga jika itu adalah John.


Satu tembakan terdengar memekakkan telinga, beruntung Aridha sigap menghindar dengan gerakan cepat, sebelum kemudian akhirnya wanita itu mengarahkan anak panahnya pada John yang bersembunyi di balik pohon.

__ADS_1


"Oh, kau mau bermain-main denganku, rupanya. mari kita lihat setelah ini, apa yang bisa kau lakukan setelah kau mulai bisa mencium bau tanah kematian."


Aridha berbalik dan berlari pergi, bukan menghindari John lebih tepatnya, melainkan untuk mencari posisi yang aman untuk menyerang John dengan anak panahnya.


Satu, dua, tiga, empat tembakan resolver yang berbahaya itu mengarah pada Aridha. Tentu saja hal ini membuat Alex yang mengambil posisi tak jauh dari istrinya itu, merasa was-was.


"Keluarkan semua senjatamu, John, bila kau tak ingin kau berakhir ditangan seorang wanita sepertiku." Suara Aridha lantang menantang John di balik tembok pagar yang tingginya hanya sebatas bahu Alex. Di tempatnya, Alex rasanya ingin merutuk kalimat istrinya yang dirasa bermain-main dengan maut.


"Jangan sombong dulu, wanita liar. Mari bertarung dulu dan tunjukkan kepiawaianmu dalam bersenjata."


Hening.....


Suara John adalah kalimat terakhir karena Aridha tak lagi terdengar suaranya.


Betapa terkejutnya Alex ketika matanya melihat sang istri sudah tidak lagi ada disana. Entah bagaimana cara Aridha, hingga kemudian wanita itu menghilang dan disaat bersamaan, suara John mengerang kesakitan dan resolver yang tadi digenggamnya, jatuh mengenaskan ke lantai.


Dengan hati-hati, Aridha berjalan mendekat ke arah John, menjerat leher lelaki tua itu dengan sebuah rantai kecil. Naasnya, John tidak mendengar langkah Ridha dan tidak merasakan keberadaannya.


"Memohon dan bertekuk lutut lah padaku, John. Berbanggalah untuk kematianmu sendiri karena aku tak mengukurnya, John. Aku memilihkan cara ini, mempermudah dirimu agar kau tak terlalu lama menahan sakit. Oh maafkan aku....."


"Kkkcch....kkkkkkch.... Akkkkkcch...." Suara John sangat mengerikan, pilu dan juga terasa menyakitkan. Di sinilah, tempat yang menjadi saksi akhir hidup John di tangan Aridha.


Alex, Seno dan juga Daniel tampak terkejut dibuatnya. Pemandangan di depan mereka, tampak sangat mengejutkan.


John tampak mengenaskan dengan mata melotot dan juga lidahnya yang menjulur keluar. Bahkan rantai yang dibuat Aridha untuk mencekik leher John, masih tetap pada posisinya.


John membiru dengan nafas yang telah tidak lagi keluar dari mulutnya.

__ADS_1


**


__ADS_2