Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Pertemuan tak sengaja


__ADS_3

Sudah dua Minggu berlalu semenjak kedatangan si Marcel dalam keluarga Dion untuk berkumpul kembali. Semua terlihat normal dan baik-baik saja. Aksa juga tak menolak kehadiran Marcel, meski lelaki itu sangat akrab dengan istrinya. Sebuah kecemburuan terkadang hadir dalam hatinya, namun Aksa adalah tipe lelaki yang realistis dan menjunjung tinggi logika.


Entah kegilaan apa yang saat ini tengah Aridha lakukan. Si singa betina itu nekat memancing Inora keluar rumah tanpa Dion. Padahal jika ada Dion, wanita itu tak boleh kemanapun tanpa pengawasan Dion.


"Tante, harusnya ibu keluar dengan diawasi oleh ayah. aku tak ingin mengambil risiko besar andai nanti ayah Dion marah. Yang jelas, aku hanya bisa membantu sebatas ini saja." Aksa mengungkapkan apa yang ia tahu dari Yasmin.


"Heh? Memangnya mengapa harus diawasi segala? Bukankah hanya keluar rumah dan juga sedang ada kepentingan di luar? Katakan saja begitu terhadap ayah mertuamu nanti. Toh tuan Dion sedang ada di kantor?" Aridha tak mengerti dengan rumah tangga yang Inora jalani bersama Dion. "Dia sekuat itu untuk dikekang?"


"Aku tak tahu masa lalu semacam apa yang mendasari hal itu, Tante. Begini saja, biar aku sampaikan dan aku tanyakan pada ayah untuk mempertemukan ibu dan Tante secara pribadi." Aksa menawarkan solusi baik-baik.


"Tapi Tante sudah tak sabar, Aksa. Sudahlah. Jika kau bisa membujuk ayahmu, aku tak akan keberatan. menunggu satu dua hari."


"Tidak perlu menunggu selama itu jika memang mau, nyonya." Dion tiba-tiba berdiri di belakang Aksa entah sejak kapan. "Maaf, aku lancang mengikuti Aksa karena Aksa meninggalkan ini."


Suami Inora itu lantas menghampiri Aridha yang cukup terkejut atas kehadirannya, sambil menyodorkan kotak bekal berisi menu makan siang Aksa hari ini bersama Yasmin di sekolah. "Maaf, tuan. Justru aku yang meminta maaf karena tak sabaran."

__ADS_1


"Anda ingin bertemu secara pribadi dengan Nora? Mari kita bertemu di luar Jika memang ini privasi dan tak ingin di dengar keluarga lainnya."


"Baiklah, tuan. Nanti malam kita bertemu di sebuah tempat. Biar nanti Aksa yang memberi tahu tempatnya. Untuk kali ini maaf, aku terburu-buru menyelesaikan urusan di luar. Permisi." Aridha berlalu pergi, meninggalkan Aksa dan Dion yang saling pandang.


"Semua sudah terlanjur tahu, Aksa. Ayah berharap, kau bijaklah dalam menilai sesuatu." Dion menepuk bahu Aksa sebelum kemudian ia berlalu begitu saja dari sana.


**


Di tempat lain, Marcel dan Yasmin yang masih mengenakan baju putih abu-abu itu, tengah menunggu kedatangan Aksa di taman dekat sekolah Yasmin. Marcel benar-benar menjaga Yasmin dan tak ingin ada yang mengganggu adiknya itu.


Keduanya hanyut dalam gelak tawa yang sesekali mereka layangkan akibat candaan Marcel.


Alex memang sengaja hanya masuk kantor beberapa jam saja. Ia sangat ingin sekali menemui putranya dan berinteraksi lebih dekat. Sayangnya, Alex cukup tahu diri dan merasa malu sendiri karena ia tak terlibat sama sekali dalam tumbuh kembang Marcel.


"Om Alex?" Alex baru sadar, bahwa yasmin telah mengetahui keberadaannya. Alex gelagapan. Ingin pergi, tapi sudah telanjur Yasmin menghampirinya.

__ADS_1


"Mengapa sendiri berdiri disini? Mari duduk disana. Yasmin sedang menunggu Aksa datang. Oh ya, perkenalkan, ini kakakku, satu-satunya kakakku. Kak Marcel namanya."


Yasmin beralih menatap ke arah Marcel. "Kak, perkenalkan, beliau ini paman suamiku. Namanya om Alex."


Alex tergagap. Bahkan untuk menatap Marcel saja, Alex rasanya tak kuat.


Lain Alex lain lagi dengan Marcel. Lelaki itu menatap lekat Alex yang begitu mirip dengannya. Mungkinkah di dunia ini memang ada sebuah kebetulan yang demikian? Begitu pikir Marcel.


"Mari bergabung dengan kami, tuan. Maaf, ibu kami memang tak pernah memperkenalkan aku sebagai putranya, karena aku sejak berusia empat tahun sudah mengenyam pendidikan asrama dan baru lulus di usia dua puluh tahun."


Alex menatap dalam putra biologisnya. Inginnya memeluk, namun sayangnya, Alex merasa malu sendiri, merasa tak mampu melakukannya.


"Benarkah aku boleh bergabung?" Alex bertanya lirih dengan sedikit gamang.


"Ya, tentu saja."

__ADS_1


Dan hari ini, adalah hari pertama Alex berbicara dengan putra yang selama ini disembunyikan mati-matian oleh Inora.


**


__ADS_2