Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Hari kelahiran


__ADS_3

Sore ini, kediaman Praja Bekti di selimuti kebahagiaan yang tak terkira. Ada cemas yang menaungi aura seluruh anggota keluarga.


Pasalnya, Hanum yang sedari tadi berjalan-jalan ringan di halaman depan, mendadak merasakan kontraksi pertamanya.


Usia kandungan Hanum masih menginjak bulan ke delapan. Tapi siapa sangka, kini dirinya merasakan nyeri punggung dan di perut, yang lumayan mampu membuatnya meringis menahan sakit.


"Adduuhhhhhh.......".


Rintihnya.


Tak jauh darinya, Radhi sedang asik bermesra riang bersama istrinya dengan menanam beberapa tanaman bunga langka yang harganya cukup fantastis.


Radhi terkesiap, begitu juga dengan sang istri.


"Oh ya tuhan, sayang..... Apa yang kau rasakan?"


Jelita menghampiri menantunya dengan tenang, namun tersirat kekhawatiran dalam netra indah di matanya. Radhi juga serta Merta ikut menghampiri.


"Nyeri, ma".


Hanum menjawab lirih.


"Bukankah masih menginjak bulan ke delapan, sayang?


Ya Tuhan.... Bagaiman ini? Kara masih ku tugaskan ke Hongkong untuk mengurus bisnis di sana".


Radhi panik.


Jelita melotot ke arahnya.


"Kau ini bagaimana, mas? Bukankah sudah tau bahwaenantu kita akan melahirkan? Mengapa melempar Kara ke Hongkong? Mengapa kau tak menugaskan Seno atau Alex?"


"Sayang, aku tak tau HPL Hanum akan maju secepat ini?".


Radhi mirip seperti bocah kecil yang ketakutan saat mendapat Omelan dari ibunya.


Sungguh, Mama Jelita benar-benar menjadi pawang yang luar biasa hebat dalam mengendalikan papa Radhi.


"Aku tidak mau tau, cepat hubungi Kara atau ku...."


Jelita segera meletakkan jari telunjuk kanannya di sisi leher kirinya, kemudian menggeser ke sisi kanan lehernya, mirip seperti layaknya leher yang di tebas senjata tajam.


"Sudah, ma... pa... Antar Hanum ke-kerumah sakiit".


Ucap Hanum melerai.


Radhi melebarkan matanya.....


Tanpa menunggu lagi, dirinya berlari menuju ke lantai atas untuk segera menghubungi putranya. Meninggalkan Jelita yang terkekeh ringan.

__ADS_1


"Sabarlah, sayang. Tarik nafas dalam-dalam, kemudian hembuskan perlahan".


Jemari Jelita terulur mengusap pelan punggung menantunya, memijitnya pelan agar bisa rileks.


Sedang Radhi, pria itu mengumpat dalam hati karna dirinya begitu lemah bila di hadapkan dengan sang istri.


Sial.......


Bisa-bisa nya wibawa yang selama ini di banggakannya itu, kini tak berguna dan berarti di mata istrinya.


Tak di sangka, Saat tiba di ruang keluarga di lantai atas, dirinya di buat terkejut dengan pemandangan di sofa paling ujung.


Alex dan Aridha, putrinya......


Tengah melakukan prosesi ciuman yang begitu dalam. Mata Radhi melotot sempurna kala itu.


Belum sempat dirinya bisa menetralkan kekhawatiran nya pada Hanum, ia harus mendapat Omelan dari sang istri.


Dan apa ini?


Dia juga mendapati adegan dewasa di ruang keluarga yang begitu terbuka?


Apa sekarang semua orang berubah gila?


Radhi membeku. Hingga pandangan Alex mengarah padanya, mata Alex membola dengan sempurna.


"Pa...papa??"


"Astaga..... Kalian ini kenapa tidak di kamar saja? Ya Tuhan, aku bisa gila jika terus begini.


Cepat turun ke bawah.".


Tanpa peduli lagi pada keduanya, Radhi bergegas menuju kamar utama untuk mencari ponselnya.


Menghubungi putranya yang juga ternyata merasa tidak nyaman berada di sana hari ini.


Pikiran Kara seakan memang merasa bahwa hari ini adalah hari di mana ia bertemu dengan malaikat mungilnya bersama Hanum.


*****


Kara tak bisa menunggu waktu lebih lama lagi. Semenjak Radhi menghubunginya, Kara segera bergegas memesan tiket dengan penerbangan tercepat. Beruntung, perjalanan nya kali ini di permudah.


Durasi waktu 5 jam, ia berhasil mendarat di bandara Soekarno-Hatta hari itu. Langkah sungguh cepat menuju parkir yang sudah ada Alex yang menunggunya.


"Di mana Hanum?".


Kedua tangan Kara meremas bahu Alex dengan tiba-tiba.


Alex yang ditanya seperti itu merasa jengah sendiri.

__ADS_1


"Tentu saja di rumah sakit. Masa iya orang mau melahirkan harus di bawa ke pusat perbelanjaan?".


Andai Alex tak ingat bahwa pria yang ada di hadapannya ini adalah kakak iparnya, Alex tentu akan menonjok mukanya saat itu juga.


"Jangan bercanda".


"Jangan bertanya kalau begitu".


Alex segera memasuki mobil dan di ikuti Kara, mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Setibanya di rumah sakit, Kara dan Alex segera berlari menuju ruangan bersalin tempat Hanum akan melahirkan.


Sesampainya di sana, Kara segera menghampiri sang istri, mendapati istrinya itu tengah berkucuran keringat di pelipis dan dahinya.


"Mas...."


Rintihnya di sertai senyum. Namun wajah kesakitan itu sangat jelas nampak di wajah Hanum. Dan Hanum, sangat menikmatinya.


"Astaga sayang...... Bagaimana bila melahirkan melalui jalan sesar saja?".


Jari kanan Kara menggenggam erat jemari istrinya, menyalurkan kekuatan yang bisa ia bagi pada istrinya.


"Tidak... Aku suka semua berjalan normal".


Dan di detik berikutnya, wajah Hanum memerah, pertanda bahwa kontraksinya kembali datang.


Wajah kara memucat seketika.


Melihat istrinya merasakan kesakitan, membuatnya semakin di serang rasa takut yang luar biasa.


"Ya Tuhan, andai aku bertemu dengan mu, aku akan meminta satu anak saja. Aku tak sanggup melihat istriku kesakitan".


Cicitnya yang di iringi tawa geli Hanum.


Di ambang pintu, Jelita dan Radhi yang mendengar ucapan Kara, saling pandang dan tersenyum penuh arti.


"Oh sayang, bagaimana bila kau beri aku satu bayi lagi yang lucu..... Apa kau bersedia melahirkan satu lagi putra atau putri untukku?"


Radhi bertanya dengan nada genit pada istrinya.


Semua anak-anak dan menantu-menantu Radhi yang ada disana melotot horor ke arah Radhi.


Begitu juga dengan Kara yang ingin mengumpat saat itu juga.


Arlan, Alma, Ariana, Aridha, Alex, Aluna dan Seno saling pandang tak percaya dengan tingkah Radhi kali ini.


Jangan tanyakan bagaimana dokter dan perawat yang bertugas di sana. Mereka menahan tawa setenagh mati.


"Oh tentu saja, bagaimana bila kita melakukan pembuatan bayi nanti malam?".

__ADS_1


🍁🌻🌻🌻🍁


Maafkanlah typo yang bertebaran ya, otornya abis jungkir balik...... 😂😂 lagi kurang enak badan.


__ADS_2