
Malam belum larut, ketika Aksa tengah berjalan menuruni anak tangga untuk menuju ke ruang keluarga di lantai bawah. Pemuda sulung Kara dan Hanum itu ingin menemui sang bibi, Aridha untuk menanyakan beberapa hal, juga Alex tentunya.
Sambil bersiul layaknya anak remaja yang tengah kasmaran, Aksa melangkahkan kaki tegapnya. Dari arah bawah, Aridha yang sedang berbincang dengan putrinya yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, mengalihkan atensi mereka pada pemuda bertubuh kekar itu.
"Malam om Alex, Tante Ridha, Reina." sapa Aksa pada ketiga orang yang sedang berbincang hangat itu. Tak ayal, mereka menjawab serentak.
"Tumben kak Aksa mau turun usai makan malam?" Reina, putri Alex dan Aridha itu mengernyitkan keningnya. "Biasanya si kulkas ini tidak akan pernah bisa lepas dari kamarnya barang sedikit pun." imbuhnya lagi.
"Hai adik manis yang cerewet, aku ingin bicara dengan ayahmu, boleh?" tanya Kara pada Reina. Reina mengangguk dan tersenyum. "Kau bisa melanjutkan perbincangan nanti. Aku ad perlu dengan papamu."
"Oh tentu saja boleh. Hanya saja, aku mau besok sepulang sekolah kak Aksa mengajakku bermain di taman kota." Reina yang selalu manja itu, menatap serius ke arah Aksa.
"Ya, tentu saja. Jangan Khawatir." Reina tak berucap lagi dan memilih untuk bangkit dari duduknya. Wajahnya tampak ceria.
Setelah Reina berlalu, Aksa duduk tak jauh dari tantenya, Ridha. Wanita itu melirik keponakannya yang sedikit gugup, meski Aksa dengan pandai berusaha menutupi kegugupannya ini.
"Ada apa, Aksa? Apa ada masalah?" Alex membuka suara, setelah dirasa Reina berlalu pergi, "Apa perlu bicara di ruang kerja om Alex?"
"Tidak perlu, om. Disini saja Aksa rasa sudah cukup." ungkap Aksa kemudian. "Aksa ingin bertanya tentang keluarga Yasmin, pada om Alex."
__ADS_1
Baik Alex,maupun Yasmin saling pandang, Merasa ada yang aneh dengan pertanyaan Aksa. "Bukankah kau yang lebih mengenal kekasihmu, Aksa. Mengapa bertanya tentang keluarga Yasmin pada om Alex mu? Dia jelas tidak tau apa-apa." Ungkap Aridha.
Alex hanya mengerutkan keningnya, merasa bahwa si keponakannya ini sedikit ngelantur malam ini. Tetapi tak urung, Alex curiga. Sesungguhnya, Alex sudah tau tentang Inora, wanita yang dulu begitu sangat menggilainya Hinga berakhir depresi. Tetapi sayangnya, hati Alex sudah terpaut pada Aridha.
Bukan tak cantik, Inora juga memiliki paras yang tak kalah cantiknya dengan Aridha. Tetapi yang namanya hati bila sudah jatuh cinta, Alex bisa apa?
"Tapi om Alex tau jika dulu nyonya Inora menyukainya." Kalimat Aksa, berhasil membuat Alex kesulitan menelan salivanya. Bila sampai Aridha salah paham, bisa bertengkar sebentar lagi dirinya dengan sang istri.
"Maksudnya?" Aridha menatap suaminya dengan raut biasa saja, tapi Alex ketar-ketir dibuatnya. "Apa nyonya Inora masa lalumu, mas?" tanya Aridha lagi.
"Bukan, Dia yang mengejar-ngejar aku dulu, disaat aku sudah mencintaimu. Dia sendiri yang menggilaiku hingga berakhir depresi. Jadi, ya bukan salahku, kan? Lagi pula sebelumnya, aku sudah menyampaikan aku tak bisa menyandingnya, aku juga minta maaf padanya karena aku lebih mencintaimu."
"Oh ya tuhan, aku baru dengar ini." Aridha menatap suaminya sembari menganggukkan kepalanya.
"Yang ingin Aksa sampaikan, nyonya Inora ini sangat berhati-hati jika bicara dengan Aksa. Om Alex tau? Bahkan Kesannya nyonya Inora menjaga jarak dari Aksa. Beberapa pengawal yang ikut bertandang ke rumah Yasmin, bahkan pernah mendengar bahwa bibi Inora dan paman Dion takut jika Yasmin menjadi kekasih Aksa. Alasannya ya karena mereka enggan memiliki keterkaitan dengan keluarga Praja Bekti."
"Oh, jadi hanya itu yang kau pikirkan? Apa itu artinya nyonya Inora masih menaruh hati pada om Alex?" Tanya Aridha penuh selidik. Lama-lama, Ridha tertarik juga dengan topik yang Aksa buka.
"Bila tak menaruh hati, tidak mungkin bibi Inora meminta Yasmin untuk menjaga jarak dari Aksa. Hello... Aksa dan Yasmin adalah seorang kekasih, sangat tak mungkin bagi kami untuk saling menjaga jarak." Timpal Aksa. Dalam hatinya, meski Yasmin adalah kekasih bohongnya, namun tetap saja aksa dilanda rasa penasaran yang tinggi akan sosok Yasmin.
__ADS_1
"Tak masalah bila begitu, asal om Alex tidak berpaling ke lain hati, maka rumah ini, dunia serta seisinya, semua akan aman dan baik-baik saja." Ucap Aridha dengan cueknya.
"Lagi pula aku tak mencintainya, sayang. Tidak mungkin pula bagiku untuk berpaling hati. Kau tau cintaku padamu seperti apa, bahkan aku rela menukar seluruh duniaku asal kau tetap tersenyum."
Aksa tersedak tanpa sengaja. Kalimat manis Alex pada Aridha, membuat Aksa ingin muntah lama-lama. "Ya tuhan, apakah jatuh cinta bisa segila ini?"
"Ya sudah, tak masalah. Tapi katakan ini pada ibu Yasmin, Aksa, Masa lalu biarkan berlalu, yang terpenting sekarang, aku harap ia menjalin hubungan persaudaraan dengan keluarga kita, dengan menyatukan kau dan juga Yasmin. Aku tak akan marah hanya karena masa lalu, aku bukan tipe wanita yang seperti itu. Jadi tak usah berlebihan. dan membatasi hubungan dan pertemuanmu dengan Yasmin. Kau bisa meminang Yasmin sesegera mungkin. "
"Hah? Ya tuhan, Tante Ridha. Jangan berpikir terlalu jauh, aku dan Yasmin memang menjalin hubungan kasih, tapi bukan berarti kami ingin menikah secepatnya." tukas Aksa kemudian.
"Itu urusan kalian, tapi berdasarkan berita yang aku dengar dari Oma dan opa, Kau dan juga Yasmin harus bertunangan secepatnya."
Ah, Aksa menyesal lama-lama, karena ia harus membicarakan Inora tadi.
"Ya tuhan, aku tadi ingin bertanya tentang bibi Inora pada om Alex, tapi berakhir aku yang dipaksa menikah dengan Yasmin."
Aksa bangkit dan kembali ke kamarnya, tanpa memedulikan panggilan Aridha yang melengking sepenjuru rumah.
**
__ADS_1