
Seorang pria paruh baya nampak terbaring lemah dengan wajah memucat. Kesadarannya belum kembali semenjak dua hari yang lalu.
Kini......
Di kediaman keluarga Praja Bekti, dirinya benar-benar akan mengetahui neraka yang sesungguhnya.
Surya Rahadi......
adalah pria hasil hubungan di luar pernikahan mendiang Yusman dan mendiang Sukma.
Kini, kedua orang tuanya telah menyatu dengan tanah. Tak tahukah kau bahwa dunia demikian banyak memberinya penderitaan?
Hidupnya telah terseok-seok melewati jalan terjal dan penuh liku. Penderitaan dan hidup serba kekurangan, seakan menjadi teman hidupnya.
Terkadang, ia iri melihat begitu banyaknya anak-anak yang tumbuh dengan kasih sayang orang tuanya.
Sedang Surya......
Belum sempat ia mendapat kasih sayang dan mengetahui wajah kedua orang tuanya secara langsung, kini kedua orang tuanya itu telah tiada. Meninggalkan berjuta tanya yang ia simpan seorang diri dalam relung hatinya.
Jangan pernah bertanya neraka apa yang ia lewati untuk sampai hingga pada titik ini.
Jangan pernah bertanya duka apa yang ia rasakan selama ia bernafas.
Tak seorang pun keluarga yang peduli.
Bahkan dirinya telah di pisah kan secara paksa dari kedua orang tuanya.
Disisinya, Jelita menatap nanar tubuh yang usianya tak jauh berbeda dengannya.
Pria di hadapan Jelita ini adalah anak haram hasil hubungan gelap antara mendiang papanya dan istri keduanya.
Bila Dewi terlahir dalam hubungan pernikahan, maka tidak dengan Surya. Entah kegilaan macam apa yang papanya lakukan di masa lalu, yang Jelas Jelita merasa jijik mengetahui fakta baru tentang Yusman.
Dari sini Jelita bisa menyimpulkan bahwa, Cinta Mendiang papa dan ibu tirinya demikian amat besar, hingga sanggup menerjang badai dan tak ragu melanggar norma-norma masyarakat. Bolehkah Jelita menggali kuburan Yusman dan berteriak marah atas kebangsatannya di masa lalu?
Meski Jelita sendiri merasa dirinya tak cukup suci, Akibat kebodohannya di masa remaja hingga menyebabkan Arlan dan Ariana terlahir.
Mengapa? Mengapa meski dalam keadaan mati pun, Yusman dan Sukma masih saja meninggalkan masalah yang cukup pelik?
Jelita tak bisa membayangkan, bagaimana syok nya Dewi andai nanti fakta ini sampai ke telinganya.
__ADS_1
Mengingat Dewi, rasa bersalah Jelita muncul ke permukaan. Menyelimuti hatinya yang cukup rapuh.
"Eeeegggghhhhhh...."
Erangan lirih keluar begitu saja dari mulut Surya meski matanya masih tetap terpejam.
Jelita memfokuskan pandangannya pada wajah Surya. Jika di tatap lebih dalam, garis wajahnya demikian mirip dengan Mendiang papanya, Yusman Nugraha.
Perlahan, kelopak mata Surya terbuka. Netra matanya bergerak-gerak pelan mengamati langit-langit ruangan. Tak sengaja, ia menangkap siluet seorang wanita yang sangat ia kenal sebagai pemilik sah peninggalan harta kedua orang tuanya.
Mengingat ini, senyum getir ter-ulas sempurna di bibirnya.
"Mengapa aku masih hidup?
Seharusnya kau menghabisi ku saat itu juga".
Ucapnya dengan suara parau.
Ia tak lagi merasakan sakit lagi pada lengannya.
Semua itu tak lagi terasa berarti di banding sakit yang ia derita selama ini.
"Kau pikir, setelah kau menerjunkan diri ke dalam masalah yang kau buat denganku, aku akan membiarkanmu mati?
Jelita menjawab dengan suara datar dan mimik wajah datar. Tak ada riak emosi apapun. Tak ada kesan sinis, tak ada kesan marak, tak ada kesan murka, dan tak ada kesan bahwa ia terluka.
"Kau tak tau saja neraka apa yang aku jalani selama ini? Bahkan aku menjalani kehidupan dengan penuh siksaan.
Haruskah ku ejakan, derita dan nestapa yang aku rasakan selama hidupku ini padamu?"
Surya berkata dengan nada yang melemah. Netra matanya meneriakkan kelukaan.Raut wajah nya menjerit kan kesakitan. Dan suaranya menyiratkan kepedihan.
"Ejakan saja dan aku akan menjadi pendengar yang baik. Pendengar yang baik meski kau menjadikan putraku bahan baku target korbanmu".
Tak jauh dari mereka, Kara dan Radhi mengamati dengan teliti. Tatapan mereka sama sekali tak pernah lepas dari keduanya.
Bukan karna apa, Radhi dan Kara yang telah mengenal karakter Jelita yang mudah meledak-ledak, demikian khawatir andai wanita itu tak bisa mengendalikan dirinya.
"Aku hidup di sebuah panti asuhan semenjak aku bayi...."
Tatapan mata Surya nyalang, menerawang jauh perjalanan hidupnya.
__ADS_1
"Hingga aku beranjak remaja aku mencari jati diriku, menggali identitas ku, dan berusaha membongkar status sesungguhnya yang ku miliki".
"Tidak mudah.... semua prosesnya tak mudah.
Hingga aku mengetahui perihal seluk belukku, bahwa aku adalah anak yang terlahir di luar pernikahan. Oma dan opa, tak mau membagi sedikit saja informasi tentang ayah dan ibu.
Perjalananku selalu menemui jalan buntu.
Dan tiba saat aku mengetahui semuanya, rupanya aku dulu tak pernah di inginkan dan di harap kehadirannya.
Ayah dan ibu..... adalah orang yang berkecukupan, sedang aku hidup dalam kekurangan.
Bahkan untuk makan saja, aku sudah mulai bekerja paruh waktu saat aku masih bersekolah".
"Bila kau meminta baik-baik padaku, mungkin aku akan memberikan sedikit harta peninggalan papa. Sayangnya....
Kau lebih memilih menempuh cara yang salah.
Jadi, jangan salahkan aku bila kau harus menerima hukumanmu karna telah berani mengancam keselamatan putraku".
Jelita bangkit dan berlalu pergi. Meski langkahnya mantap tanpa suara, meski wajahnya datar, namun pendar matanya menyiratkan luka.
Radhi hanya diam. Dirinya cukup tau bahwa saat ini istrinya tengah berduka.
Menuju ruang kerja pribadinya, Jelita meraih sebuah album foto yang tersimpan rapi di pojok bawah bufet belakang kursinya.
Membukanya perlahan, kemudian mengingat-ingat banyak momen masa lalu saya ia kecil, saat mendiang mamanya Ambar Sayu masih hidup.
Pandangan mata Jelita nyalang menatap foto dirinya, Ambar dan Yusman.
Sekuat dan setangguh apapun Jelita, pada dasarnya ia rapuh juga.
Di rabanya pelan foto itu dengan jemarinya yang gemetar, seiring bahunya yang bergetar hebat.
Ingatannya kembali menjelajahi jejak masa lampau yang kini baru terkuak.
"Mengapa?
Mengapa di saat kau mati pun, kau masih tetao menabur luka di hatiku, pa?
Mengapa?".
__ADS_1
🍁🌻🌻🌻🍁