Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Kehancuran yang tersisa


__ADS_3

Hari baranjak pagi ketika petang telah tenggelam. Suara kicau burung mengiringi tiap hembusan angin yang menjalar mengisi tiap sudut dedaunan dan ranting, saling gesek hingga menciptakan suara menyejukkan.


Kara mengerjapkan matanya perlahan beberapa kali.


Menyesuaikan cahaya yang baru masuk memasuki netra matanya yang menawan.


Wanita semalam telah enyah entah kemana.


Setelah selesai pergumulan hebat mereka, Kara mengusirnya dengan sangat tidak berperasaan.


Ia lempar banyak lembar uang berwarna merah ke arah sang wanita.


Bukannya marah, si jalang itu lantas tersenyum penuh binar di matanya, meski keletihan jelas menggelayut di sana.


Kepala Kara mendadak pusing, kepalanya seperti dihantam sebuah Godam berbobot ratusan kilo. Dengan desisan tertahan, Kara memegangi kepalanya yang mendadak berat.


Di lihatnya jam menunjukkan pukul sepuluh, artinya hari hampir menjelang siang.


Beruntung hari ini akhir pekan.


Sedang di kediaman Praja Bekti, Jelita uring-uringan tak jelas. ia ingin meluapkan segala tanya yang memenuhi otaknya.


Dimana Kara?


Siapa wanita yang di bawanya semalam?


Sekedar teman kencan, teman dekat, Ataukah telah Samapi pada tahap sebagai kekasih?


Lantas, kemana Kara semalam ini?


Mengapa tak pulang semalaman bahkan hari telah menjelang siang?


Apa yang mereka lakukan?


Mungkinkah Kara menghabiskan malam berdua dengan wanita itu?


Mungkinkah mereka melakukan hubungan layaknya suami istri?


Tidak tidak.


Jelita jelas enggan bila hal ini terjadi.


"Mas, jangan hanya diam saja.


Tidak kah kau khawatir pada putramu?


Hubungi dia sekali lagi! Atau bila perlu, hubungi wanita yang bernama Hanum itu untuk mencari tau keberadaan putra kita".


Jelita jelas enggan membayangkan hal yang tidak-tidak tentang putra kebanggaannya itu.


"Azkara sudah besar, sayang.


Dia bahkan takkan mati kelaparan dan tersesat jalan pulang.".


"Apa? Kau berkata demikian?


Putra kita di luar bersama wanita.


Tidakkah kau khawatir akan sesuatu yang terjadi padanya?".


"Lalu aku harus bagaimana?".


"Utus beberapa pengawal handal kepercayaanmu untuk mencari tau keberadaan putramu, atau hubungi sekertarismu dan cari keterangan tentang keberadaan Kara pada Hanum".


Tanpa menunda lama, Radhi segera menghubungi sekertarisnya. Meminta tolong mencari keberadaan putranya.


Baru saja ponsel Radhi di matikan, Kara tiba dengan wajah dan penampilan kusut massai.


Wajahnya nampak keletihan.


Radhi dan Lita saling pandang, kemudian menatap lekat putranya yang nampak kacau.


"Selamat pagi mama, papa."


Sapa Kara yang mencoba tersenyum, senyum yang di buat-buat.


"Apa? Pagi? Ya tuhan, bahkan hari telah menjelang siang dan kau berkata pagi?


Dari mana saja kau semalam, Kara?"

__ADS_1


Jelita mendekati putranya, sekilas, aroma parfum wanita menguar dari tubuh Kara.


Jelita nampak mengernyitkan kening, tak suka.


Dan lihat, oh tidak.


Bahkan di beberapa sudut kemeja Kara terdapat bercak lipstik merah menyala dengan bentuk bibir.


"Bukankah ini belum memasuki jam makan siang?"


Jawab Kara ringan.


"Kara!! Duduk!!


Mama ingin bicara padamu."


Tegas Jelita.


"Bicara Apa, ma? Nanti saja.


Bahkan Kara belum membersihkan Diri".


Kara memutar bola matanya malas.


"Jangan membantah, nak. Duduklah.


Tidak baik mendebat orang tua, terlebih dia mamamu. Kau menyayangi mamamu, kan?"


Radhi berbicara lembut, berusaha menengahi perdebatan yang hampir terjadi.


Bila sudah begini, Kara mulai jengah.


Ia tak memiliki alasan lagi untuk membantah.


Radhi segera duduk di sofa dekat mamanya.


wajahnya datar, seperti bayi yang tak memiliki dosa apapun.


Radhi......


Papanya ini, adalah sosok yang demikian lembut dalam bertutur kata, namun membuat Kara tak berani melawan.


"Ada apa, ma?".


"Siapa wanita yang kau bawa semalam di pesta om Chandra?"


Tanya Jelita dengan nada suara melunak.


"Oh, itu..... Hanum Kinara namanya. Mama bisa memanggilnya Hanum".


Kara tersenyum kecil.


Mengingat nama Hanum, membuat kesejukan perlahan mengaliri hati Kara.


"Hanum..... Adalah salah satu staf dari divisi keuangan di kantor Induk".


Kara terdiam sejenak.


Sekilas, Radhi menangkap aura kebahagiaan menguar dari wajah Putranya.


Dari sini saja Radhi bisa menyimpulkan, Kara memiliki rasa ketertarikan lada wanita itu.


Bahasa senyumnya, Radhi seperti telah membaca suasana hati putranya saat ini.


"Siapamu?"


Jelita kembali melempar tanya.


"Hanya partner. Senagaja aku memakainya dengan bayaran tinggi untuk membalas Dita".


"Ya tuhan, Kara. Kau memanfaatkan wanita lain untuk melancarkan aksi balas dendammu?" Jelita tak mengerti kali ini.


Bagaimana mungkin, putra kebanggaannya itu berbuat sedemikian di luar kendali.


"Kau menyakiti wanita lain, Kara".


"Tidak, ma. Ini adalah bagian dari sebuah kesepakatan dangkal. Tak lebih". Jelita menggelengkan kepalanya, merasa tak berdaya.


"Tapi papa bisa melihat jelas bagaimana tentang tatapan wanita itu demikian tertarik padamu, Kara. Dia memiliki ketulusan murni padamu, nak. Jadi papa tak ingin putra kebanggaan Praja Bekti mempermainkan perasaan wanita. Jelas itu bukan ajaran dalam keluarga kita".

__ADS_1


Kali ini Radhi bersuara.


Bila telah Radhi yang angkat bicara, Kara tak berkutik.


"Persetan dengan Hanum, pa. Aku telah membayarnya mahal untuk kesepakatan kerja sama ini".


Radhi tak tau lagi harus bagaimana menghadapi sifat keras kepala putranya ini yang seperti ibunya.


"Lantas, semalam kau tidur dengan Hanum?


Menghabiskan malam panjang bersama hingga se-siang ini?".


Jelita Jelas tak ingin memperpanjang waktu lagi untuk menuntaskan segala penasarannya.


"Aku memang tidur dengan waniat semalaman, ma. Tapi bukan Hanum.


Wanita acak yang Jelas mau melayaniku".


Jelita tercekat mendengar pernyataan putranya.


Kara menjelaskannya dengan gamblang.


Tak ada keraguan yang nampak pada raut wajahnya. Kara telah menjelaskan apa adanya.


Begitu pula dengan Radhi yang demikian syok.


"Sejak kapan kau bermain wanita, Kara?".


Radhi sebisa mungkin mengendalikan dirinya.


Pandangan mata Kara nampak menerawang masa lalu.


"Anak angkat om Chandra lah yang menjadi pemicunya, pa.


Sejak wanita itu menghemapaskan perasaanku dengan sangat dalam tanpa nurani.


Hatiku terkoyak. Tersayat dengan sangat dalam tanpa ada harapan untuk di sembuhkan.


Sejak saat itulah, pertama kali aku terbiasa melampiaskan amarahku dengan bermain wanita.


Tapi jangan khawatir, pa.


Aku selalu memakai pengaman untuk mengurangi resiko terburuknya".


Jelita hampir pingsan saja mendengar pengakuan putranya ini.


Wajahnya mendadak memucat, kulitnya yang nampak seputih pualam, juga nampak seperti ikut menegang.


Sebesar itukah sakit yang kara rasakan karna ulah Dita?


"Papamu tak pernah sekalipun bermain wanita, Kara. Mengapa kau mempunyai kebiasaan seburuk ini perihal wanita?


Sebenarnya, Sebesar apa kau mencintai Dita hingga lukamu sedalam ini, Kara?"


Jelita tidak tahan lagi untuk menyembunyikan sisi kerapuhannya pada putranya.


Kara perlahan merebahkan tubuhnya, meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya, berusaha berbagi hatinya yang penuh luka, berbagi nuraninya yang menyandang nestapa, dan berbagi jiwanya yang dipenuhi duka lara.


Perlahan, tangan Jelita terulur mengusap pelan puncak kepala putranya.


"Dulu, Aku sangat mencintai Dita, ma.


Tapi rasa itu telah ku bunuh mati.


Sebesar apa kehancuranku karna Dita, maka sebesar itu pula lah dalam nya rasaku padanya.


Andai Dita tak melukai waktu itu, mungkin kini, aku telah menentang mama habis-habisan demi bisa menjadikan wanita itu pengantinku.".


"Lalu, kenapa harus perasaan Hanum yang kau seret ke dalam permasalahan mu, Kara?


Papa bisa melihat jelas bahwa Hanum adalah wanita istimewa memiliki pendar cinta dimatanya untukmu".


Radhi kembali melontarkan tanya pada putranya.


"Aku tau, bahkan Hanum telah menyatakannya padaku.


Tapi aku masih tak tau, harus lah hatiku ku labuhkan?".


🍁🌻🌻🌻🍁

__ADS_1


__ADS_2