
Dalam sebuah kamar yang cukup luas dan mewah, seorang wanita tengah berdandan cantik di depan cermin riasnya.
Sekali lagi, wajahnya terlihat nampak menawan.
Alisnya ia ukir indah.
Matanya demikian tajam dengan bulu mata lentik yang membingkai.
Hidungnya cukup mancung dengan pipi tirus ber-blush on kecoklatan di samping-sampingnya.
Bibirnya ia poles warna nude, warna yang melambangkan keanggunan dan kelembutan.
Rmbutnya demikian indah, tergerai sebatas pinggang dengan perhiasan mutiara sebagai penjepit di atas pelipis kiri.
Dia adalah Dita.
Bangkit dan berputar di depan cermin, Dita mengamati penampilannya sekali lagi.
Gaun kuning gading sebatas lutut yang membalut sempurna tubuhnya, membuat Dita nampak seperti bidadari.
Sekali lagi...........
Seringai licik ter-ulas di bibir nya yang menawan dan cukup menggoda kaum Adam.
Empat jam yang lalu, ia mendengar kabar bahwa malam ini, Kara akan menghadiri perjamuan makan malam dengan seorang klien yang berasal dari Kalimantan.
Otak piciknya muncul seketika.
Sembilan tahun lamanya, akibat cintanya pada Kara, ia harus menderita. Selama sembilan tahun pula dirinya tak pernah merasakan kebahagiaan.
Kini sudah saatnya........
Hanindita menjemput kebahagiaannya, meraih impian yang tak pernah bisa ia enyahkan begitu saja.
Persetan bila Daniel mengemis dan bersimpuh di kakinya. Dita tak akan Sudi.
Yang Dita pikirkan hanyalah kebahagiaannya sendiri.
Selama ini, ia sudah cukup mengorbankan perasannya. Menerima apa adanya takdir buruk yang terjadi padanya.
Sekarang sudah saat nya, ia egois.
'Bukankah aku berhak bahagia? Maka aku harus menjemput kebahagiaanku'.
Batin Dita telah bertekad.
Ia bahkan tak akan lagi peduli dengan tangisan dan rengekan Hana. Toh selama ini, Hana sudah cukup bahagia tanpa ayah? Jadi, tak perlu lagi Hana menjadi penghalang ambisi dirinya dalam mengejar pria yang di cintai nya.
Bahkan Dita luka bahwa ia akan berhadapan langsung dengan Jelita, bila sampai Dita berani mengusik ketentraman rumah tangga Kara.
Dengan langkah mantap, Dita memakai high heels nya dan mengayunkan kakinya pelan. Langkahnya teratur dan nampak berirama.
Dita nampak seperti wanita penggoda malam ini.
"Kemana kau malam ini, Dita?".
Chandra bertanya dengan menyipitkan kedua matanya. Tak biasanya Dita akan pergi malam-malam begini dengan penampilan layaknya wanita berkelas sosial tinggi.
Bukankah selama ini, Dita selalu berpenampilan biasa saja?
Sedikit mencurigakan, batin Chandra.
Tangan yang semula menggenggam koran, pada akhirnya Chandra lipat kembali.
"Aku harus pergi menghadiri acara ulang tahun kawan SMA ku dulu, pa.
Kurasa aku akan pulang agak larut. Tidak usah menungguku.".
"Baiklah".
__ADS_1
"Di mana Hana dan mama?".
"Sedang di dapur membuatkan kopi untuk papa".
Demikian perbincangan singkat itu, hingga Dita berlalu begitu saja.
Chandra yang awalnya curiga, mencoba untuk berpikir positif thinking saja.
Toh selama ini Dita selalu berkubang dalam penderitaan atas tragedi yang menimpanya?
Jadi, sah-sah saja bila Dita butuh hiburan dan menikmati dunia luar.
Baiklah, jadi Chandra akan membiarkan Dita menghibur dirinya.
Chandra hanya tak tau saja bahwa petaka, telah di rakit indah nan rapi oleh anak pungutnya itu.
Hingga suara deru mobil perlahan menjauh, Chandra kemudian kembali meraih korannya.
Sedang Dita, wanita itu menyeringai dan memulai rencananya dari sini.
Badai pertama mulai perlahan menerjang rumah tangga Hanum dan kara.
Semoga saja......
Semoga Kara tak akan goyah oleh godaan wanita macam Dita. bukankah cintanya kini hanya akan ia dedikasikan pada istrinya, Hanum?
Ya.......
Semoga saja.......
***********
Malam ini, entah mengapa perasaan Hanum terasa gelisah.
Gundah gulana....
Mulai menyusup ke dalam hatinya.
Kara telah berangkat setengah jam lalu, dan dua menit lalu, suaminya itu, telah mengirim pesan padanya bahwa Kara telah sampai di cafe ternama di ibu kota, tempat berlangsungnya janji temu dengan klien dari Kalimantan.
Hanum hanya bisa berdoa yang terbaik untuk suaminya itu.
Di tempat lain, Kara tengah berbincang dengan Seno, tentang materi yang akan ia bahas dalam meeting esok pagi sembari menunggu kliennya.
Tiba-tiba.......
Pandangan mata Kara tertuju pada sosok wanita yang baru saja tiba dari arah pintu masuk kafe. Sosok yang demikian familier.
Sosok yang pernah menjadi pujaannya.
Sayangnya, Kara merasa cintanya pada Dita di masa lalu, kini telah mati
Kara menyipitkan matanya ke arah Dita, mempertajam Indra penglihatannya, menelisik kebenaran dari apa yang ia lihat.
"Seno".
"Ya.....".
"Lihat".
Telunjuk Kara tertuju pada Sosok Dita.
"Apa yang wanita itu lakukan?".
"Entahlah.....
Mungkin sedang ada janji dengan seseorang.
Tapi...... ku lihat sepertinya dia berbeda.
__ADS_1
Apa kau merasakan hal yang sama?".
Insting Seno, mulai peka.
Dita terlihat duduk di sebuah kursi yang sebelumnya telah ia pesan, seorang wanita muda yang seusia dengan Dita, telah menunggu Dita di mejanya.
"Ya. Apapun itu. bukan urusanku.
Dia tak lebih dari sekedar sampah tak bernilai di mataku".
Kara mulai mengeluarkan nada sinisnya, senyumnya mengandung sebuah makna meremehkan.
"Oh benarkah? Tapi.....
Bukankah dulu kau sangat tergila-gila pada ibu satu anak itu?".
Goda Seno pada Kara.
"Ya. Dulu. Sebelum aku tau bahwa ia adalah wanita rendahan. Tapi sekarang, dia tak berharga di mataku".
Hingga percakapan singkat mereka terjeda ketika klien Kara tiba.
Maka, dengan segera Kara dan Seno segera mengalihkan fokusnya.
Meeting berlangsung hingga pukul 21.16.
Kara dan Seno segera bangkit dari duduknya, pulang adalah tujuan utamanya saat ini.
Langkah Seno dan Kara terhenti saat Dita muncul dan meminta tumpangan untuk segera pulang.
"Mas kara.....
Boleh tidak, kalau aku menumpang untuk pulang?".
"Banyak kendaraan yang bisa kau sewa, bukan?
Maaf, aku tak punya waktu".
Kara acuh dan berlalu dari hadapan Dita.
"Tapi.... sebentar saja. Malam telah larut, aku tak berani bila harus pulang sendiri".
Dita memelas seketika.
"Seno.....".
Pandangan mata Kara beralih pada Seno.
"Antar wanita ini pulang.
Aku sudah rindu pada istriku di rumah. Ku rasa.....
Malam ini istriku telah menungguku.
Sepertinya, istriku itu sudah tak sabar untuk bergulat panas di atas ranjang".
Seno mengangguk.
Kara berlalu dengan seringainya.
Meninggalkan Dita yang tersenyum masam dan pergi begitu saja mengabaikan Seno yang tertawa geli menyaksikan Dita yang kecewa.
Hati Dita teriris perih menerima penolakan dari Kara.
Tapi tidak!!!
Dita akan terus berusaha. Apapun dan bagaimana pun caranya.
Kara harus bertekuk lutut dan terjerat kembali akan pesonanya.
__ADS_1
🍁🌻🌻🌻🍁