
-Akhir pekan nanti, Dinner bersama keluarga besarku.
Persiapkan dirimu dan jangan membuatku malu.- Aksa
Pesan singkat dari Aksa menghentikan aktifitas Yasmin sore itu ketika Yasmin tengah beberes rumah.
Yasmin hanya mengumpat pelan pada ponselnya yang membawa pesan buruk dari Aksa, si pria pemaksa yang bernama Aksa Gavin Praja Bekti itu.
Di sadari atau tidak, diam-diam rasa nyaman itu menyelinap paksa dalam hati Yasmin. Senyum terukir di bibirnya uang menawan dan.... menggairahkan.
Tidak!!
Yasmin menepis keras rasa nyaman itu.
Baginya, Aksa Gavin adalah pria arogan yang jauh dari kriteria yang selama ini ia terapkan sebagai lelaki idaman.
Ibu Yasmin yang melihat hal itu, merasa aneh akan tingkah putrinya yang tidak seperti biasanya.
"Yasmin..... lekas usaikan pekerjaanmu. Sebentar lagi ayahmu pulang dan jangan membuatnya mengomel sepanjang malam karena rumah kotor".
Suara ibu Yasmin berhasil menyentak kesadaran Yasmin dari lamunan. Hingga ibu Yasmin itu masuk ke dalam rumah, Yasmin memberontak hebat dari lamunan tentang Aksa, yang lagi-lagi membuatnya hilang kewarasan.
Yasmin memukul pelan kepalanya beberapa kali, berharap dengan begini, kegilaannya hilang dan tak lagi kambuh. Menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, Yasmin lantas kembali ke kamar dan kembali membuka ponselnya.
-Aku tak punya baju bagus sekelas keluargamu, bila kau lupa siapa aku!!-Yasmin
Yasmin membayangkan, andai nanti ia datang ke kediaman orang kaya seperti kediaman pria bermarga Praja Bekti itu, sudah pasti ia akan menjadi bahan olok-olok di sana. Apa Aksa tidak berpikir ke arah sana?
Besok beli gaun mahal dan aku yang akan membayarnya. Kau hanya perlu menurut dan jangan banyak membantah.
-Aksa
Entah mengapa, hati yasmin mendadak dongkol saat membaca balasan pesan dari Aksa.
Yasmin memilih tak menjawab dan mengabaikan pesan dari Aksa.
Dengan gerakan gesit, Yasmin lantas menyelesaikan pekerjaannya sebelum ayahnya datang dan mengomeli dirinya.
**
Di seberang sana, Aksa Gavin tengah tertawa ringan saat membaca berulang kali balasan pesan dari Yasmin. Gadis judes yang tengah dia kerjai dan dia ancam mati-matian.
Sebenarnya, Aksa bukanlah pria yang mudah menggunakan kekuasaan keluarga Praja Bekti untuk menekan seseorang. Tapi mau bagaimana lagi? Aksa buruh sosok Gadis se-judes Yasmin untuk menghalau banyak gadis-gadis di luaran sana yang banyak mengganggunya.
Selain itu, tujuan lain Aksa adalah mematahkan julukan Aridha pada dirinya yang mengatakan bahwa Aksa nampak layaknya gay yang tidak tertarik pada wanita.
Sialan si tantenya itu, tidak tahukah dia bahwa Aksa mampu membuat wanita berteriak di bawah kuasanya. Hanya saja, sekarang Aksa tidak tertarik untuk bermain wanita seperti remaja pada umumnya.
Aksa lebih memilih untuk fokus belajar seperti yang di inginkan Opanya, Radhi.
Pintu di ketuk dari luar. Aksa segera bangkit dan membuka pintu.
"Iya, Oma".
"Turunlah. Mama papamu datang. Kinara, adikmu itu juga rindu padamu."
Wajah Aksa berubah lebih bersinar. Yang tadinya malas, kini antusias ketika nama adik satu-satunya juga hadir di sini.
__ADS_1
"Aksa mandi dulu, Oma. Katakan sebentar lagi Aksa akan turun".
"Ya sudah. Bersihkan dirimu dan rapikan penampilanmu agar papamu tak mengira Oma menelantarkan mu".
Jelita tersenyum manis dan mencolek ujung hidung cucunya.
"Baiklah, Oma".
Jelita berbalik pergi dan Aksa dengan cepat menutup pintunya.
Aksa senang di perlakukan demikian.
Meski terkesan manja dan Jelita memperlakukannya layaknya balita, tapi Aksa nyaman seperti ini. Kasih sayang ini demikian berlimpah tercurah padanya.
Di luaran sana, ada berapa banyak orang yang begitu mendamba akan kasih sayang? Tragisnya, tak mereka dapatkan akibat orang terdekat akibat kerabat mereka pergi jauh, atau bahkan meninggal dunia.
Aksa bersyukur, ia mendapatkan segalanya.
Harta, kekuasaan keluarganya, ketampanan, dan wawasan luas perlahan Radhi wariskan padanya.
Kini, apa lagi yang Aksa dambakan?
Di belahan bumi lain, banyak para kaum marginal yang berharap bisa makan dan memberi makan anak turunannya. Sayangnya, terkadang tuhan menciptakan banyak ragam nasib yang tuhan sendiri garis kan terhadap umat manusia.
Usai mandi, Aksa keluar dari kamarnya dan menuju lantai dasar. Senyum ramah Aksa terbit ketika beberapa kali, ia berpapasan dengan beberapa pelayan yang lalu lalang.
Layaknya Radhi........
Aksa memiliki pembawaan kalem, namun tegas dalam menyikapi banyak hal.
Aksa segera berhambur pertama kali ke dalam pelukan sang mama. Begitu juga Kinara, adik satu-satunya yang begitu manja padanya.
Azkara adalah orang terakhir yang mendapat pelukan Aksa. Berpisah dari keluarga inti, membuat kebersamaan mereka terbatas.
"Apa kabar, jagoan?".
Kara bertanya dengan lembut. Raut wajahnya cerah dan menawan. Terkadang, Aksa tak merasa heran bahwa mamanya begitu memuja papanya setengah mati.
Cinta Hanum dan Kara demikian kuat. Cinta mereka seperti terikat oleh benang surga yang tak akan putus hanya karena perselisihan dan badai dari neraka.
Aksa ingin menemukan cinta sejatinya kelak. Siapapun dia, Aksa berjanji akan membahagiakannya dan mencurahkan kasih sayangnya seorang.
"Baik. Papa dan mama apa kabar?"
"Baik, sayang. Papa dan mama akan menginap di sini dua malam".
Ungkap Kara kemudian. Dirinya menepuk pelan pundak putra sulungnya. Tatapannya melembut. Sangat berbeda jauh ketika ia sedang ada di luar.
Dalam diri seorang Azkara, jiwa tegas Jelita yang lebih mendominasi.
Berbeda dengan Aksa yang lebih cenderung lembut, namun menghanyutkan dan jauh lebih mengerikan.
Seperti Radhi.
Aksa layaknya ular berbisa yang nampak tenang dan bergerak lambat, namun cukup mematikan bila sedikit saja ketenangannya di usik.
Segala sesuatu yang di miliki seseorang, tidak bisa di ukur dengan penampilan dan fisik. Melainkan dengan kemampuan dalam bersiasat.
__ADS_1
Mereka semua lantas duduk dan berbincang ringan di ruang tamu. Beberapa toples kristal berisikan banyak cemilan tersaji indah di atas meja kaca.
Pandangan Mereka semua tetiba tertuju pada Aridha dan Alex yang bergandengan tangan. Mereka Baru saja datang. Keduanya memang selalu tampil mesra.
Terkadang, tak jarang Aska seperti di dera rasa mual dan berujung ingin muntah.
"Hai keponakan kesayangan. Apa kabarmu, jagoan papa Radhi?".
Sapa Aridha yang memang sengaja memancing kegeraman Aksa. Aksa melirik dengan tenang.
Raut wajahnya menawan dengan mimik yang begitu mirip dengan Radhi.
"Seperti yang kau lihat, Tante.... aku selalu muak saat Tante datang dan bermesraan seperti ABG.
Ingat umur.
Tante sudah tua".
Jawab Aksa dengan suara datar. Aksa nampak seperti menahan jengkel dalam hatinya.
Mendengar dan melihat respon Aksa, Ridha tersenyum jahil.
"Mas, astaga.... jas mu kotor sekali."
Jemarinya lantas beberapa kali mengelus perlahan jas Alex di bagian dada.
Sejatinya, tak ada setitik pun noda di jas Alex.
"Astaga, Tante.... kau tidak tau malu sekali.".
Radhi hanya mengamati perdebatan yang sering terjadi antara Ridha dan Aksa.
"Cinta memang seperti ini, Aksa. Kau akan mengerti bila kau sudah dewasa dan mengenal cinta.
Oh aku lupa, bukannya kau tak pernah memiliki teman kencan? Semoga persepsi ku selama ini tidak benar bahwa keponakanku......".
Belum sempat Ridha melanjutkan kalimatnya, Aksa segera menjawab dengan tandas.
"Makan malam besok, aku akan membawa wanita ku kemari!! Lihat saja. Dia bahkan lebih judes darimu."
Semua terkejut mendengar pengakuan Aksa yang berani dan terkesan tenang tanpa beban.
Maka, Jelita seperti ............
🍁🌻🌻🌻🍁
Para teman-teman readers setia.....
Sambil nungguin Babang Aksa, jangan lupa mampir ke novelku "Melati, Cinta yang terkoyak" ya.
Terima kasih.
Semoga berkenan membaca.
__ADS_1