
Suara desah angin terdengar lembut mengalun di telinga seorang pria yang duduk menatap laptop di ruang kerjanya.
Sore semakin merambah senja.
Namun tak lantas membuat Kara terus beraktifitas untuk mengalihkan segala kegelisahannya pada pekerjaan.
Sebulan tanpa Hanum membuat Kara semakin gencar mencari keberadaan istrinya itu.
Usai mendengar kabar dari Seno semalam, Kara tengah menyusun rencana untuk menemui Dita di kediaman Adi Prama.
Malam nanti adalah momen yang tepat karna Kara akan mengunjungi kediaman Chandra, Kara yakin, Dita pastilah ada di sana.
Rindu yang menggunung......
Membuat Kara di Landa nestapa tanpa batas.
Seperti sungai tanpa muara.
Seperti lautan tanpa dasar.
Seperti gunung tanpa puncak.
Seperti neraka tanpa ujung.
Tak tau sampai bila Kara harus meresapi segala gundah gulana yang menaungi kalbunya .
Ibarat jalan setapak, Kara merasa dirinya tengah berjalan di tepi jurang dengan ribuan onak duri yang melintang saat tanpa Hanum.
Perih namun tak bisa meski hanya sekedar untuk melompat.
Kehilangan Hanum membuat jiwanya berteriak protes pada Seluruh semesta jagad raya.
Jangan tanyakan sehancur apa!
Nyatanya Kara seperti di Landa keputus asa'an yang tak tentu kapan usainya.
Pintu terbuka pelan.
Sosok Jelita datang dengan langkah teratur.
Langkahnya anggun bak peri tanpa cela.
Tampilannya memukau bak bidadari penghuni surga.
"Jangan tanyakan mengapa aku tak mengetik pintu, sayang. Karna kau selalu menghabiskan waktumu dengan melamun saja.
Minumlah".
Belum sempat Kara mengucapkan sesuatu, sang mama telah menyelanya lebih dulu.
Datang dengan membawa nampan berisikan segelas susu hangat, salad buah dan sayur, serta sebutir telur rebus.
"Ini masih sore, ma. Jangan menyuruhku makan malam lebih awal".
Ucap Kara dengan nada datar.
Jelita menghembuskan nafasnya kasar sebelum menimpali.
"Dengar, sementara Hanum belum di temukan, mama memutuskan untuk menggantikannya dalam mengurus dan merawatmu.
Berkacalah, nak.
__ADS_1
Wajahmu demikian kusut. Kau kurang tidur dan tubuhmu ta terawat.
Istrimu akan sedih bila nanti dia kembali".
Bujuk Jelita dengan lembut.
Wajah Kara kembali mendung ketika nama istrinya di sebut. Ia hanya bisa menunduk dan memejamkan matanya.
"Bagaimana kabar Hanum dan kandungannya, ma? Aku merasa tak berguna ketika aku telah membuatnya mengandung anakku".
Lirihnya.
"Dia wanita yang kuat, oke? Jangan khawatir. Mama juga telah mengerahkan seluruh orang-orang terbaik kita untuk mencari jejak istrimu.
Bahkan Callista dan Liana, mertua mu.....
Mereka juga ikut mencari.
Percayalah.......
Hanya perkara waktu saja sebelum akhirnya istrimu akan kembali ke pelukanmu.
Kau tak salah, jadi jangan takut untuk melangkah.
Hanum hanya salah paham saja padamu".
"Aku mengerti".
Kara kembali mengangkat wajahnya.
"Om Chandra dan Tante Dewi.....
Mereka tetap tak tau bahwa anak pungutnya itulah yang membuat rumah tanggaku hancur berantakan, bukan?".
Sudah lama kau tak membuat sepasang suami istri bodoh itu senam jantung. Kurasa ini hanya awal pemanasan saja sebelum akhirnya nanti mereka jantungan bila mengetahui fakta tentang Dita".
Jelita terkekeh pelan menghibur dirinya sendiri dan Kara. Kara yang duduk pada kursi kebesarannya hanya tertawa sinis.
"Mengapa mama menyebut mereka bodoh?".
"Karna mereka memang pasangan bodoh.
Bila mereka pintar sedikit saja, mana mau mereka memungut sampah dari jalanan, sementara di panti asuhan banyak anak yang lebih pantas untuk di adopsi?".
"Tepat sekali".
"Tetap tenang dan jangan sekali-sekali bersikap bodoh dengan meledak-ledak. Ingat, kita hanya perlu sedikit bermain-main dengan tikus kecil yang tak ber-otak itu."
Kara mengangguk paham seraya menyeruput segelas susu yang Mamanya buatkan.
*****
Derap langkah keluarga Praja Bekti perlahan terdengar memasuki halaman kediaman Adi Prama. Meski langkah mereka pelan hingga nyaris tanpa suara, namun aura dingin dan mengintimidasi semakin terasa ketika mereka Memasuki rumah Chandra.
Sesaat Jelita tersenyum ke arah Daniel dan Alex yang sedang berbincang ringan dengan Hana di ruang bermain.
Senyum ejekan lebih tepatnya.
Dalam hati Jelita berfikir, hasil dari permainan mereka lebih dari sembilan tahun lalu, telah tumbuh menjadi gadis kecil yang lucu dan menggemaskan. Garis wajahnya pun sangat mirip dengan Daniel.
Berbeda dengan Radhi dan Kara yang nampak. datar-datar saja.
__ADS_1
"Kak, kau telah datang".
Secercah senyum cerah terbit dari bibi Chandra. Dewi yang ada di sampingnya pun tak kalah ramah menyambut kedatangan keluarga Radhi.
Sesaat, fokus Daniel dan Alex teralihkan.
Mereka hanya bisa diam dan tersenyum kaku.
"Kau di sini, Daniel?".
Kara menyapa Daniel yang sedang menggandeng jemari putrinya.
Bukan tanpa alasan, Kara menangkap siluet Dita yang baru saja tiba dan baru memasuki gerbang utama dengan berjalan kaki.
"Ya, tuan muda. Apa kabar? Senang bertemu denganmu".
"Baik dan akan slalu baik-baik saja."
Entah mengapa, Chandra dan Dewi menangkap gelagat tak nyaman dari percakapan Kara dan Daniel ini.
Tak jauh dari Kara, mata Aridha demikian berbinar terang ketika ia menjumpai sosok yang amat ia rindukan setiap waktu. Dia adalah Alex.
"Kalau begitu, saya pamit undur diri. Ada beberapa hal yang perlu saya urus bersama Alex".
Daniel mengedipkan sebelah matanya pada Alex, memberi isyarat untuk segera meninggalkan kediaman Chandra secepatnya.
"Tidakkah kau tau bahwa calon istri yang meninggalkanmu tepat dua hari menjelang pernikahan, telah kembali empat hari yang lalu?"
Tukas Kara kemudian.
Daniel dan Alex membeku dalam sekejap.
"Kau tau Dita kembali?".
Dewi bertanya penasaran.
"Tentu saja aku tau. Kau tak ingin mendengar penjelasannya, mungkin, om? Tante?".
Di waktu yang bersamaan, Dita datang dengan penampilan yang sangat menggoda, layaknya tuan putri. Jelita dengan segera menyanjung Dita kali ini.
Sesuatu yang nyaris mustahil mengingat kebencian Lita terhadap Dita.
Menyanjung sebelum akhirnya menghina.
Mengangkat sebelum akhirnya menjatuhkan dengan sangat mengenaskan.
"Kau nampak cantik sekali malam ini, Dita".
Ucap Jelita lembut.
Semua mata sontak tertuju pada Dita yang dengan wajah bersemu merah.
"Setelah kepergian mu, kurasa aku tak lagi butuh sosok anak lagi di rumah ini.
Entahlah, Cukup Arlan dan Ariana saja yang sesekali menginap di rumah ini sebagai putriku".
Sinis Chandra kemudian.
Kara......
Pria itu sudah menyusun rencana dengan rapi dalam otaknya.
__ADS_1
Malam ini juga, Dita harus mulai membayar cicilan hutang air mata yang Mama nya dan Hanum keluarkan atas tragedi ini.
🍁🍁🍁