
Apa yang kau rasakan bila kau di sakiti hingga sedemikian rupa?
Terlebih oleh saudara dan keluargamu sendiri?
Hanum Tengah berdiri sendiri sekarang.
Saat ini, dirinya telah kembali ke ibukota. Ia tetap menjalani aktifitas seperti biasanya.
Tak ingin membuat banyak pihak curiga seperti yang Radhi dan Kara katakan.
Pernikahan mereka, Akan segera di gelar.
Sayangnya, menunda pesta megah seperti yang Jelita inginkan.
Hanya acara pernikahan sederhana yang bersikap privasi.
Menikmati semilir angin sore hari seperti ini, memang cara yang sangat di sukai Hanum saat sepulang kerja.
Akhir-akhir ini, Hanum mulai bahagia.
Keluarga Kara telah menerimanya dengan sangat baik. Memperlakukannya layaknya bagian dari keluarga Praja Bekti.
Hanum di Landa kepedihan tiba-tiba.
Mengingat ayahnya, membuat Hanum menyerukan kerinduan yang dalam terhadap sosok seorang ayah.
Ia beranja membuka almari di kamarnya.
Mencari sebuah foto yang ibunya berikan padanya tempo hari.
Sebuah foto pria tersenyum padanya.
Gurat wajahnya demikian mirip dengannya.
Hati Hanum mendadak perih saat mengingat cerita ibunya tentang musibah tragis yang mengorbankan ayahnya.
Hati Hanum. tak sekuat itu.
Tapi bagaimana pun, ini adalah bagian rencana Tuhan. Hanum tak bisa merubah waktu kembali.
Beruntung, Kara hadir mengisi sisi hati Hanum yang kosong. Membuat Hanum merasakan banyak emosi-emosi asing yang selama ini tak pernah Hanum rasakan pada pria manapun juga.
"Ayah...... aku meminta restu dan doa terbaikmu".
Lirih Hanum di sertai lirihnya air mata.
********
Hari ini nampak cerah.
Mentari bersinar cukup terik.
Di kediaman Praja Bekti.......
Tengah di gelar acara sakral pernikahan Kara dan Hanum.
Radhi tak ingin menunda lebih lama lagi.
Ia perlu menyelamatkan keluarga Chandra, adiknya beserta perusahaan yang Chandra pimpin dari rubah licik semacam Wira Atmadja.
Radhi adalah seorang komisaris.
Ia tak sebodoh yang orang kira.
Tidak tanggung-tanggung, Radhi dan Kara menyusupkan tiga orang ke perusahaan adiknya untuk mengetahui perkembangan usaha yang Chandra kendalikan.
Sedang di perusahaan milik Atmadja, Radhi telah menyusupkan tujuh orang untuk menggali informasi tentang seluk beluk perusahaan sekaligus keluarga Atmadja.
Tentu semua ini Radhi lakukan tanpa sepengetahuan Chandra. Ia tak mau adiknya itu terusik akan informasi sensitif ini.
Rencana ini, hanya jelita, Radhi dan Kara saja yang tau. Bahkan Hanum pun tak di ijinkan tau.
Suasana kediaman Radhi tak seramai pesta pernikahan pada umumnya.
Hanya keluarga inti saja yang datang.
Bahkan Radhi meminta Chandra, Dewi beserta Dita saja yang datang.......
__ADS_1
Tanpa calon menantu Chandra Alex.
Hingga acara usai, Kara merengkuh erat pinggul istrinya penuh posesif.
Mata tajam Kara melirik ke arah seorang wanita yang menatapnya dengan pandangan mata terluka.
Raga Dita bak makhluk tak bertulang.
Cukup sudah.......
Hancur sudah.......
Dita tak lagi memiliki harapan.
"Kau pasti bisa melalui ini semua, dita".
Chandra tetiba datang menenangkan.
Begitu juga dengan Dewi yang tak tega.
"Harapanku telah berakhir, pa.
Aku tak lagi memiliki apapun untukku bisa melanjutkan hidupku.".
Kara.....
Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu.
Ia sengaja mendekat ke arah Dita .
"Kau tak memberiku selamat, Dita?
Apa yang kau rencanakan kali ini".
Ucapnya dengan sinis.
"Aku tak merencanakan apapun padamu, Kara.
Kau tau? Hidupku telah lama hancur.
Hancur sehancur-hancurnya tanpa sisa.
Dita berlalu pergi.
Cukup, cukup sudah.
Ia tak mau berdebat dengan Kara lagi kali ini.
Melawan kara, mustahil bagi Dita untuk menang.
"Ku sarankan agar kau tak bunuh diri setelah ini, Dita. Janganlah mati sebelum kau merasakan nikmatnya bercinta dan mendesah sepanjang malam".
Ungkap Kara yang tentu masih bisa di dengar Dita.
Sayangnya, Dita tak menghentikan langkahnya.
"Mengapa kau sangat terobsesi membalaskan dendammu pada Dita, kara?"
Chandra mulai bersuara saat Dita sudah tak lagi terlihat.
Di saat yang bersamaan, Hanum datang mendekat. Kara bahkan tak segan-segan melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Hanum.
"Tentu aku tak lupa bagaimana dulu putri angkat mu itu memporak porandakan duniaku, om Chandra. Yang Wanita itu lakukan, bahkan lebih dari sekedar kekacauan.".
"Kami tau".
Dewi menimpali.
Sebenarnya, Dewi ingin tetap menahan diri, sayangnya......
Dewi tak tahan lagi.
"Kau hanya tak tau kemalangan apa yang telah dita alami semenjak kau pergi. Dita bukan hanya terpuruk, melainkan terhempas hingga ke titik terendah.Ia bahkan terluka dan mengalami musibah menyakitkan yang tak kau ketahui.
Berhati-hatilah dalam bertingkah dan berperasaan, nak.
Kau tau? Antara benci dan cinta..... memiliki perbedaan yang demikian tipis.
__ADS_1
Bisa jadi, obsesimu untuk membalaskan dendammu pada Dita, itu adalah wujud dari cintamu yang tak juga padam.
Kau hanya tak bisa menerima kenyataan bahwa cintamu telah di permainkan Dita.
Bila kau tak memaafkannya meski Dita telah bersimpuh di kakimu, percayalah........
Di dasar hatimu, masih tersimpan cinta untuknya.".
Dewi beranjak pergi seorang diri.
Hatinya demikian sakit tak Terperi.
Ia seorang wanita, sekaligus seorang ibu, meski Dita tak terlahir dari rahimnya.
Tinggallah Chandra yang tertunduk.
Dan Kara yang wajahnya kian menggelap.
Hanum bingung bagaimana meredam panasnya suasana.
"Atas nama keluargaku yang telah mengacaukan hidupmu, aku minta maaf Kara.
Bagaimana pun juga, Kau tetap putra kakakku.
Kau berhak marah padaku.
Kau berhak membenci Dita.
Tapi ingat, dalam tubuhku dan papamu, mengalir darah yang sama.
Aku tak pernah dan tak akan pernah bosan untuk mengharapkan maaf darimu.
Tapi ingat, segala sesuatunya, ada batasan-batasan yang harus kau jaga.
Semoga kau bijak menyikapi hal ini, keponakanku. Ku rasa kau sudah cukup dewasa".
Chandra menepuk dua kali pundak kiri Kara.
Kemudian berlalu pergi dengan mimik wajah yang tak dapat di prediksi.
"Mas.....".
Hanum mendekat dan mengusap pelan lengan kokoh pria yang telah menjadi suaminya ini.
Sejujurnya, Hanum cukup merasa tersinggung saat Dewi berkata bahwa Kara mungkin saja masih memiliki secuil rasa terhadap Dita.
Mungkinkah itu benar?
Tidak.......
Hanum merasa tak mungkin itu benar.
Saat ini, kara telah menjadi suaminya, miliknya seutuhnya.
Perlahan, Hanum akan pastikan bahwa ia bisa menggenggam hati kara sepenuhnya.
Entah apa yang menguasai Kara saat ini.
Pria itu menghempaskan tangan Hanum begitu saja, Beranjak untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Belum sempat kara keluar ruangan, spontan Arlan menghampirinya, memborgol tangan kara agar tak pergi begitu saja meninggalkan pestanya.
"Kau tak boleh pergi sebelum acaramu sendiri usai, bos".
Arlan tersenyum jahil.
"Lepaskan aku, kak. Aku ingin menenangkan pikiranku". ungkap kara sebal.
"Tidak akan sebelum kau berjanji untuk tak pergi".
"Sialan, kau kak."
Arlan terkekeh seraya menyeret kara kembali masuk, menghampiri Hanum yang menatap lembut ke arah suaminya.
Tak ada yang tau, senyum iblis bertengger tak tau malu di bibir manis Kara.
Entah apa yang dia rencanakan.
__ADS_1
Bermacam rencana picik ia mainkan dalam otaknya.
🍁🌻🌻🌻🍁