Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Mencurigai


__ADS_3

Ada banyak hal yang saat ini bergambar dalam benak seorang Hana. Wanita itu benar-benar dilanda rasa resah tak berkesudahan. Ia mencintai Aksa, rasa yang tak seharusnya ia tempatkan pada seseorang yang terlarang ia miliki.


Banyak cerita kelam masa lalu yang coba di tutupi semua orang darinya. Entah mengapa, Hana masih tak gentar dengan risiko dan konsekuensi dari cintanya itu.


Cucu Chandra itu tetap nekat dalam menuruti egonya. Sudah diperingatkan oleh Aridha agar ia tak melanjutkan niatnya. Hanya saja, Hana tetaplah Hana yang keras kepala dan berani memancing masalah.


"Jangan terlalu lama bersanding dengan angin malam, Hana. Nanti kau bisa sakit." Dewi, wanita paruh baya itu menghampiri Hana.


"Oma, Hana hanya ingin menghirup udara dingin." Hana tersenyum. Ada sesuatu yang sepertinya menjadi alasan Dewi menghampiri Hana.


"Ikutlah dengan Oma ke taman depan. Oma ingin bicara sesuatu denganmu." Dewi berbalik dan berlalu pergi, meninggalkan Hana yang penasaran.


Setibanya mereka di halaman depan, tepatnya di taman kecil yang Ariana desain untuk menyegarkan pikiran, Dewi menyuruh Hana duduk. Sebuah bangku memanjang yang saat ini menjadi pilihan Dewi, Wanita itu duduk, namun tak mengatakan sesuatu apa pun.


Hana sendiri tak banyak bicara, Hanya menunggu apa yang akan Dewi katakan padanya.


"Aku akan menceritakan sebuah kisah mengerikan di masa lalu, Hana. Kau bersedia mendengarnya?" Tanya Dewi pada Hana yang saat ini mengangguk saja.

__ADS_1


"Apa itu, Oma?"


"Seorang putri dari simpanan orang kaya raya, jatuh cinta pada seorang pangeran. Sayangnya, pangeran adalah orang yang kejam dan penuh dengan intrik. Tetapi meski begitu, si pangeran tidak pernah menjahati orang lain jika tidak ada perkara yang mengawali."


Hana bingung mendengar cerita Dewi. "Apa . . . apa itu dongeng?" Hei! Hana bukanlah bayi yang butuh di dongengi setiap malam.


"Tahukah kau, Hana. Yang terjadi setelahnya, si putri simpanan itu nekat memisahkan pangeran dari istrinya. Tentunya seorang pangeran yang memiliki kekuasaan, tak akan segan-segan menyakiti wanita itu, menyiksanya hingga lumpuh selamanya."


Hana semakin bingung dibuatnya.


"Ada apa ini, Oma? Hana tak mengerti."


Pembicaraan yang singkat ini, cukup membuat Hana bertanya-tanya, mungkinkah Dewi telah mengetahui semuanya?


Di bawah sinar rembulan, Hana termenung, masih saja enggan untuk beranjak.


Hana berpikir, mungkin saja Dewi telah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


Gadis itu lantas menoleh ke rumah utama, tempat dimana sangat diistimewakan, dimana Arlan dan Ariana yang menjadi anak kesayangan Chandra itu sering datang.


Lalu, apa artinya Dita selama ini? Bukankah Dita juga putri Chandra? Hana merasa, silsilah keluarga Adi Prama masih tak jelas di matanya. Ada banyak hal yang sangat tabu di mata Hana.


Gadis itu lantas berjalan masuk ke dalam paviliun, tempat dimana ia dan juga kedua orang tuanya, Dita dan Daniel tinggal.


Setibanya di dalam ruang tamu paviliun, Hana mendapati Dita dan Daniel sedang berbincang hangat.


"Dari mana saja, sayang? Ayah membeli makanan untuk camilan malam ini. Ayo kemari, duduklah dan kau harus mencicipinya." Dita dengan semangat menawari Hana makanan.


"Ma, boleh Hana bertanya?" Tanya Hana sambil terus mendudukkan tubuhnya dengan anggun, di sofa ruang tamu.


"Boleh, katakan saja."


"Apa kaki mama lumpuh hingga saat ini, itu akibat seseorang di masa lalu mama yang dengan teganya menyiksa mama?" Hana bertanya dengan lembut.


Dita dan Daniel syok tentu saja. Keduanya tak menyangka, Hana mencurigai masa lalu kedua orang tuanya.

__ADS_1


**


__ADS_2