
Dua Minggu berlalu.......
Langit malam demikian cerah malam ini.
Di kediaman Praja Bekti, Radhi telah mewanti-wanti putra kebanggaannya untuk menjalankan misi selanjutnya.
Meski langit cukup cerah, namun suasana cukup mencekam di sebuah bangunan yang cukup mewah, namun ketat akan penjagaan.
Dua pemuda terduduk dengan kondisi terikat.
Diantara mereka, seorang wanita dengan kondisi tak kalah kacau tengah mengerang lirih diantara suara hembusan angin.
Malam ini, Kabar yang Daniel dan Alex dengar, kedua orang tuanya akan datang, setelah ia membocorkan beberapa informasi sensitif mengenai seluk-beluk perusahaan.
Kara cukup murka seminggu yang lalu.
Bagaimana tidak? Informan yang Radhi susupkan tak jua menembus keamanan informasi yang di jaga dengan sangat ketat itu.
Maka, tak ada cara lain selain menekan Daniel dan Alex untuk membuka suara.
Di luar, Wira Atmadja berusaha menahan segala gejolak amarah yang hendak meledak-ledak.
Wira tak tau saja, bahwa calon besannya juga ikut terlibat dalam penyekapan kedua putranya.
Langkah kaki terdengar nyaring dan semakin mendekat ke arah ruang penyekapan. Seketika mata Wira Atmadja dan istrinya membola dengan sempurna saat melihat kedua putra kesayangannya itu terikat dan kedua kaki mereka masing-masing di tahan borgol besi.
"Daniel.... Alex....".
Nyonya Atmadja seketika terpekik dan meluruh ke lantai yang dingin.
Kakinya melemas seketika.
Tenaganya musnah entah kemana.
Degup jantung nya mendadak berdegub tak beraturan.
Wajahnya pucat pasi.
Tubuhnya seringan kapas.
Pandangan matanya nyalang.
Seumur hidup, inilah mimpi terburuk seorang nyonya besar Atmadja.
Wira juga demikian memucat.
Tak menyangka, dua putra kebanggaannya meluruh tak berdaya dengan rantai kuat yang membelenggu keduanya.
Daniel dan Alex......
Mirip dengan tawanan para penjajah jaman dulu sebelum indonesia mendapati kemerdekaan.
Sungguh mengenaskan.
Dan yang lebih membuat Wajah Wira Atmadja merah padam adalah, Dian......
Keberadaan wanita itu yang tak kalah mengenaskan membuat Wira demikian murka.
Dian......
Wanita bayaran yang Wira susupkan ke dalam keluarga Adi Prama dan Praja Bekti sebagai wanitanya Arlan.
Spekulasi mulai bermunculan di kepala Wira.
Rencananya mulai terkuak.
"Kau tak ingin memeluk kedua putramu dan wanita bayaranmu itu, tuan Wira?".
__ADS_1
Kara muncul dari pintu yang lain.
Nada suaranya penuh ejekan.
Mimik wajahnya datar dan tak ada riak emosi apapun yang berpendar di netra matanya yang hitam kelam, segelap malam tanpa sinar.
"Kurang ajar. Apa maksudmu menahan kedua putraku?".
Nada suara Wira meninggi.
Pria paruh baya yang selalu nampak santai mengahadapi masalah itu, kini nampak terlihat gusar.
"Tenanglah, tuan Wira Atmadja yang terhormat.
Simpan tenagamu itu untuk cadangan nanti setelah ada pertunjukan yang lebih dahsyat dari ini.".
Kara berjalan santai menuju sebuah kursi kayu tunggal yang nampak terkesan mewah dengan plitur mahal dan ukiran rumit yang membingkainya.
"Katakan berapa yang kau minta sebagai tebusan??".
"Hua ha ha ha ha ha.......".
Kara tertawa demikian keras di hadapan semua yang ada di sana.
Nada suaranya demikian tangguh dan kuat mendominasi ruangan.
Iramanya terdengar sangat mengerikan.
Frekuensi dalam ruangan semakin terasa mencekam.
"Kau pikir aku butuh uang?
Tidak!!
Harta keluarga Praja Bekti jelas lebih banyak dari milik Atmadja, bila kau lupa itu.
Perlukah ku jelaskan lebih detail padamu?".
"Jangan bertele-tele anak muda.
Aku tak mau membuang waktuku untuk pemuda jahat sepertimu!!".
"Jahat? oh baiklah.....
Akan ku tunjukkan padamu, sejahat apa dirimu di banding diriku."
Pintu yang tadi memunculkan kara, kini mulai terbuka. Tiga orang wanita beriringan memasuki ruangan.
Callista dan Hanum yang berjalan dengan wajah datar. Sedang terakhir......
Liana muncul dengan wajah penuh murka, yang tentu membuat Wira membelalakkan mata terkejut.
"Li...Li.....Liana...."
Wira Atmadja memucat seketika.
"Ya, Wira Atmadja. Kau masih ingat aku rupanya".
Suara Liana terdengar lembut, namun bergetar menyimpan gejolak yang hendak meledak ketika mengingat tahun-tahun yang ia dan anak-anaknya lalui dengan penuh penderitaan.
"Ka...kau?".
"Aku datang untuk menuntut hak atas kedua putriku yang kau dan ibu mu rampas dari Darrel Jafferson, mendiang suamiku.
Aku orang miskin dan tak pantas mendapatkannya. Tapi Hanum dan callista......
Dia putri biologis Darrel. Pria yang kau bunuh bertahun-tahun lalu.
__ADS_1
Harusnya.........
Harusnya kau tak membiarkanku dan anak-anakku hidup kala itu, Wira. Agar tak ada lagi sandungan yang menghalangi ke-serakahanmu untuk menguasai harta yang tak seharusnya kau miliki!!".
Ucapan Liana tandas tanpa lagi ada basa-basi.
Wira terkepung sekarang. Semua pengawal yang kara miliki tak memberi celah sedikitpun untuk kabur.
"Kini....
Suamiku telah berpulang ke pangkuan yang kuasa. Haruskah aku melakukan hal yang sama pada kedua putramu yang menjadi belahan jiwamu? Seperti darek yang juga menjadi pusat duniaku?".
Istri Wira memucat.
"Jangan..... jangan lukai putraku. Aku mohon.
Biarkan aku sebagai gantinya. Anak-anak kami, mereka tak tau apapun".
Istri Wira terisak pilu.
"Bahkan kedua putriku juga tak tau apapun kala itu. Mereka harus merasakan hidup dalam kekosongan tanpa warna akan kasih sayang seorang ayah. Pernahkah kalian memikirkan nasib kami yang kedinginan di tengah hutan saat aku melarikan diri?
Kurasa Kalian cukup tertawa keras kala itu".
Suara Liana bergetar hebat. Tangisnya pecah begitu saja mengingat momen yang demikian menyakitkan itu.
Callista dan Hanum dengan sigap menopang ibu mereka, mendudukkan Liana di kursi yang tak jauh dari Kara.
Kara......
Entah sejak kapan pria tampan pemilik senyum Anis itu menggenggam pistol di tangan kanannya, memainkannya dengan memutar-mutar pistol dan sesekali meniup ujung pistol itu.
"Sudah cukup dramanya.
Aku, sebagai suami dari Hanum Kinara Praja Bekti........".
Kara sengaja menekankan nama lengkap istrinya, agar semua orang tau bahwa kini.....
Hanum miliknya.
"Dengan senang hati membalas sakit hati dan menagih hutang kalian pada keluarga mendiang ayah mertuaku..... Hari ini juga.
Mata harus dia bayar mata. Darah harus di bayar darah. Nyawa harus di bayar nyawa".
Pandangan Kara beralih pada istrinya.
"Katakan, siapa. dulu yang harus ku singkirkan dalam ruangan ini, sweet heart?
Demi cintaku padamu, aku tak keberatan menagih hutang mereka untukmu.
Maka...... Atas pembayaran yang seharusnya terlunasi, aku tak keberatan membuat kalian semua melambai pada nafas kehidupan".
Tatapan mata Kara demikian tajam menghujam. Tak ada raut jenaka sama sekali. Yang ada, hanya sorot membunuh penuh kekejaman.
Ujung pistol yang Kara genggam, tepat mengarah pada pelipis Wira yang sama sekali tak berdaya dengan wajah pucat pasi.
"Jangan...
Jangan bunuh suamiku".
Suara nyonya Atmadja tetiba terdengar.
"Sayangnya, Aku sangat kejam pada lelaki, daripada kedua putramu yang telah kejam pada wanita dengan menggilir seorang gadis sembilan tahun lalu hingga terlahir seorang gadis kecil akibat perbuatan kedua putramu itu, nyonya Atmadja".
Kara berucap demikian kejam tak berperasaan, tanpa menggeser kan pistolnya dari pelipis Wira Atmadja yang kian memucat. Jemarinya siap menekan pelatuk pistolnya, kapanpun yang Kara mau".
🍁🌻🌻🌻🍁
__ADS_1