Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Merajut cinta


__ADS_3

Malam telah larut ketika Kara telah memasuki kamarnya bersama Hanum.


Setelah perbincangan keluarga usai, Hanum segera di seret lembut oleh suaminya untuk menuju peraduannya.


Tujuannya hanya satu, melepas sesuatu yang telah meronta penuh desak.


Meski tatapan mata Kara sudah demikian datar, tak urung jua membuat Hanum lantas merasakan firasat bahwa suaminya tengah menginginkan dirinya.


Dulu.......


Dulu sekali, Sembilan tahun lalu bahkan Kara dengan demikian jelas menolak kehadirannya, tetap teguh pada pendiriannya, dan menolak Hanum dan berkata tegas dengan angkuhnya.


Namun kini.....


Kara perlahan melembut, kata-katanya dan sikapnya, telah sedikit manusiawi dibanding ketika Hanum pertama kali di sentuh Kara saat malam pengantin mereka yang penuh dengan ketegangan.


Dulu adalah dulu.


Dan sekarang adalah sekarang.


Hanum tak ingin lagi mengingat masa lalu. Yang jelas, pertemuan dan menyatunya Kara dengan dirinya, jelas tak terlalu berat dalam hal kendala.


Rupa-rupanya...... tuhan berbaik hati dengan menyatukan mereka dengan jalan yang mudah.


Mereka duduk di ranjang, bersebelahan dan tenggelam dalam kebisuan panjang tanpa ujung.


Hanum demikian mengingat bahwa menaklukkan suaminya, tak sesulit yang ia bayangkan sebelumnya. Hanya saja, yang terasa sulit untuk Hanum adalah, ketika Mendapati kenyataan bahwa seorang Azkara memiliki obsesi balas dendam, terhadap wanita masa lalunya dan keluarga masa lalu Hanum yang telah menewaskan ayahmu, Darrel Jafferson.


Selain obsesi dalam menuntaskan dendamnya, Kara juga rupanya memiliki ambisi untuk saling mengahncurkan.


Mungkinkah......?


Mungkinkah nanti Hanum akan mampu menarik pelan suaminya dari lembah dendam, menuju hidup yang lebih baik dan terlihat lebih manusiawi?


"Apa yang kau pikirkan, Hanum?".


Hanum refleks menatap suaminya, menyunggingkan senyum manis dan menggelengkan kepalanya.


Kara berdiri bersandar pada pintu, melipat kedua tangannya di depan dada. Berdiri angkuh dan menunjukkan kekokohan dada dan lengannya.


Sungguh, Hanum semakin terpesona pada suaminya setiap saat.


"Tidak ada, mas?".


"Kau.... bibir manismu itu mungkin bis membohongiku, tapi tidak dengan matamu".


Kara berucap dengan nada datar.


Menyadari hal ini, Hanum mendadak salah tingkah.


"Aku hanya..... entah bagaimana caranya, tuhan mentakdirkanku untuk bisa bersamamu.


Meski aku banyak mendapat penolakan darimu dari awal kita bertemu".


Hanum berkata apa adanya.


Tak ada kebohongan dalam matanya, yang ada hanya kejujuran, rasa apa adanya yang ia miliki.


"Aku memang mahal, Hanum.


Tak mudah untuk mendapatkan diriku, tak mudah pula untuk mendapatkan cintaku.


Maka bila boleh aku sarankan.....


Jangan pernah mengkhianatiku".

__ADS_1


Hanum menggigit kecil bibir bawahnya,


"Lantas, bagaimana bila di masa depan, kau yang mengkhianatiku?".


"Maka jagalah dan rawatlah dirimu agar aku tak akan pernah bosan padamu hingga membuatku berpaling darimu".


Kara berkata apa adanya. Hatinya terlampau beku saat ia menerima perlakuan Dita dulu.


Namun bersama Hanum, entah apa yang istrinya itu lakukan, hingga membuat kara demikian bis mencairkan kebekuan hatinya.


Kehangatan itu perlahan muncul, menjalari setiap sudut hati dan jiwa seorang Azkara.


"Tentu".


Hanum hanya bisa berkata demikian.


Sebagai wanita berasal dari kalangan bawah semenjak kecil, Hanum menyadari bahwa tak mudah mendapatkan hati dan jiwa seorang Azkara seutuhnya.


Maka, bila kini Kara sudah nyata membuka hatinya untuk Hanum, maka hanya dengan menjaga hati Kara lah yang bisa Hanum lakukan.


"Ngomong-ngomong, Aku ingin kau bekerja keras malam ini, Hanum.


Aku ingin, puaskan diriku dan segeralah mengandung benihku.".


Kara tersenyum kecil.


Meski ia belum bisa mencintai Hanum sepenuhnya, namun Kara akan tetap berusaha membuka hatinya.


Bersama Hanum, kara ingin mengobati luka hatinya.


Maka tanpa lagi menunggu jawaban Hanum, Kara dengan gerakan kilat menyambar tubuh Hanum, meraup bibir istri nya yang demikian memabukkan baginya. Menyesapnya perlahan dengan penuh perasaan, menyalurkan rasa lewat cumbuan mesra namun menuntut untuk di puaskan.


Mereka berdua, memadu kasih dan saling memenuhi kebutuhan primitifnya, menuntut untuk saling memuaskan, meleburkan diri dalam dimensi yang mereka ciptakan sendiri.


Bagi Kara......


Perlahan namun pasti, Kara demikian mudah tergoda meski hanya memandang istrinya. Sepertinya, tuhan telah menakdirkan mereka untuk saling bersatu, tanpa ada batas waktu.


Tangan Kara perlahan menyusup ke dalam baju yang Hanum kenakan. Bergerilya menapaki setiap jengkal tubuh istrinya, dan menuntaskan hasrat dengan bercinta tanpa henti.


Lain Kara lain Arlan.


Di sebuah kamar tak jauh dari mereka, Alma berdiri canggung setelah dirinya memasuki kamar mandi.


Di ranjang, Arlan tengah memainkan gawai ponselnya. Ekor mata Arlan melirik sekilas pada Alma yang berdiri salah tingkah.


Ia sengaja membiarkan Alma berada dalam lingkup kecanggungan yang ia buat sendiri.


Arlan menyadari......


Sungguh Arlan sangat sadar.


"Mengapa terus berdiri di sana?


Kau tak ingin tidur, istriku?".


Arlan tersenyum tipis. Ia sengaja menggoda Alma habis-habisan saat mereka berdua seperti ini.


Arlan berfikir........


Mungkin dengan bersikap seperti inilah ia bisa mendekati Alma perlahan.


Arlan juga berkeyakinan, tak mungkin ia harus mengharapkan kembalinya Dian di dalam dekapannya kembali.


Dian pergi.... entah kemana.

__ADS_1


Dan Arlan tentu meragukan cinta yang dulu Dian gaung-gaungkan pada dunia.


"Aa...aku... emm.. tidak ada".


Alma mati-matian menahan dirinya agar tak terlihat canggung. Sayangnya, Arlan adalah pria tampan dan juga.....


Cukup pintar.


"Ayo duduklah di sampingku?


Bukankah setelah menikah, selama dua malam kau tidur di sampingku dan aku tidak pernah bersikap kurang ajar padamu?".


"Ii iya...


emmm tapi.... tapi, bila seandainya mas Arlan meminta hak mas padaku, aku... aku tak... aku tak akan... emmm menolak".


Dengan gugup, Alma menyuarakan isi hatinya, meski dengan suara gugup dan terbata-bata.


Arlan tentu terkejut dengan pengakuan istrinya.


Namun, sejurus kemudian......


Arlan tersenyum penuh kemenangan. Ia semakin ingin menggoda Alma.


"Baiklah, mendekatkan kemari....


Dan aku akan menerkam mu sekarang juga.


Kau sudah tak sabar rupanya untuk bercinta denganku?".


Rona merah jelas terlihat di pipi Alma.


Alma malu setengah mati.


"Bu...bukan begitu. Aku... bukan tak sabar untuk ber..... emmm bercinta dengan mas Arlan....


Hanya.....".


"Sudah, jangan di bahas. Malam hampir larut, kau tak ingin tidur bersamaku memangnya?"


"Mm maa....mau".


Dengan langkah pelan, ia mendekat ke arah ranjang. Mendudukkan dirinya dan meraih selimut untuk menyelimuti dirinya hingga sebatas leher dengan posisi miring membelakangi Arlan.


Tanpa aba-aba, Arlan pun ikut merebahkan tubuhnya dan menyusupkan tangannya untuk memeluk Alma dari belakang.


Mendapatkan perlakuan seperti ini, Alma menegang.


"Jangan takut, rileks saja".


Berawal dari keinginan menggoda dan gerakan mencoba-coba, Arlan tetiba merasa dirinya menginginkan hal yang lebih dari Alma.


Sesuatu yang selalu tidur dalam dirinya, kini bangkit hanya dengan mencium wangi rambut Alma.


Arlan lupa diri, dan bahkan Dian pun yang membuatnya patah hati, tak pernah membuat Arlan sedemikian menginginkan wanita untuk memuaskannya.


Maka dengan sebuah keyakinan untuk dirinya, Arlan meraih tubuh istrinya, membaliknya perlahan dan meraup bibir Alma tanpa aba-aba.


Alma mematung.......


'Ah..... bibir mas Arlan rupanya terasa manis dan aku suka......


Ya tuhan suamiku.....


mengapa tidak dari dulu kau menikahiku??'

__ADS_1


Alma membatin dalam degup jantung yang kian menghentak hebat saat tubuhnya dikuasai oleh Kungkungan suaminya.


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2