
Ada rinai rindu yang menyerang tatkala jarak memisahkan dengan pangeran yang di nanti.
Hari telah merangkak turun, berganti senja yang merambah malam.
Meski jarak waktu tak begitu lama, namun seharian tanpa menatap suami terkasih,
Membuat Hanum di Landa rindu berkepanjangan.
Hanum rindu........
Sangat rindu. Seharian Hanum tak mendapat kabar apapun dari suaminya.
Ponsel yang sedari tadi berada dalam genggamannya mendadak hening.
Hanum terkadang merasa geli sendiri dengan tingkahnya yang bak remaja yang tengah kasamaran.
Bagaimana tidak?
Kara......
Senyumnya, lirikannya, tatapan tajamnya, Kernyitan alisnya, hembusan nafas kasarnya, kelembutan kulitnya, otot-otot kekar nan kokoh pada bahu dan lengannya, membuat Hanum rindu.
Oh tidak, bukan hanya itu.......
Bahkan erangan demi erangan saat malam panas mereka lakukan, Hanum mendadak rindu.
Membayangkan hal itu, sungguh menunjukkan betapa liarnya pikiran Hanum.
Hanum rindu.......
Rindu pada segala hal yang melekat dalam diri suaminya.
Andai saja ia bisa mengekor kemanapun Kara pergi, Pasti Hanum akan mengekor sepanjang waktu, dimana pun itu.
Kerinduannya demikian bergolak.
Tepat menjelang acara makan malam, Kara tiba. Raut wajahnya datar tak terbaca, tak ada riak emosi apapun yang Hanum lihat.
Kara benar-benar pandai menyimpan emosinya dengan baik.
Seulas senyum terbit di wajah Kara.
Lengkungan tipis di bibirnya membuat hanum terpesona.
Sungguh........
Bolehkah Hanum eraup bibir manis suaminya dengan penuh perasaan?
Oh tidak!!
Hanum merasa nyaris gila meski hanya berdekatan saja dengan Suaminya, Kara.
Sebisa mungkin, Hanum harus tetap menjaga kewarasannya agar tetap berjalan normal.
Hanum tak ingin kehilangan kendali dirinya di depan suaminya.
Atau Kara akan mengecapnya sebagai wanita murah yang sama dengan Dita.
"Kau menungguku?".
Suara bariton khas Kara demikian memukau.
Hanum tersenyum menatap suaminya, menyambut kedatangan Kara dengan seutas senyum manis.
"Tentu. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu, mas. Setelahnya kita makan malam".
"Aku tak mau makan di bawah.
Suruh beberapa pelayan mengantar makan malam untuk kita berdua ke kamar kita.
__ADS_1
Aku hanya ingin makan berdua denganmu.
Aku sangat lelah hari ini".
"Oh baiklah, mas. Setelah aku menyiapkan air hangat untukmu".
Hanum hendak beranjak ke kamar mandi, sayangnya.....
Cekalan tangan suaminya menghentikan langkahnya.
"Bantu aku melepas kemejaku".
Nada suara Kara demikian sensual.
Tegas namun menggoda.
Hanum...... bisakah Hanum berteriak saya ini juga? Mendeklarasikan pada dunia atas kebahagiannya? Kebahagiaan karna suaminya perlahan menerima cintanya?
"Aa.....aku...aku... aku akan....".
"Jangan menolak? Atau aku akan melemparmu ke atas ranjang dan memakanmu tanpa ampun di sana, hm?".
Kara berbisik ke arah telinga Hanum, menciptakan angin panas yang membuat Hanum menegang.
"Ba baik".
Tanpa membantah lagi, tangan Hanum setengah gemetar meraih dasi dan kancing kemeja suaminya satu persatu.
Membukanya perlahan dengan degub jantung yang tak bisa di kendalikan.
Tanpa sadar, Hanum menggigit bibir bawahnya.
Membuat Kara demikian tergoda untuk kembali menyesap bibir manis istrinya.
"Kau menggodaku, hm?".
"Mas, apa yang kau lak.... akhh..... mmphhhh....".
Kara tak membiarkan istrinya menjawab.
Pada akhirnya, mereka berakhir dalam pergulatan panas di atas ranjang.
Beruntung Kara telah mengatakan pada pelayan sebelum memasuki kamar, untuk mengantarkan makanan tepat pukul 8 malam nanti.
Malam panas mereka kembali terjadi.
Kara.......
Pria itu menuntut istrinya memenuhi kebutuhan primitifnya, mendeklarasikan pada dunia bahwa adalah Hanum miliknya. Kini dan nanti.
Hingga pergumulan hebat mereka berakhir saat masing-masing dari mereka sama-sama mencapai puncak klimaks.
Nafas mereka saling beradu, terengah dalam kepayahan akibat permainan mereka yang terlalu liar.
"Mas, aku mencintaimu".
Hanum......
Mata Hanum terpejam saat mengucapkan kalimatnya, mengungkapkan perasaannya. Seutas senyum hangat tersungging di bibirnya.
"Hmmm".
Kara hanya berdaham dengan nafas yang masih memburu. Kenikmatan jelas ia rasakan.
Sesaat setelah mereka sudah mencapai sedikit tenang, Hanum menghadap suaminya.
"Ayo mandilah dulu, mas.
Atau aku dulu yang mandi?".
__ADS_1
"Sebentar lagi. Istirahatlah dulu sebentar lagi".
Hanum hanya mengangguk saat suaminya ber-titah.
"Kau dari mana saja tadi, mas?".
"Menangkap Daniel dan Alex".
"Mengapa mereka harus di tangkap?".
"Karna Mereka berusaha mencelakai Dita dan menjadi penyebab kehancuran keluargamu".
Di sinilah, percikan api kesalahpahaman mulai hadir.
"Dita? Kau menghawatirkan Dita?".
Kara tak lantas menjawab, ia kemudian memiringkan tubuhnya dan menatap lekat wajah istrinya.
"Kau cemburu?".
Kara bertanya dengan wajah datarnya.
Sejujurnya, kara terusik saat istrinya menanyakan perihal cintanya pada Dita.
Bagi Kara saat ini, Dita tidak lah penting.
Cinta yang kara rasakan untuk Dita telah kandas tak berbekas, Telah habis tak bersisa.
Tak ada lagi cinta untuk Dita.
Entahlah. Apakah semudah itu? Kara masih belum mengerti
"Kau pikir apa, hm?
Istri mana yang tak cemburu saat suaminya masih peduli dengan wanita masa lalunya?
Aku mencintaimu, mas. Sangat. Itulah mengapa aku tak mau kau memikirkan wanita lain selain aku".
Ungkapan Hanum telak mengenai sisi hati Kara.
Kara tersentuh.
Kara berbunga-bunga.
Kara bangga.
Kara bahagia.
Kara merasakan euforia yang yang luar biasa menggetarkan hatinya.
Sayangnya, ego kara terlampau tinggi sebagai seorang laki-laki.
"Aku ingin tau sebesar apa cintamu".
"Apa bukti yang kau ingin, mas?".
"Entah. Apapun itu. Melahirkan bayi yang mungil, lucu dan menggemaskan, mungkin?".
"Semoga dengan segera, mas".
Lama mereka terdiam. Saling tatap. Menyampaikan kalimat tanpa kata. Menyampaikan emosi tanpa bicara. Menyampaikan rasa tanpa bahasa.
Dua insan ini, memiliki cara tersendiri untuk mendeklarasikan pada dunia, bahwa mereka telah saling memiliki. Hingga kemana pun takdir akan bermuara.
Pelangi di hati bidadari telah terbit.
Perlahan menunjukkan warna-warni keindahan yang di nikmati siapapun yang singgah untuk sekedar menikmati pantulan cahayanya.
🍁🌻🌻🌻🍁
__ADS_1