Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Serangkai Luka lara


__ADS_3

Plakkk..


Daniel tengah mengerang kesakitan saat Dewi datang bersama Chandra dengan wajah murka.


Begitu juga dengan Alex yang sama-sama merasakan tamparan di kedua pipinya.


Seumur-umur, baru kali ini lah ada yang berani menyentuh wajahnya, melukai harga dirinya, dan menggores egonya.


"Biadab kalian berdua. Aku tak menyangka......


Putra mahkota dari perusahaan Atmadja bisa berbuat liar bak binatang yang tak berakal dan tak bernurani.


Mungkinkah kalian di didik sedemikian kejam oleh orang tua kalian?".


Dewi marah....


Dewi murka....


Dewi telah sampai pada batas kesabarannya....


Daniel yang mendengar perkataan tajam Dewi memejamkan matanya.


Bila ada yang menghina ataupun menginjak harga dirinya, Daniel akan lebih tegar.


Tapi tidak bila orang tuanya yang di nilai buruk.


Karna sejatinya, seburuk-buruknya perangai dirinya...... Keluarga lah yang menjadi prioritas utamanya.


Di sinilah, kelebihan dan sisi baik dari seorang Daniel.


"Aku memohon ampun dan beribu maaf atas kebejadan serta kebiadaban ku dan adikku di masa lalu, nyonya Adi Prama. Tapi aku mohon, Jangan membawa-bawa keluargaku dalam hal ini. Karna itu murni kenakalanku, bukan orang tuaku".


"Kenakalan? Kau sungguh pria manis namun berlaku binatang. Aku tak menyangka....


Sungguh tak menyangka.....".


Suara Dewi terdengar lirih.


Di sampingnya, Chandra tak ingin bereaksi apapun, karna Chandra telah menyerahkan sepenuhnya pada Kara untuk mengurus Alex dan Daniel.


Dengan lembut, Chandra membawa istrinya ke dalam rengkuhan nya.


Tubuh ringkih istrinya, membuat Chandra tak bisa mengabaikannya begitu saja.


"Kara, Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?".


Chandra bertanya dengan nada datar.


"Mengecoh tuan besar Atmadja, mengambil alih seluruh kekuasaan dan seluruh aset kepemilikan atas nama Atmadja untuk di miliki kembali oleh ahli waris yang sesungguhnya, Kedua putri Darrel Jafferson, mendiang ayah mertuaku".


Kara berkata santai. Hingga Daniel dan Alex tak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya.


"Aa..apa ma...Mak...maksudmu?".


Alex bertanya lirih, sudut kiri bibirnya sedikit mengalirkan darah yang perlahan mengering akibat beberapa tamparan yang di terimanya.


"Kau pikir harta keluargamu itu hak dari ayahmu?


Dengar, ayahmu itu hanya anak tiri yang tak memiliki keterikatan darah dengan mendiang tuan Jafferson, dan yang lebih berhak atas segalanya itu adalah Darrel Jafferson, ahli waris utama yang mengalir darah tuan Jafferson, yang sayangnya, telah nenekmu singkirkan demi ambisinya untuk menguasai harta yang bukan miliknya."


Alex dan Daniel demikian tertampar oleh kenyataan yang demikian sulit mereka terima.


"Apa !?!? ".

__ADS_1


Alex dan Daniel demikian terkejut kala itu.


Darah kakak beradik itu berdesir hebat. Jantung mereka seakan berhenti memompa. Nafas mereka berhenti sejenak. Kenyataan demikian bersekongkol dengan takdir yang menjadi kendali.


"Heh.... kau pikir papamu itu orang baik?


Dia layaknya iblis jantan yang bersembunyi di balik topeng bak malaikat nya.".


Kara tersenyum sinis dengan mata yang merendahkan ke arah Daniel dan Alex.


"Oh ya, Tante Dewi. Bagaimana andai Dita ku jodohkan dengan kawanku?


Bukankah Dita berhak bahagia dan Gihana Mayang Sari juga membutuhkan sosok ayah?".


Hati Daniel bak tersayat sembilu.


Sakit, perih, pedih, terluka.


Berbeda dengan Alex yang tak bereaksi saat nama Gihana di sebut.


Hal ini tentu saja menarik kesimpulan seorang Kara.


'Sudah ku duga....


Hana adalah gadis yang berasal dari benih daniel'


"Ku mohon, nyonya dan tuan Adi Prama.......


Beri aku kesempatan melihat dan memeluk gadis yang dilahirkan Dita. Sekali saja......


Meski setelahnya, aku harus mati dan berakhir di tangan kalian".


Daniel meminta dengan nada lemah. Suaranya lirih, nyaris bak bisikan angin.


Chandra dan Dewi tentu terkejut dengan Nada permohonan Daniel.


Kara menimpali tanpa memberi kesempatan pada Chandra dan istrinya untuk menjawab.


"Kau pikir kami akan mati dengan mudah?".


Alex menjawab tak kalah sengit. Meski tenaganya terasa habis terkuras, namun Alex menolak untuk menerima kekalahan.


"Jangan naif, Alex. Bila sudah begini, kemana keperkasaan dan ketangguhanmu sebagai pria? Kau tak lebih dari layaknya sampah yang tinggal menunggu waktu saja untuk di masukkan ke pembuangan limbah".


"Baik. Bila aku dan kakakku harus berakhir di tangan kalian, Maka berbaik hatilah untuk memberi kami satu permintaan sebelum itu?".


"Katakan".


Kara tergelak dengan tawa iblisnya.


Mengerikan dan menakutkan.


"Aku ingin bertemu Dita".


Lirih Alex.


"Menarik. Sungguh menarik.


Kakaknya demikian ingin bertemu putri Dita.


Adiknya demikian mencintai Dita.


Kurasa, Kalian harus bertanding lebih dulu untuk mendapatkan Dita dan putrinya.

__ADS_1


Bukankah Dita dan putrinya adalah satu paket lengkap tanpa bisa di pisahkan?".


Sungguh, hanya kara dan Tuhan yang tau rencana apa ada di dalam otak Kara.


**********


"Dimana aku?".


Dita bangun untuk pertama kalinya setelah tragedi pelecehan yang hampir di terimanya kembali.


Netra matanya perlahan mengitari langit-langit dan setiap jengkal sudut ruangan.


Kepalanya terasa berat. Seluruh urat nadinya terasa melemas tanpa tenaga.


Dita, merasa bahwa dirinya tengah menjadi pesakitan sejati.


"Kau di rumah sakit, Dita. Kau butuh air?".


Tanpa menunggu jawaban, Alma yang memang sedang berjaga untuk Dita pun menyerahkan segelas air minum dengan menggunakan pipet.


"Kak Alma.... Dimana mama?". Dita bertanya lirih.


"Mama baru saja keluar. Sedang ada urusan.


Sedang kak Ariana tadinya ikut berjaga, hanya saja..... karna usia kandungannya telah menua, kupikir akan lebih baik dia pulang dan banyak beristirahat demi menjaga kondisi kehamilan pertamanya.".


Alma menjawab dan menjelaskan dengan sabar. Mendapat perlakuan demikian dari Alma, membuat hati Dita menghangat.


Di tengah keadaan dirinya yang menjadi pesakitan, serta moralnya yang jelas terlihat sangat bobrok, rupanya masih ada yang menganggapnya sebagai wanita.


Ini suatu keajaiban, bukan?


"Kak Alma berjaga sendirian? Kemana kak Arlan?".


"Mas Arlan sedang keluar untuk mencari makanan untukku. Karna cuti menikah yang masih cukup panjang, Jadi mas Arlan memutuskan untuk menemaniku. Aku tidak sendirian, karna Aridha juga ikut berjaga. Dia masih di toilet.".


Dita tersenyum kecil mendengar penjelasan Alma.


Di saat yang bersamaan, Aridha keluar dari pintu toilet. Wajah gadis berdarah keturunan Radhi dan Jelita ini, sama sekali tak menunjukkan keramahan saat netra matanya menangkap Dita yang telah sadar dari masa kritisnya.


"Ridha, tolong jaga Dita sebentar saja.


Aku akan memanggil dokter sebentar untuk mengontrol perkembangan kondisi Dita".


Pinta Alma yang mendapat tatapan tajam dari Aridha.


"Untuk apa kita perlu berrepot-repot ria untuk wanita sampah seperti dia, kak?


Andai saja kak Arlan tak mengancam ku, aku mana Sudi ikut menjaga wanita sialan ini".


Alma dan Dita demikian terhenyak tatkala mendapat jawaban sinis dari Aridha.


Sejenak Alma larut dalam pikirannya.


Rupanya, Azkara dan Aridha tak jauh berbeda dalam berkata, bersikap dan berprilaku.


Beruntung dirinya bersuamikan Arlan yang demikian memiliki banyak perbandingan dengan kara Tentunya.


Alma tak bisa bayangkan andai suaminya saat ini pria semacam Kara yang mengerikan.


Dita.....


Hanya bisa menikmati serangkaian luka lara yang harus ia terima untuk saat ini, dan nanti.......

__ADS_1


🍁🌻🌻🌻🍁


Yang suka dengan kata-kata tajam Azkara, nah Aridha ini makhluk bermulut pedas versi cewek yaaa😂


__ADS_2