
"Aku ingin kau mengembalikan seluruh harta yang ayahmu dapatkan dengan cara curang, kepada pewaris sah yang seharusnya berhak untuk mendapatkannya, Harta yang telah ayahmu dan nenekmu rampas dari tangan mendiang Darrel Jafferson.
Maka aku menjanjikan kebebasan dan jaminan hidup padamu dan adikmu.
Kau bersedia?".
~part sebelumnya~
Seumur hidup, sebiadab-biadabnya seorang Daniel, ia tak pernah berani mengkhianati keluarganya. Kesetiaan tentu Daniel junjung tinggi-tinggi.
"Jadi karna harta Kalian bahkan bermain seculas ini?!?".
Daniel bertanya datar.
Sejujurnya, ia ingin marah namun tak bisa karna ia belum mengetahui kejadian yang sesungguhnya.
"Ekhm".
Radhi berdaham pelan.
"Dengar anak muda..... ini bukan perihal harta saja, melainkan ada sebuah nyawa yang ayah dan nenekmu korbankan, Ada dua gadis sebagai ahli waris dari mendiang yang telah tiada akibat keserakahan ayah dan nenekmu, yang ikut menderita, Hidup kedua gadis tak berdosa itu demikian dalam kesusahan hingga berpuluh-puluh tahun lamanya.
Dan ada hati seorang wanita sebagai istri yang berduka hingga kini akibat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, tentang tragisnya kematian suaminya oleh ayah dan nenekmu.
Bayangkan.......
Bayangkan bila yang di alami wanita itu juga dialami oleh istrimu tercinta dan kedua anakmu yang masih kecil.
Aku yakin, bila Darrel masih hidup, tentu ia tak ingin memilih hidup di atas takdir seperti itu.
Ku rasa kau cukup cerdas untuk mencerna penjelasan ku".
Radhi memberi pengertian dengan bijak.
Bak petir yang demikian menggelegar di sertai kilat cahaya menakutkan di hati Daniel dan Alex.
Demi mendapatkan kehidupan yang menjanjikan, benarkah orang tua mereka menghalalkan segala cara?
Alex dan Daniel tercengang.
Alex dan Daniel terhenyak. Bibir mereka terasa kelu sekalipun hanya sekedar untuk menjawab.
"Pikirkan itu baik-baik".
Chandra menimpali.
"Biarkan aku tau fakta realnya. Aku tak bisa percaya begitu saja, tuan. Aku akan memutuskan setelah aku tau fakta yang nyata.
Berikan kami bukti nyata atas kejahatan yang orang tuamu lakukan di masa lalu."
Daniel benar. Dirinya tak bisa gegabah begitu saja. Baik Radhi maupun Chandra, masih memahami dilema akan kenyataan yang ini.
Bagi ukuran seorang pemuda seperti Alex dan Daniel, tentu emosinya tak se-stabil Radhi dan Chandra.
"Baiklah, bila itu maumu.".
Radhi kemudian mengangguk ke arah Chandra, memberi kode untuk segera pergi.
"Tunggu......."
__ADS_1
Suara Daniel menghentikan langkah Radhi dan Chandra.
Maka, mereka menghentikan langkahnya.
"Bila aku menyetujui tawaran anda, tuan Chandra..... Apakah aku di ijinkan untuk memperbaiki kesalahanku di masa lalu dan.......
Bisa lebih dekat dengan putriku?".
"Tentu...... Bila Dita mengijinkan.
Maka, perbanyak berdoa agar Tuhan memberikan mukjizatnya.".
Chandra kembali melanjutkan langkahnya tanpa melihat ke belakang lagi.
*******
Usai menemui Daniel dan Alex, Radhi menuju kantor bersama istrinya setelah sebelumnya ia menjemput Jelita di salah satu salon istrinya itu.
Hari memasuki waktu siang, Jam makan siang pun telah terlewat. Radhi memutuskan untuk menunda makan siang setelah pertemuan penting di kantornya.
Beruntung untuk persiapan berkasnya sekertaris Radhi yang menyiapkan, dan untuk data tambahan telah berada di tangan Putranya, Kara.
"Tolong percepat laju mobilnya."
Radhi berkata tegas, di sampingnya.....
Jelita meraih tangan suaminya, meremasnya perlahan dan menyalurkan kesabaran.
Berpuluh-puluh tahun bersama, membuat ikatan cinta diantara keduanya semakin kuat.
Bila orang lain berkata, bahwa cinta akan semakin tergerus dan menipis seiring Zaman yang terus berjalan.....
Buktinya.......
Tiga puluh empat tahun bersama, membuat cinta diantara keduanya semakin kuat dan kokoh. Tak akan habis dan musnah termakan usia, justru semakin tangguh oleh banyak kekejaman dan ketidak Adilan yang menempa.
Radhi tersenyum.
Kekuatan terbesarnya adalah, senyum istri dan anak-anaknya.....
Hingga mobil yang mereka kendarai telah tiba di kantor pusat, Radhi dan istrinya turun bersamaan, senyum tak lepas dari bibir Radhi yang masih terlihat sangat berkharisma dan penuh wibawa.
"Seno.... Dimana Kara?".
Arashi datang dengan Istrinya yang berdiri di sisinya.
Seno bingung untuk mencari-cari alasan yang tepat.
"Emmm begini, tuan. Tadi, nyonya muda Hanum mengantar makan siang untuk tuan, tapi..... sampai kini tak ada tanda-tanda mereka akan keluar. Mungkin sebentar lagi".
Seno menunduk dalam.
"Baiklah.... Aku tunggu di ruangan ku. Katakan padanya aku menunggunya, waktu pertemuan dengan Klien dari Singapura akan di mulai sepuluh menit lagi".
"Baik tuan."
Radhi berlalu pergi dengan membimbing istrinya.
Ada rasa yang Seno sembunyikan, entah apa.
__ADS_1
Namun, rasa takut tetiba menyelimuti hatinya.
'Bagaimana mungkin aku lancang dengan menaruh hati pada salah seorang putri dari keluarga ningrat? Sedang aku hanya lah remahan kerupuk yang tak berharga'
Batin Seno meneriakkan kegundahannya.
Seno mengetuk pintu ruangan bosnya, namun tak ada jawaban sama sekali.
Namun, untuk masuk tanpa ijin, tentu Seno tak akan melewati batasannya, Apalagi di dalam ada istri dari bosnya.
Tepat dua menit meeting akan dimulai, Radhi kembali dan mulai melihat gelagat tak nyaman dari Seno.
"Apa sudah selesai makan siang bos mu itu, Seno?".
Jelita bertanya dengan wajah datar.
"Tidak ada respon sama sekali, nyonya besar.".
Seno mendadak salah tingkah.
"Anak itu benar-benar....!!"
Jelita membuak pintu ruang kerja putranya.
Kosong..........
Tak ada siapapun di dalam.
Sayup-sayup, telinga Radhi dan Lita mendengar suara samar lelaki dan perempuan dalam satu ruangan.
Entahlah.....
perasaan Jelita mendadak tak nyaman.
"Kara...." Jelita mengetuk kasar ruang istirahat Kara. Beberapa kali namun hasilnya tetap nihil.
"Mas, dobrak pintunya. Aku tak mau orang lain tau bila putraku melakukan hal yang......"
Radhi pun menuruti permintaan istrinya.
Di dalam, Kara dan Hanum terlonjak kaget saat mendengar suara yang sangat familier di telinga mereka.
Aktifitas mereka yang hampir mencapai klimaks, terpaksa di hentikan. Membuat Kara murka dan kemarahan terasa menjalar hingga di ubun-ubun.
"Ma..mas....?".
"Sebentar aku ak......."
Brakk
Pintu terbuka paksa, sementara Hanum dan Kara, spontan menutupi tubuh mereka dengan selimut yang sama.
"Oh ya Tuhan....".
Kaki Jelita melemas seketika.
🍁🌻🌻🌻🍁
Part selanjutnya mama Lita yang murka ya😅😂😂
__ADS_1