
Malam telah larut ketika Kara dan Hanum telah sampai rumah. Suasana ibukota cukup sejuk malam ini. Kendaraan pun tak tampak banyak melintas. Membuat Kara dengan mudah mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi.
Diliriknya Hanum.
Nampak istrinya itu telah menguap beberapa kali sejak tadi. Kara hanya tersenyum tipis.
"Tidurlah dulu, num. Nanti ku bangunkan bila telah sampai".
Tandasnya. Membuat Hanum mengangguk dan segera memejamkan matanya.
Dalam kesibukannya mengemudi, Azkara memikirkan kembali kepingan kejadian yang baru saja terjadi.
Tak di pungkiri, Kara demikian memiliki rasa simpati pada Dita, atas tragedi yang wanita itu alami. Sayangnya, Dita sudah tak lagi mampu menggetarkan hati Kara seperti dulu.
Yang tersisa dalam hati kara hanyalah, rasa iba..... tidak lebih.
Malam ini, adalah malam bersejarah bagi Kara selain pernikahannya dengan Hanum.
Bagaimana tidak?
Kini.......
Dirinya telah berhasil mengambil paksa perusahaan, harta dan seluruh aset yang seharusnya di miliki oleh mendiang Darrel.
Namun, di balik itu semua, Kara telah menyerahkan semua itu pada callista, kakak iparnya yang usianya tak berbeda jauh dengannya.
Baginya, Hanum tak perlu memiliki harta apapun. Toh Kara lebih dari mampu dalam menafkahi istrinya itu.
Bahkan hartanya tak akan habis tujuh turunan sekalipun ia memiliki sembilan istri.
Dalam diam, Kara tersenyum tipis.
Entahlah.....
Berada bersama Hanum, membuat Kara merasa nyaman berada di sisinya.
Namun, untuk mengakui bahwa ia mencintai Hanum......
Entahlah, Kara masih merasa gamang.
Sedang di tempat lain......
Keluarga Atmadja tengah meratapi kehancurannya.
Bukan hanya hartanya yang habis, namun ia harus melihat kedua putranya dalam keadaan mengenaskan, berbaring di brankar rumah sakit.
Dulu, Wira Atmadja adalah pribadi yang sombong, angkuh dan menghalalkan segala cara demi mewujudkan ambisinya.
Sayang nya, ia tak mungkin tetap mempertahankan hartanya bila ia ingin kedua putranya selamat.
Tidak.
Wira Atmadja tak sekejam itu pada garis keturunannya.
Kini........
Wira duduk berdampingan dengan istrinya di kursi tunggu depan ruangan UGD.
__ADS_1
Pikirannya demikian kacau saat mengetahui sebuah fakta, bahwa ia telah memiliki cucu dari wanita yang hendak ia jodohkan dengan Alex.
"Takdir macam apa, ini?"
Wira bergumam lirih.
"Mungkinkah ini hukuman?".
Tambahnya lagi.
Di samping Wira, istrinya menatap Wira dengan sorot mata terluka.
Sebenarnya, Istri Wira tak tau apapun perihal harta yang Wira miliki. Semua itu adalah rahasia antara suami dan mendiang ibu mertuanya. Namun siapa sangka, bahwa ia di hadapkan pada kenyataan ini?
Harta yang di miliki suaminya adalah harta yang di miliki Engan cara curang.
Sebagai istri, siapa yang tidak syok?
"Mengapa harus melibatkan putraku, Alex mas?
Aku telah menganggap Daniel sebagaimana aku memperlakukan Alex.
Lantas, mengapa Daniel harus menyeret putraku untuk ikut dalam perlakuan bejadnya?
Sekarang, bagaimana caranya aku menanggung malu ini? Katakan padaku!!"
Wanita dengan tubuh gempal dan berpipi gembil itu mulai menumpahkan isi hatinya.
"Aku tak tau, Ndari. Aku tak tau.
"Masihkah mas ingin tetap angkuh sekarang?
Lalu, bagaimana dengan Putri yang telah Dita lahirkan?".
Suara Sundari, istri Wira demikian lirih, namun sarat akan pilu menyertainya.
"Dari dulu, aku ingin seorang putri. Dan kini, kita di anugrahi seorang cucu perempuan dengan cara yang sangat mengerikan.
Apa yang harus kita lakukan, mas? Buanglah ego dan harga dirimu demi kebahagiaan Daniel sebagai putra sulungmu yang telah dititipkan oleh mendiang ibunya.".
Sundari benar.
Meski Daniel bukan anak yang terlahir dari rahimnya, namun tak dapat Ndari pungkiri bahwa ia sangat menyayangi Daniel.
Keseharian mereka adalah hidup bersama dengan Ndari yang banyak mengurus Daniel dengan baik.
Lantas, bagaimana mungkin Ndari tak memiliki kasih sayang untuk Daniel?
Hening sesaat.
"Baiklah.....
Aku memutuskan untuk merendah di hadapan tuan Adi Prama, demi bisa mendapatkan maafnya untuk kita, terutama Daniel.
Ku harap, mereka meluaskan hati untuk mempersatukan Daniel dengan Dita, Aku janji akan hal itu. Semoga masih bisa di perbaiki."
*********
__ADS_1
Hanum tenggelam dalam lelapnya. Sekalipun Kara mengguncang-guncang tubuhnya agar segera terbangun, Nyatanya, Hanum masih tetap larut dalam dunia mimpinya.
Maka, ia tak memiliki pilihan lain selain menggendong istrinya untuk masuk ke dalam rumah.
Kara menghembuskan nafas kasar.
Sungguh sangat melelahkan hari ini, pikirnya.
Dengan pelan dan penuh rasa hati-hati, Kara menggendong Hanum menuju kamarnya.
Saat tiba di dalam, saat lewat Kara tak sengaja bertemu dengan mamanya di ruang keluarga.
"Kara? Istrimu tertidur?".
Kara hanya mengangguk, tak mau menjawab. Ia khawatir istri cantik nya ini akan terusik dengan percakapannya dengan ibunya.
"Ku sarankan agar kau tak mengusik tidurnya di malam yang telah larut ini, nak. Kurasa ia cukup letih bila harus melayani nafsumu yang seperti kuda liar itu".
Jelita terkekeh kemudian berlalu pergi. Dalam hati, Jelita memang suka menggoda putranya habis-habisan.
Maka, Kara hanya bisa diam dan menahan rasa jengkelnya.
Biarlah, besok ia akan membuat perhitungan pada ibunya itu.
Setelah pintu kamar ia raih dengan sebelah tangannya, pintunya itu terbuka dan kara segera menutupnya dengan sebelah kakinya.
Tepat saat ia membaringkan Hanum, Ponselnya berdering nyaring.
Nama Aluna tertera di sana.
Kara mengernyitkan dahinya, Luna menelpon? Selarut ini?
Pastilah di desa tidak sedang baik-baik saja.
Kara kemudian menjauh dari ranjang, berniat mengangkat telepon adiknya di balkon kamar agar tak mengusik lelap istrinya.
"Halo, Luna? Apa yang terjadi? Mengapa menelepon malam-malam?".
"Mas. Bisakah segera ke desa? Opa ...
Keadaan opa sedang tidak baik-baik saja.
Ku mohon secepatnya".
"Tapi malam telah larut".
"Datanglah, mas.... aku mohon".
"Apa yang sebenarnya terjadi?".
"Opa memanggil-manggil nama papa. Ku mohon..... Kata dokter yang menangani, opa sedang kritis keadaannya".
"Baiklah, mas akan panggil papa."
Maka, Kara akan memutuskan kan ke desa dengan Radhi, malam ini juga.
🍁🌻🌻🌻🍁
__ADS_1